Senin, 18 Mei 2009

"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 2

«Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.(1 Kor 9:16-23)»


Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh[1]

Paulus menggunakan banyak kiasan untuk menggambarkan kodrat dan fungsi Gereja dan hubungan antara Kristus dengan Gereja,[2] tetapi tidak satu pun diantara kiasan-kiasan itu yang sungguh-sungguh dapat membawa ide ini. Mungkin, yang paling sering dipakai, kiasan “Tubuh Kristus,” secara teologis, tidak dapat diragukan lagi sebagai yang paling penting, yang paling tepat, yang paling indah dan yang paling berkembang. Yang lebih penting lagi, kiasan ini mengungkapkan secara paling jelas kesatuan mesra antara Kristus dengan umat beriman dan relasi khusus antara kegiatan Kristus yang tidak kelihatan dan kegiatan Gereja yang kelihatan.
Pius XII dalam Mystici Corporis, sebuah dokumen yang mengembangkan banyak kiasan-kiasan Paulus, menggunakan ungkapan “Tubuh Mistik” untuk menggambarkan Gereja: “Jika kita harus mendefinisikan dan menggambarkan Gereja Yesus Kristus yang benar – yang adalah satu, kudus, katolik, apostolik dan Gereja Roma – kita tidak akan menemukan yang lain yang lebih agung, lebih luhur dan ilahi daripada ungkapan “Tubuh Mistik Kristus” – suatu ungkapan yang memancar keluar, sebagaimana sejak dulu suatu ajaran yang selalu berulang dari Kitab Suci dan Bapa-bapa Paus.”[3]
Ajaran Gereja, sebagai Tubuh Kristus, secara khas milik Paulus, tetapi ungkapan persis “Tubuh Mistik Kristus” tidak ditemukan di dalam surat-suratnya. Hal ini muncul dalam tradisi Bapa-bapa Gereja.[4]
Umat di Korintus menanyakan kepada Paulus banyak hal,[5] satu diantaranya berkaitan dengan karunia-karunia rohani. Umat Kristen di Korintus belum sepenuhnya melepaskan mentalitas mereka yang dulu sebelum mereka menjadi percaya baik dalam hal menggunaan karisma maupun dalam menilainya. Daripada mengingini “karunia-karunia yang utama”[6] yang sangat menyumbang bagi kemajuan rohani Gereja, mereka lebih bersemangat memperoleh karunia bahasa lidah, yang lebih nyata dan lebih berkesan, sebab mereka dapat berbicara dalam berbagai bahasa dalam keadaan ekstasi. Karunia seperti ini mirip dengan suasana hingar-bingar dari rasa sukacita yang biasanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan para pengikut Dionisius.[7] Para dukun mereka biasa masuk dalam keadaan kerasukan sambil berteriak-teriak yang kata-katanya tidak dapat dipahami; mereka seperti kehilangan daya nalar dan kadang sampai tidak sadarkan diri, dibawah kekuatan roh jahat atau sebagai akibat dari histeris mereka.
Keadaan ekstasi yang disebabkan oleh Roh Kudus secara mendalam berbeda. Pada kenyataannya tidaklah mungkin bahwa Allah dapat menyebabkan kekacauan dan tingkahlaku yang aneh-aneh atau yang memperkosa kebebasan manusia.
Paulus mengingatkan bahwa kejadian-kejadian yang terjadi di Korintus diragukan keasliannya: “Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.”[8] Karunia bahasa lidah memberikan ilusi dan kualitas mistik yang dicari oleh mereka yang menderita sifat sombong. Karena itu Paulus harus memperbaiki pikiran-pikiran yang keliru dari umat di Korintus.
Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengajar mereka dengan tepat tentang karunia-karunia Roh, Paulus mengajukan prinsip bagaimana membedakan apakah inspirasi datang dari Allah atau bukan – pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan.[9] Dalam kaitan dengan hal ini, ia menunjukkan bahwa mereka yang tidak percaya menganggap ekstasi mereka berasal dari keberagaman dewa-dewa, orang-orang Kristen sebaliknya harus memahami bahwa banyak karisma dari Gereja tidak berasal dari hal demikian; mereka adalah karya dari “Roh yang satu dan sama,” dan dari “Tuhan yang satu dan sama,”[10] yang membagi-bagikan karunia-Nya sesuai kehendak-Nya demi kebaikan umum.[11]
Komunitas pengikut Kristus adalah seperti tubuh manusia, tempat keberagaman anggota-anggotanya secara istimewa dibangun dalam satu kesatuan dari Pribadi Kristus.
Yang berikut ini adalah refleksi Paulus – salah satu yang paling indah dalam semua surat-suratnya – atas kiasan tubuh yang diterapkan pada Gereja. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.
Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”[12]
Sebagai kesimpulan, Paulus mendorong umat Korintus dengan bersungguh-sungguh merindukan karunia-karunia yang utama, yang terbesar diantaranya adalah kasih.[13]
Seperti yang disebutkan tadi, Paulus melihat keberagaman karunia adalah hal yang lumrah. Setiap karunia menunjuk pada kenyataan bahwa setiap anggota Gereja memiliki peran khusus yang dipercayakan Allah. Beberapa sebagai rasul, yang lain sebagai nabi, dan yang lain lagi sebagai pengajar; ada pembuat mujizat, penolong, pemimpin atau berkata-kata dalam bahasa Roh.[14]
Jika kesatuan diantara umat beriman belum nyata, hal ini hanya dapat dicari penyebabnya dalam perwujudannya yang lebih besar bahwa “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”[15]
Karena semua karunia berasal dari “Roh yang sama” dan semua dimaksudkan untuk kesejahteraan Gereja, maka mereka yang menerima karunia yang paling rendah tidak boleh merasa tidak puas apalagi iri terhadap mereka yang menerima karunia yang lebih tinggi. Demikian juga mereka yang menerima karunia yang lebih besar tidak boleh memandang rendah mereka yang menerima yang lebih rendah.
Tubuh tidak bisa disamakan dengan salah satu anggota manapun secara khusus tidak juga dengan anggota yang tampaknya paling penting seperti tangan atau mata. Menurut kebutuhan, tidak ada satu bagian dari tubuh manusia yang dapat menuntut sebagai bagian yang paling penting sendiri, sebab hidup tidak terletak dalam organ tertentu, tetapi di dalam semua anggota sebagai satu kesatuan secara menyeluruh. Maka tiap anggota harus ambil bagian secara aktif dalam suatu tindakan yang paling sederhana sekalipun yang memberi kehidupan kepada tubuh, meskipun tindakan itu tidak dilakukan dengan cara yang sama, tetapi tetap berdasarkan pada peran dan tatanan tiap-tiap anggota.
Maka, mata tidak dapat menganggap berbuat lebih jika dibandingkan tangan hanya karena ia mengerjakan sebuah fungsi yang lebih mulia; sama halnya dengan kepala tidak dapat dikatakan lebih penting jika dibandingkan dengan kaki. Semua anggota adalah perlu untuk kehidupan seluruh tubuh, “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” Hal yang sama berlaku juga terhadap anggota-anggota yang kita kira kurang terhormat atau kurang elok; mengenai hal ini kita yakin, kita memberikan kepada mereka penghormatan khusus, memperlakukan mereka dengan kasih dan dengan perhatian khusus.[16] Misalnya, perut selalu mendapat kehormatan didandani dengan pakaian dan anggota-anggota yang paling tidak elok dilindungi dengan kesopanan sebagai imbalan dari tata sopan santun yang pantas, yang menurut St. Agustinus: “Kesopanan memulihkan apa yang dilecehkan oleh keinginan daging.”[17]
Dalam pengetahuan-Nya yang tidak terbatas, Allah sendiri membuat tubuh manusia sedemikian rupa untuk memberi perhormatan yang lebih besar kepada bagian-bagian yang lebih rendah. Dia juga menetapkan bahwa tidak hanya ada keselarasan diantara berbagai anggota tetapi juga kesalingtergantungan satu sama lain. Dengan bekerjasama dengan cara ini, seluruh tubuh terpelihara dan berkembang.[18]
Jika setiap anggota diperlukan demi hidup tubuh, maka setiap keputusan anggota untuk memberi atau menarik sumbangannya adalah sangat penting. Kenyataannya, penolakan tanggungjawab satu anggota menyebabkan suatu beban yang semakin besar bagi anggota-anggota lain, sementara kerjasama dari tiap anggota demi hidup tubuh, walau sekecil apapun, membawa keuntungan bagi seluruh anggota: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”[19]
St. Agustinus yang mengomentari pikiran Paulus ini menulis: “Saudara-saudara, perhatikanlah bagian-bagian tubuh dan lihat bagaimana masing-masing memiliki fungsinya. Mata melihat, tapi tidak mendengar; telinga mendengar tetapi tidak melihat; kaki melangkah tapi tidak mendengar, atau melihat atau bekerja keras sebagaimana tangan. Jadi tubuh membentuk kesatuan dan bagian-bagian sehat dan harmonis di antara mereka, telinga melihat dengan pertolongan mata dan mata mendengar dengan pertolongan telinga. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa telinga karena tidak dapat melihat lalu mengatakan: ‘kamu tidak berarti, kamu lebih rendah, kamu tidak seperti mata yang bisa membedakan warna? Demi kedamaian pada tubuh, telinga akan menjawab: saya berada di mana mata juga berada, kami berbagi tubuh yang satu dan sama, dalam diri saya sendiri saya tidak memiliki kemampuan melihat, saya melihat karena saya disatukan dengan yang memiliki fungsi itu.’ Dengan cara yang sama, telinga akan berkata: ‘Mata melihat untuk saya,’ mata akan berkata: ‘Telinga mendengar untuk saya.’ Keduanya juga akan berkata: ‘Tangan bekerja untuk kami;’ dan tangan berkata: ‘Mata dan telinga melihat dan mendengar untuk saya.’ Lalu mata, telinga dan tangan berkata: ‘Kaki melangkah untuk kita.’
Ketika berbagai anggota melaksanakan kegiatan mereka dalam tubuh yang sama, jika tubuh sehat dan semua anggota selaras, semua menikmati dan setiap anggota bergembira atas yang lain. Jika satu anggota menderita, anggota yang lain tidak tanpa terpengaruh; semua menanggung sakit yang sama.
Misalnya kaki. Mereka ada di tubuh, katakanlah, jauh dari mata. Kenyataannya memang mata menjadi bagian yang paling tinggi dari tubuh dan kaki yang paling rendah. Tetapi jika kebetulan kaki menginjak duri, bukankah mata akan memberi perhatian atas apa yang terjadi? Bukankah seluruh tubuh akan bereaksi berhenti seketika, duduk dan membungkuk untuk menemukan duri tadi yang hanya menusuk kaki saja? Seluruh bagian akan melakukan yang terbaik untuk menarik duri yang menusuk bagian tubuh yang paling rendah dan yang paling tidak berarti dari tubuh.
St. Agustinus melanjutkan mengomentari 1 Kor 12:12-27: “Demikian juga, saudara-saudara, jika satu anggota dari Tubuh Kristus tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang dari mati, anggota tersebut tidak harus bersikeras untuk itu. Dia hanya perlu menjaga agar tidak terpisah dari Tubuh, sebagaimana telinga yang dituntut untuk melihat. Sebenarnya ia tidak akan pernah mampu berfungsi sebagaimana yang tidak dimaksudkan untuk dia. Saya harap ada yang berkeberatan: ‘Jika kamu orang yang logis, kamu akan membangkitkan orang mati seperti yang diperbuat Petrus.’ Kenyataannya, semua tahu bahwa Para Rasul melakukan pekerjaan-pekerjaan lebih besar dari Tuhan sendiri, karena Kristus. Tetapi bagaimana dapat terjadi cabang-cabang dapat menyelesaikan hal-hal yang lebih besar dari pokoknya sendiri? Dan apa ukurannya bahwa satu perbuatan lebih besar dari yang lainnya? Inilah jawabannya. Orang mati bangkit begitu dipanggil Tuhan; ketika Petrus lewat, bayang-bayangnya jatuh pada orang yang tadinya mati lalu hidup. Kejadian ini dilihat sebagai lebih besar dari pada yang pertama, tetapi Kristus melakukan mukjizat tanpa campur tangan Petrus. Petrus sendiri tidak memiliki kemampuan itu jika tidak karena Kristus.
Tuhan mengatakan: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.’ Benar. Jika seorang yang tidak percaya atau orang yang sedikit tahu tentang sabdaNya mengajukan pertanyaan, mengapa orang-orang Kristen tidak dapat membangkitkan orang mati sebagaimana yang dilakukan Petrus? Seorang Kristen yang matang, jika ia berusaha menjadi satu dengan Kristus, akan menjawab ‘Kalian mengecam saya seakan saya tidak logis karena saya tidak melakukan mukjizat. Dapatkah kamu mengatakan kepada mata bahwa ia tidak termasuk bagian dari tubuh kalau ia tidak memiliki kemampuan untuk melihat?’ Jika mereka mendesak, katakanlah: ‘Haruskah kamu melakukan hal yang sama seperti Petrus lakukan?’ Kebalikannya benar! Petrus melakukan itu dalam nama Kristus. Sejak semula saya menjadi bagian dari Tubuh sebagaimana Petrus, dalam kesatuan dengan Tubuh yang sama, saya mampu melakukan apa yang ia lakukan, jika saya tetap bersatu dengan Tubuh. Tetapi jika saya berarti sedikit saja dari diri saya, Kristus turun kepada saya dalam kerendahan saya, dan saya bersukacita dalam keagunganNya.”
Dalam kesimpulannya, St. Agustinus melihat pertanyaan yang diajukan Yesus kepada Saulus dalam perjalanan ke Damsyik[20] sebagai bukti bahwa Kristus dan Gereja adalah satu: “Tuhan kita berseru dari sorga atas nama Tubuh-Nya: ‘Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?’ Tak seorang pun menyentuh diri-Nya secara pribadi, tetapi sang Kepala berteriak dari sorga atas nama Tubuh-Nya yang menderita di bumi.”[21]
Kenyataannya Saulus tidak menganiaya Pribadi Kristus yang tidak pernah dikenalnya “dalam daging,” karena pada waktu itu Yesus sudah bangkit dari mati, karena itu sudah tidak tampak lagi. Paulus mencari untuk memenjarakan orang-orang Kristen yang dapat dilihatnya.
Dua konsep yang saling melengkapi menjadi inti dari pemikiran Paulus: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. […] Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”[22]
Mengomentari kutipan ini St. Yohanes Krisostomus menulis: “’demikian pula Kristus.’ Ia seharusnya mengatakan, ‘demikian pula Gereja,’ […] Menggantikan nama ‘Kristus’ menjadi nama ‘Gereja’ […] Dengan mengganti kata untuk ‘Gereja’ dengan nama Kristus, ia memaksudkan: ‘Demikian pula Tubuh Kristus, yang adalah Gereja.’”[23] Secara sederhana St. Yohanes Krisostomus mau menggarisbawahi bahwa, dalam arti tertentu, Kristus dan Gereja adalah dua istilah yang dapat saling menggantikan.
Paulus tidak pernah menyebut pribadi tertentu sebagai “tubuh” atau “Tubuh Kristus.”[24] Obyek dari kiasan tentang Tubuh selalu dimaksud komunitas Kristen, baik dalam arti Gereja lokal,[25] atau Gereja universal, baik secara implisit[26] atau secara eksplisit.[27]
Kiasan ini diterapkan pada komunitas Kristen yang sudah memiliki struktur yang jelas dengan para pemimpin dan pengikut, dengan berbagai tugas,[28] singkatnya, sesuatu yang jelas dan dapat dilihat, sebagaimana yang diungkapkan dengan kata “tubuh”.
Ciri dinamis dari penerapan kiasan tubuh ini pantas mendapat tekanan. Kenyataannya, Paulus memikirkan sebuah keberfungsian tubuh dengan anggota-angotanya, sebuah tubuh yang bertumbuh dan berkembang.[29] Tradisi selalu menggunakan bahasa kiasan.[30]
Dalam surat kepada jemaat di Korintus perbandingan dibuat antara tubuh fisik kita dengan Kristus,[31] sementara dalam surat kepada jemaat di Roma perbandingannya adalah antara tubuh fisik kita, suatu kesatuan dengan bagian-bagian yang berfungsi, dan komunitas Kristen, suatu kesatuan dalam keberagamannya.[32]
Kiasan tentang “Gereja, Tubuh Kristus,”[33] secara implisit memuat gagasan bahwa misi Gereja adalah sama seperti tubuh fisik Kristus.
Tubuh fisik Kristus adalah sarana Penebusan. Sang Sabda membutuhkan tubuh, lahir dari Perawan Maria, untuk mewujudkan kegiatan ilahinya di bumi, artinya, tubuhnya memungkinkan Dia berkarya dengan cara kelihatan dan secara terbuka menggunakan indra-indra manusiawi.
Secara yang sama dapat dikatakan juga tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam relasi dengan Penyelamat. Gereja, dari dirinya sendiri secara intim bersatu dengan-Nya dan menjadi milik-Nya, persis sama seperti tubuh fisik-Nya.[34] Gereja juga menampilkan alat yang kelihatan yang dipakai Kristus, yang sekarang mulia dan tidak kelihatan, terus berkomunikasi dengan umat manusia di dunia, sebagaimana yang telah Ia lakukan dulu ketika Ia berkeliling dengan tubuh fisik-Nya di kota-kota dan desa di Palestina. Inilah misi agung Gereja: menghadirkan karya Kristus yang sama dan tetap hadir, “satu-satunya Penyelamat,”[35] kepada semua orang di segala jaman. Arti dari kiasan “Tubuh Kristus” mencakup kesatuan Gereja dengan Kristus secara ontologis dan sekaligus secara organis.
Kegiatan Komunitas, bukan secara individu, menjadikan Gereja “Tubuh Kristus.” Tindakan seorang Kristen secara pribadi hanya dapat menambah kegiatan komunitas Gereja, seperti Paulus, dengan menunjuk pada dirinya sendiri, dengan jelas menyatakan: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”[36]
Tindakan yang paling agung yang dapat dikerjakan oleh Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah Liturgi, yang adalah tindakan pengantara satu dan sama dari Kristus. “Maka memang sewajarnya juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu setiap perayaan liturgis, sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.”[37]
Maka, Gereja bukanlah pengantara yang lain; Gereja selalu berarti Kristus, pengantara satu-satunya. Dalam hakekat liturgi, karya yang tidak dapat dilihat dari Kristus sang Imam diwujudnyatakan dalam cara yang kelihatan bagi seluruh dunia untuk melihatnya.
Mystici Corporis menyatakan bahwa Gereja memiliki setiap cara yang perlu untuk penyucian: “Sekarang kita melihat bahwa tubuh manusia dilengkapi dengan sarana-sarana yang pas untuk mencukupi hidupnya sendiri, untuk kesehatan dan pertumbuhannya, dan untuk semua anggota-anggotanya. Demikian juga, Sang Penyelamat umat manusia, mengalir dari kebaikan-Nya yang tak terbatas, telah menyediakan dengan cara yang luar biasa untuk Tubuh Mistik-Nya, memberkatinya dengan Sakramen-sakramen, sehingga seakan-akan oleh berkat-berkat yang tanpa putus, anggota-anggotanya dapat ditopang selama hidupnya, dan bahwa suatu persediaan yang murah hati dapat dilakukan untuk kebutuhan-kebutuhan sosial Gereja.”[38]
Bila imam-imam merayakan Sakramen-sakramen dan melaksanakan tugas suci mereka dalam ibadat secara umum, mereka bertindak “atas nama Kristus.”[39] Dalam kaitannya dengan hal ini, St. Agustinus dengan tepat mengamati: “Petrus memang membaptis, tetapi sesungghnya Dialah (Kristus) yang membaptis; Paulus memang membaptis tetapi tetap Kristuslah yang membaptis; Yudas memang membaptis, tetap Kristus jugalah yang membaptis.”[40]
Tindakan Gereja sebagai Tubuh Kristus disadari juga melalui penggembalaan dan ajaran resmi para uskup, yang menjadi alat yang kelihatan dari Kristus yang mengajar dan menuntun umat. “Para Uskup secara mulia dan kelihatan mengemban peran Kristus sebagai Guru, Gembala dan Imam Agung, dan bertindak atas nama-Nya.”[41]
St. Agustinus mencatat perbedaan antara mereka yang melihat dan menyentuh dengan tangan mereka “Sabda Kehidupan”[42] dengan pengikut-pengikut Kristus sepanjang sejarah, yang merupakan Gereja: “Para murid tidak juga melihat Gereja yang tersebar diantara semua bangsa, mulai dari Yerusalem; hal ini masih belum mereka lihat. Mereka melihat sang Kepala dan mereka percaya akan apa yang Kepala katakana tentang Tubuh-Nya (Gereja). Melalui apa yang mereka lihat, mereka percaya akan apa yang belum mereka lihat. Kita sama seperti mereka; kita melihat apa yang belum mereka lihat, kita tidak melihat apa yang mereka lihat. Apa yang kita lihat yang mereka tidak lihat? Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Apa yang kita tidak lihat apa yang mereka lihat? Kristus dalam daging. Sama seperti mereka melihat-Nya dan percaya akan Tubuh-Nya, demikian juga kita melihat Tubuh-Nya dan percaya akan sang Kepala. Apa yang mereka lihat dan apa yang sekarang kita lihat saling mendukung. Itu adalah sebuah pertolongan bagi mereka yang telah melihat Kristus, dan lalu mereka mampu percaya kepada Gereja di masa depan. Hal ini juga membantu kita untuk melihat Gereja, sehingga kita percaya bahwa Kristus telah bangkit. Iman mereka terpenuhi berkenaan dengan Kepala; iman kita terpenuhi berkenaan dengan Tubuh. Dengan cara ini keseluruhan Kristus dinyatakan. Akan tetapi mereka tidak melihat-Nya secara utuh, kita juga tidak. Mereka melihat Kepala dan mereka percaya akan Tubuh; kita melihat Tubuh dan percaya akan Kepala. Namun, Kristus tidak kurang untuk siapapun; Dia sepenuhnya hadir dalam semua, sementara Ia masih memiliki sebuah Tubuh.”[43]


[1] 1 Kor 2:20; lih. 110:17; 2:12.
[2] Paulus juga memakai kiasan atau perbandingan lainnya, yang beberapa diantaranya cukup dikembangkan dan yang lain hanya disebut sekilas saja. Diantara yang dikembangkan antara lain: sebuah bangunan (lih. Ef 2:19-22), mempelai (lih. Ef 5:22-32), surat Kristus (lih. 2 Kor 3:2-3) dan yang hanya disebut sekilas antara lain: sebuah “keluarga” (lih. Ef 2:9-19); Gal 6:10; Ibr 3:6); sebuah “ladang” yang dikerjakan (lih. 1 Kor 3:6-9); sebuah “pohoh zaitun” dengan akarnya yang kudus dan batang yang terberkati, yang padanya orang-orang yang belum percaya telah dicangkokkan sebagai cabang yang muda (lih. Rom 11:16-24); sebuah “persemakmuran” (lih. Ef 2:12-9); “Kerajaan Allah” (lih. Kis 20:28; 1 Kor 15:24; Kol 1:13; 4:1; 1 Tes 2:12). Paulus juga melihat Gereja sebagai “manusia baru” (lih. Ef 2:15); ide ini didasarkan pada gambaran dasariah dari manusia yang adalah sebuah “ciptaan baru dalam Kristus” (2 Kor 5:17; lih. Kol 3:9; Gal 6:15).
[3] Pius XII, Mystici Corporis, 13. Pius XII menggunakan ungkapan yang kuat untuk menggambarkan ikatan antara Kristus dan Gereja, misalnya: “Penyelamat kita sendiri menopang secara ilahi masyarakat yang didirikan-Nya” (52); “Penyelamat Ilahi dan masyarakat yang adalah Tubuh-Nya membentuk hanya satu pribadi mistik, yakni seperti yang dikutip Agustinus, “keseluruhan Kristus” (Expositions on the Psalms,XVII, 51 dan XC, II.1)” (67). Mengomentari ungkapan dari St. Agustinus, Bapa Suci menyatakan: “Kristus dan Gereja, yang di sini dibawah sebagai Kristus yang lain memperlihatkan terus menerus diriNya, yang merupakan satu manusia baru” (77).
[4] Dalam milenium pertama, ungkapan “Tubuh Mistik Kristus” diterapkan hanya untuk Ekaristi sebagaimana yang saksikan oleh Hesychius dari Yerusalem (+450): “Kita menjadi Tubuh Kristus, ketika kita menerima Tubuh Mistik-Nya.” (Glos on the Psalms, Psalm CII.15).
Ketika sebuah diskusi muncul mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi, ungkapan yang sama diterapkan untuk Gereja, sebagaimana dinyatakan oleh Master Simon: “Dalam Sakramen Altar ada dua kenyataan: Tubuh sesungguhnya dari Kristus dan apa yang disimbolkannya, yakni Tubuh Mistik-Nya, Gereja” (Tractatus de Sacramentis Corporis et Sanguinis Domini, dalam H. Weisweiler, Maître Simon et son groupe. De sacramentis, Louvain 1937, p 27; ide yang sama diungkapkan juga pada hal 34).
Ungkapan “Tubuh Mistik” juga dimaksudkan untuk membedakan Gereja dari tubuh badaniah Kristus, yang dilahirkan oleh Perawan Maria, dan kesatuan dari para beriman dengan Kristus di dalam Tubuh yang unik ini dari semua bentuk kesatuan yang lain, baik secara fisik maupun secara moral.
Yohanes XXIII dalam Konstitusi Apostolik Humanae salutis (25 Desember 1961), dengan mana ia memanggil Konsili Vatikan 2, menggunakan ungkapan “Tubuh Mistik,” ketika ia menunjuk pada program kerja pertemuan Konsili. Paulus VI membuat banyak referensi di dalam pidato-pidatonya selama Konsili (29 September dan 4 Desember 11963; 4 September dan 21 November 1964; 14 September, 29 Oktober dan 18 November 1965); Dalam Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964, ia berbicara tentang “segi ilmiah dari Tubuh Mistik” (33).
Lumen Gentium sepenuhnya menggunakan ajaran dari Mystici Corporis (lih. No. 7; no. 8 beberapa kali mengutip ungkapan “Tubuh Mistik” pada catatan kaki); lih. Sacrosanctum Concilium, 7.
[5] Lih. 1 Kor 7:1, 25; 8:1.
[6] Lih. 1 Kor 12:31
[7] Lih. Plato, Phaedra dan Timaeus.
[8] 1 Kor 12:2.
[9] Lih. 1 Kor 12:1, 3.
[10] Lih. 1 Kor 12:4-6.
[11] Lih. 1 Kor 12:7-11.
[12] 1 Kor 12:12-30.
[13] 1 Kor 12:31; 13:1-8.
[14] Lih. 1 Kor 12:28-30.
[15] 1 Kor 12:13.
[16] Lih. 1 Kor 12:22-23.
[17] St. Agustinus, Against Julian, 4,1.
[18] Lih. 1 Kor 12:24-25.
[19] 1 Kor 12:26.
[20] Lih. Kis 9:6.
[21] St. Agustinus, Expositions on Psalms, CXXX, 6.
[22] 1 Kor 12:12, 27.
[23] St. Yohanes Krisostomus, Homily XXX; lih. St. Agustinus, Expositions on Psalms, XXX.
[24] Umat beriman biasa disebut “bagian Tubuh (Ef 4:16), atau hanya sebagai “anggota-anggota” (1 Kor 12:24; Rom 12:5; Ef 4:24) atau “anggota-anggota Kristus” (dua kali dalam 1 Kor 6:15), atau “anggota-anggota Tubuh-Nya” (Ef 5:30).
[25] Lih. 1 Kor 12:27.
[26] Lih. 1 Kor 10:17; Rom 12:5.
[27] Lih. Kol 1:18; 2:19; Ef 4:16; 5:23.
[28] Lih. 1 Kor 12:4-12; Rom 12:5; Ef 4:1-11, 16.
[29] Lih. Kol 2:19; Ef 4:15.
[30] Lih. Pius XII, Mystici Corporis, 85.
[31] Lih. 1 Kor 12:12.
[32] Lih. Rom 12:4.
[33] Kita dapat mengelompokkan dalam dua kelompok tulisan-tulisan Paulus yang menyebut “tubuh” dalam arti Gereja: yang biasanya hanya disebutnya “Tubuh” (lih. Kol 1:18; 2:19; Ef 4:16; 5:23) atau”satu Tubuh” (lih. 1 Kor 10:17; 12:13; Rom 12:5; Kol 3:15; Ef 2:16; 3:6; 4:4) dan yang lain ketika ia menyebut “Tubuh Kristus” (lih. 1 Kor 12:27; mungkin juga Kol 2:17; Ef 4:12 – dalam bentuk genetivus “milik Kristus”; Kol 1: 24; Ef 1:3; 5:30 – dengan kata ganti “nya”). Kedua kelompok ini muncul pertama kali dalam surat kepada jemaat di Korintus, yang ditulis sekitar tahun 55 M; karena itu, munculnya mereka dalam tulisan-tulisan Paulus pada jaman yang sama.
[34] Lih. 1 Kor 3:23; Gal 3:29.
[35] 1 Tim2:5; lih. Ibr 9:15; 12:24; Yoh 14:5-7.
[36] Kol 1:24.
[37] Sacrosanctum Concilium, 7.
[38] Pius XII, Mystici Corporis, 18
[39] Lumen Gentium, 28. St. Siprianus menulis: “Seorang imam mengambil tempat Kristus” (Letters, 63, 14).
[40] St. Agustinus, Tractate on the Gospel of John, 6, 7.
[41] Lumen Gentium, 21
[42] 1 Yoh 1:1.
[43] St. Agustinus, Discourses, CXVI, 6, 6.

Tidak ada komentar: