Senin, 18 Mei 2009

Yesus sebagai Guru

Mateus Pengarang Injil melihat Yesus terutama sebagai seorang Guru. Ia mengelompokkan sabda Yesus dalam lima pengajaran yang panjang dan menyusunnya secara indah. Kelima pengajaran ini mau menunjuk kepada Lima Kitab Musa, dengan demikian Yesus dilihat sebagai Musa baru yang memberi pengajaran baru.
PengajaranNya yang terbesar dan juga yang paling terkenal adalah apa yang disebut sebagai Kotbah di Bukit (Mat 5.1-7.29), seperti Musa, Yesus naik ke atas bukit. ”dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya kepadaNya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka” (Mat 5.1-2). Rabi-rabi Yahudi biasa duduk sementara mereka mengajar. Duduk adalah suatu sikap beristirahat. Orang Yahudi berbicara tentang kursi pengajaran, kursi Musa, tempat para rabbi duduk mengajar. Tetapi Yesus mengecam mereka karena mereka mengajar dan tidak melaksanakannya dan mereka menutup Kerajaan Sorga bagi orang lain dengan mengedepankan hukum (Mat 23.13). Ketika Yesus duduk mengajar, Yesus memperlihatkan bahwa Ia duduk pada Kursi Allah, bahwa Ia mendasarkan pengajaranNya pada Allah dan mengajar dengan kuasa ilahi. Itulah sebabnya sesudah para pendengarNya mendengar pengajaranNya, dikisahkan dalam Injil “… takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka” (Mat 7.28-29).
Yesus memulai ajaranNya dengan Sabda Bahagia “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah mereka yang berduka cita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5.3f). Awal pengajaran ini sendiri sudah menunjukkan bahwa Yesus sangat berbeda dengan guru-guru lain. Dia tidak mulai dengan menyerukan perintah-perintah dan larangan-larangan. Dia tidak membeberkan suatu ajaran teologi yang baru, suatu system ajaran tentang Allah dan manusia, melainkan Ia menjanjikan keselamatan Allah bagi manusia. Dia mengangkat mereka dengan ajaranNya. Dia membesarkan hati mereka. Dia berbicara langsung ke hati. Mereka disentuh dan digerakkan. Ketika mereka mendengar Yesus, mereka merasa seperti diangkat, dibebaskan, diterima. Mereka disadarkan bahwa diri mereka berharga. Dan dalam pengajaran Yesus mereka mengalami Allah sebagai Allah yang menghendaki keselamatan mereka, Allah yang menjanjikan hiburan dan harapan. Allah bukanlah pertama-tama Allah yang menuntut, tapi Allah yang memberi. Dia memberi manusia suatu cara atau jalan baru untuk hidup, suatu jalan yang akan menyembuhkan keretakan yang terjadi dalam masyarakat manusia. Syarat yang mendasar dari semua pengajaran adalah bahwa kita harus tahu siapa diri kita. Dalam Kotbah di Bukit Yesus mengajarkan bahwa kita adalah putra-putri Allah.
Kotbah di Bukit adalah perincian dari doa Bapa Kami. Doa itu terletak persis di tengah-tengah dari Kotbah di Bukit. Pengajaran-pengajaran Yesus dalam Kotbah di Bukit menjelaskan apa yang kita doakan. Yesus menunjukkan bagaimana hidup kita yang berdoa mengalami Allah sebagai Bapa kita.
Permohonan pertama: “Dikuduskanlah namaMu” dijelaskan dalam Sabda Bahagia. Nama Allah dimuliakan, Allah dibuat nyata dalam kekudusanNya ketika umat manusia menjadi sehat dan utuh, ketika mereka mengalami kebahagiaan. Permohonan “Datanglah kerajaanMu” dijelaskan dalam ajaran tentang garam dan terang dunia (Mat 5.13-16). Kerajaan Allah menjadi kelihatan di atas bumi melalui hidup dan tingkah laku para murid. Selanjutnya dalam enam antitesis (Mat 5.21-48) Yesus menjelaskan kehendak Allah seperti yang sejak awal mula dikehendakiNya, yakni bila para murid menunjukkan cara hidup yang baru ini, kehendak Allah sungguh terlaksana bukan hanya di sorga tetapi juga di atas bumi. Permohonan tentang makanan yang secukupnya kemudian dijelaskan dengan menunjukkan soal berpuasa, memberi sedekah dan berdoa, dan seruan untuk tidak kuatir tetapi mempercayakan diri sepenuhnya dalam tangan rahmat Allah (Mat 6.1-34). Permohonan untuk pengampunan dosa memiliki kesejajaran dengan nasehat Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat 7.1). Dan permohonan supaya Allah jangan memasukkan kita ke dalam pencobaan tetapi membebaskan kita dari yang jahat, diuraikan dalam keterangan tentang nabi-nabi palsu yang menyesatkan kita (Mat 7.15-23). Sesungguhnya godaan bukanlah soal bahawa kita dikuasai oleh kekeliruan-kekeliruan dan kelemahan kita tetapi lebih merupakan kebingungan yang membuat kita tidak lagi tahu apa yang kita lakukan, dimana pikiran-pikiran dan perasaan kita semua tercampur aduk dan kita menjadi jauh dari Allah.
Jika kita memahami pengajaran agung dari Kotbah di Bukit ini sebagai penjabaran dari doa Bapa Kami, kita akan sadar bagaimana Yesus memahami ajaranNya ini sebagai yang pokok. Dia tidak menyampaikan ajaranNya yang terdiri dari perintah-perintah yang harus kita turuti. Namun ajaranNya juga bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh tanpa ada konsekuensi bagi hidup kita. Tetapi ia mengandaikan suatu pengalaman baru, pengalaman bahwa kita adalah anak-anak Allah. Berdoa Bapa Kami dimaksudkan untuk menuntun kita kepada pengalaman baru ini.
Doa membawa kita masuk ke kedalaman diri kita. Doa menjadi kesempatan kita mengalami Kristus sebagai Guru kita yang sejati. Bagi St. Agustinus, kesadaran ini membawa dia ke pemahaman tentang Yesus sebagai Guru batiniah. Ketika suatu kesadaran muncul dalam diri kita, kesadaran ini tidak disampaikan oleh guru dari luar tetapi oleh Kristus, Guru batiniah kita: ‘Kita mencari Guru itu, yang telah ditunjukkan dalam sabda Kitab Suci, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta mendasar di dalam kasih (Ef 3.18) sebagaimana kuasa Allah yang tak berubah dan kebijaksanaanNya yang abadi’ (St. Agustinus, De magistro 11.38). Menanggapi latar belakang dari kata-kata St. Agustinus ini, seorang teolog, Eugen Biser menulis sebuah buku yang berjudul The Inner Teacher. Yesus ada di dalam kita. AjaranNya bukanlah suatu system doctrinal, suatu rumusan kata-kata yang dapat diperdebatkan. Guru batiniah tidak memerlukan pembetulan dan bukan pula ajaran yang kaku tetapi suatu kesediaan untuk mendengar dorongan-dorongan dari dalam diri kita. Di situlah, di dalam hati kita, Yesus tinggal sebagai seorang Guru. Yesus sebagai Guru batiniah membuat kita ambil bagian dalam pengalamanNya sendiri, dalam apa yang Ia rasakan dan dalam apa yang Ia ketahui. Dia membuka mata kita untuk melihat apa yang Ia lihat.
Apakah Anda mempunyai hubungan dengan Guru batiniah Anda? Apakah Anda mendengar “suara di dalam” yang menunjukkan jalan bagi Anda? Apa yang Yesus, guru batiniah Anda ingin ajarkan kepada Anda?Kesadaran baru apa yang muncul bagi hidup dan diri Anda, tentang Allah dan sesama, ketika Anda memandang Yesus sebagai Guru?
Bacalah Kotbah di Bukit sekali lagi dan meditasikan sabda Yesus!

Banjarmasin, 30 Mei 2008.
Dikutip dari Anselm GrĂ¼n, Images of Jesus, p 127-129

Tidak ada komentar: