<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711</id><updated>2012-01-06T06:08:12.232-08:00</updated><title type='text'>Romo Lioe Fut Khin, MSF</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-176201972291801935</id><published>2009-06-25T18:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-25T18:19:59.195-07:00</updated><title type='text'>Kenangan dari ICCRS Event di Kkottongnae</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Konvensi Internasional ICCRS, yang bertemakan &lt;em&gt;“Love in Action”&lt;/em&gt; yang berlangsung dari tanggal 1-9 Juni di Kkottongnae, Eumsung-Gun, Chungbuk, Korea Selatan telah selesai. Saya pribadi merasa bersyukur dapat mengikuti pertemuan ini. Beberapa hal yang ingin saya bagikan kepada komunitas Pembaharuan Karismatik di Indonesia.&lt;br /&gt;Tentang Kkottongnae: ternyata ini bukan hanya nama sebuah tempat. Kkottongnae (yang berarti “desa bunga”) adalah sebuah konggregasi religius yang menyebut dirinya sebagai “Konggregasi Kkottongnae Saudara-Saudari Yesus.” Anggota mereka sekarang lebih dari 300 orang, terdiri dari bruder, suster dan imam (baru ada 5). Mereka sudah membuka cabang di beberapa tempat. Di Korea sendiri terdapat 4 komunitas, beberapa di luar negeri termasuk Benglades, Angola dan beberapa komunitas di Amerika Serikat. Pendirinya adalah Romo Yohanes Oh yang mendapat inspirasi dari pribadi seorang pengemis Kakek Choi Gui-dong. Pada tahun 1976 Romo Oh bertemu dengan sang Pengemis ini dan kemudian ia menyaksikan bagaimana ia mengemis untuk memberi makan beberapa pengemis lainnya yang sekarat di bawah sebuah jembatan, yang tidak mampu lagi pergi mengemis. Pada waktu itu Romo Yohanes Oh menyadari “seandainya kamu punya kekuatan hanya untuk mengemis, itu pun rahmat Allah.” Dengan dana yang sangat terbatas dari sakunya sendiri, ia mulai membangun sebuah rumah sederhana untuk menampung para pengemis ini. Ia mengalami banyak tantangan dari pemerintah dan penduduk kota, karena dengan ini dikuatirkan Romo Oh akan mengundang semua pengemis dari seluruh Korea. Tapi banyak juga pihak yang memberi dukungan sehingga karya ini menjadi sebuah karya yang luar biasa, yang menampung orang-orang yang “dibuang” - mereka yang cacat, fisik dan mental, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Saya sendiri bersama teman-teman pada dua hari pertama mendapat kesempatan melayani, kerja bakti, di tempat penampungan orang-orang cacat mental. Dalam gedung bertingkat lima, terdapat lebih dari 500-an pasien. Setiap week-end atau hari libur, banyak orang terutama anak-anak muda datang sebagai tenaga sukarela membantu di komunitas ini. Romo Oh sendiri menyebut tempat mereka sebagai Sekolah Kasih, tempat orang belajar mengasih, dengan melayani mereka yang tidak berdaya. Mereka yang ikut dalam karya ini memberi kesaksian bagaimana mereka sendiri diperkaya dalam karya ini. Dengan memberi kita menerima, bahkan secara berkelimpahan.&lt;br /&gt;Selama empat hari berikutnya adalah inti dari Konvensi. Banyak pembicara memberikan pengajaran, mulai dari Kardinal Albert Vanhoye seorang ahli Kitab Suci dari Pontifical Biblical Institute di Roma yang berbicara tentang “Allah adalah Kasih.” Beliau menunjukkan masalah klasik antara karisma dan kasih serta iman dan tindakan. Dalam hal ini karisma Kkottongnae sungguh asli sesuai dengan Injil dan menjadi contoh konkrit dalam pembicaraannya. Pembicara di hari berikutnya adalah Romo Robert Faricy SJ seorang teolog dari Amerika Serikat yang berbicara mengenai Ajaran Kristen tentang Roh Kudus. Salah satu point dikatakannya bahwa Roh Kudus itu dapat dibandingan dengan underwear, yang pagi hari dipakai tapi sepanjang hari dilupakan, tapi Ia selalu menyertai kita. Hari ketiga berbicara tentang Evangelisasi. Pembicara utama adalah Jim Murphy. Sharing yang menarik adalah ketika ia masih bekerja di sebuah restoran dan pada waktu itu ia tidak pernah berbicara tentang Kristus. Beberapa tahun kemudian, sesudah ia terlibat dalam pelayanan, dia bertemu kembali dengan salah satu teman kerjanya dulu, seorang perempuan yang sudah bertobat, yang dengan bangga mengatakan ia sudah menemukan Kristus tetapi kemudian menjadi kecewa ketika Jim mengatakan bahwa sejak dulu ia sudah menemukan-Nya: “Mengapa kamu tidak pernah berbicara tentang Dia? Mengapa kau biarkan aku ketika ..., mengapa ... mengapa?” Sharingnya ditutup dengan cerita tentang &lt;em&gt;Pelican-man&lt;/em&gt;, bagaimana burung-burung pelican yang pernah mengalami pertolongan seorang pemancing membawa burung-burung yang terluka kepada si pemancing untuk disembuhkan.&lt;br /&gt;Setiap sore kelompok besar dibagi dalam tiga kelompok work-shop: &lt;em&gt;Healing, Charism&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Intercession&lt;/em&gt;. Pengajaran-pengajaran sangat memperkaya dan memberi inspirasi. Acara pokok ini ditutup dengan misa akbar, disebuah lapangan yang luas, yang menampung sekitar 50 ribu umat yang datang dari mana-mana dengan ratusan bus dan kendaraan pribadi.&lt;br /&gt;Saya melihat iman yang hidup dari umat Katolik di Korea, suatu iman yang sederhana seperti yang digambarkan dalam diri seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun yang berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mat 9:21). Peristiwa ini kita lihat ketika kita mengadakan prosesi dalam perayaan Ekaristi, umat berusaha menjamah kita para imam, bahkan banyak yang berjongkok hanya untuk dapat menjamah ujung jubah kita. Semoga terjadi menurut harapan dan keyakinan mereka.&lt;br /&gt;Iman yang luar biasa ini juga dapat kita lihat dalam diri para martir mereka. Gereja Korea dengan bangga menyebut negerinya sebagai negeri seribu martir. Ternyata ini bukan hal yang dibesar-besarkan. Dua hari terakhir para peserta dibawa berziarah ke tempat suci para Martir. Hari kedua sebelum berakhir, kelompok di bagi dalam 5 kelompok untuk berziarah ke 5 keuskupan. Kelompok kami berkunjung ke keuskupan Suwon. Pertama kami mengunjungi Juksan dimana terdapat tempat Martir Keluarga, yang pada tahun 1817 dibunuh 108 orang Katolik, berupa keluarga-keluarga katolik, orang tua dan anak-anak, termasuk mertua dan menantu – yang menurut hukum pada waktu itu tidak diperbolehkan membunuh keluarga dengan mengikutisertakan keluarga besan. Tetapi terhadap orang Katolik, Raja mengatakan: “Buatlah sesuka hatimu.” Kemudian dilanjutkan ke Mirinae tempat Santo Andreas Kim Dae Gon dimakamkan. Ia adalah imam pertama Korea, yang belajar di Macau, ditahbiskan pada tanggal 17 Agustus 1845 dan menjadi martir dengan dipenggal kepalanya pada tanggal 16 September 1946 di Seoul. Seorang bapak bernama Vincentius kemudian membawa jenazahnya ke pegunungan Mirinae, tempat orang-orang Katolik menyembunyikan diri pada masa penganiayaan, untuk dimakamkan dengan pantas.&lt;br /&gt;Pada hari terakhir kami menghadiri misa akbar di Chunjinam - Guangju, suatu tempat ziarah dimana dimakamkan 5 orang bapak awam Pendiri Gereja Katolik Korea. Memang suatu kasus yang langka dalam sejarah Gereja, di Korea iman dibawa secara spontan oleh orang Korea sendiri, kaum awam. Dimulai dari seorang cendekiawan atau “filsuf” yang mencari kebenaran, namanya: Yi Byok (1754-1785) bersama empat orang muridnya. Pencarian ini mendorong mereka berkontak dengan Peking, yang menurut pendengaran mereka bahwa ada beberapa orang Katolik telah mengalami pencerahan melalui iman yang baru. Mereka ini kemudian menyebarkan Injil di Korea selama 56 tahun dari tahun 1779 sampai tahun 1835 tanpa bantuan seorang imam pun selain kunjungan singkat dari 2 imam Cina. Mereka melakukan ini sampai kedatangan misionaris Perancis pada tahun 1836. Para awam ini mengorbankan hidup mereka demi iman mereka kepada Kristus. Karena mereka terutama mendapat tantangan dari lingkungan keluarga mereka sendiri.&lt;br /&gt;Yang berkesan juga dalam seluruh kegiatan di Kkottongnae ini adalah kebersamaan. Kita datang dari 43 negara yang berbeda-beda tetapi kita merasa dekat satu sama lain. Di sini juga saya semakin disadari bahwa gerakan pembaharuan Kharismatik bukan hanya mewujud nyata dalam komunitas tertentu saja, melainkan sangat kaya dan bisa dalam berbagai bentuk, tetapi kita semua adalah Gereja yang satu-kudus-katolik dan apostolik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya merasa beruntung selain dengan bahasa Inggris saya bisa berkomunikasi dengan bahasa Perancis. Tetapi yang menyedihkan: saya orang keturunan Cina namun tidak bisa berkomunikasi dengan peserta dari daratan Cina, karena mereka juga sulit berbahasa Inggris. Ya bagaimana lagi, orang Bangka bilang: &lt;em&gt;thong-ngin mo sit thong fan&lt;/em&gt; (artinya: orang cina tidak makan nasi cina ... jadi tidak bisa berbahasa cina). Tapi sekurang-kurangnya kami bisa saling menyapa: &lt;em&gt;saranghamnida! (I love you all)&lt;/em&gt; karena kami sudah makan nasi Korea. Puji Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin, 18 Juni 2009&lt;br /&gt;Rm. Al. Lioe Fut Khin, MSF&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-176201972291801935?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/176201972291801935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=176201972291801935' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/176201972291801935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/176201972291801935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/06/kenangan-dari-iccrs-event-di.html' title='Kenangan dari ICCRS Event di Kkottongnae'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-4630573713641553228</id><published>2009-05-18T17:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:36:30.882-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah satu Tubuh" - Bab 8-9</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.  Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku&lt;/em&gt; (Flp 1:12-20).»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “&lt;strong&gt;Kamu adalah Bait Allah&lt;/strong&gt;.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus menggunakan kiasan “bait” dan “bangunan” untuk menggambarkan kesatuan antara Kristus dan anggota-anggota dari Tubuh Mistik-Nya.&lt;br /&gt;Mula-mula, tampaknya gambaran “bait” dan “bangunan” tidak begitu tepat untuk mengungkapkan sifat kedekatan dari kesatuan, sebab gambaran-gambaran ini menunjuk pada suatu tempat dimana para beriman “hadir” maka pengandaiannya dengan itu seakan-akan sesuatu yang ada di luar dan bukan di dalam. Sedangkan kenyataannya, dengan memberi gambaran itu mau diungkapkan kesatuan yang intim diantara mereka yang membentuk bait itu dengan Allah yang tinggal di dalamnya.&lt;br /&gt;Paulus menulis dalam Surat Pertamanya kepada jemaat di Korintus: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. […] Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dan lagi: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat yang Kedua kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan: “Kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka .…’”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;St. Petrus menyatakan: “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, […] Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan “bait Roh Kudus” adalah sama dengan yang disebut sebagai “bait rohani.” Seseorang tidak dapat sungguh-sungguh sebuah bait Roh, jika ia tidak disucikan dari dalam, melalui keikutsertaan dalam kekudusan dengan Dia yang tinggal di dalam kita. Kekudusan adalah satu-satunya jaminan kesatuan yang intim diantara Kristus dengan kita.&lt;br /&gt;Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, ia sekali lagi memakai gambaran Gereja sebagai sebuah Bangunan Allah. Ia mengingatkan situasi jemaat Efesus dulu yang hina: “Bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, -- bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Pada saat yang sama ia mengingatkan mereka juga tentang rencana penyelenggaraan ilahi yang baru. Melalui rahmat Penebusan, mereka dipanggil untuk menghayati kehidupan adikodrati, sama seperti dulu diberikan kepada umat Israel dengan hak-hak yang persis sama. “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, […] untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Konsili Vatikan kedua menggarisbawahi ide tentang Gereja sebagai “satu” Umat Allah: “Namun Allah bermaksud menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya. Tetapi Ia hendak membentuk mereka menjadi umat, yang mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci. […] Kepala umat masehi itu Kristus […] Seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang gurun, sudah disebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh. 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1 dst), begitu pula Israel baru, yang berjalan dalam masa sekarang dan mencari kota yang tetap di masa mendatang (lih. Ibr 13:14), juga desebut Gereja Kristus (lih. Mat 16:18). Sebab Ia sendiri telah memperolehnya dengan darah-Nya (lih. Kis 2028), memenuhinya dengan Roh-Nya, dan melengkapinya dengan sarana-sarana yang tepat untuk mewujudkan persatuan yang nampak dan bersifat sosial. Allah memanggil untuk berhimpun mereka, yang penuh iman mengarahkan pandangan kepada Yesus, pencipta keselamatan serta dasar kesatuan dan perdamaian. Ia membentuk mereka menjadi Gereja, supaya bagi semua dan setiap orang menjadi sakramen kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paulus menulis kepada jemaat di Efesus bahwa Kristus telah menyatukan seluruh umat manusia menjadi satu umat: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,  yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat di sini bahwa ungkapan “dalam Kristus Yesus,” dipakai 34 kali dalam Surat Efesus. Hanya dalam kesatuan dengan Kristus keseluruhan Bangunan, yakni Gereja, dapat berdiri sebagai satu bagunan yang kokoh, menemukan kesatuannya dan membentuk sebuah Bait Kudus di dalam Tuhan. Semua para beriman dimasukkan ke dalam Kristus, tanpa pembedaan Yahudi dan bukan Yahudi: semuanya bersama-sama menyumbang kepada tempat tinggal Allah di dalam Roh Kudus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;«&lt;em&gt;Pejabat Agripa berkata:”Saya berkeyakinan bahwa Paulus harus dihukum pancung sebagai musuh agama.” Nero menjawab: “Kamu telah mengadili dengan benar” … Lalu Paulus diseret dengan rantai ke tempat pemancungannya, tiga mil jaraknya dari kota. … Mereka memenggal kepalanya, dekat pohon pinus, di pancuran Aquas Salvias (sekarang dikenal sebagai ‘Three Fountains’). … Jenazahnya dimakamkan di Via Otista, dua mil dari kota. … Rasul Petrus dan Paulus menemui ajalnya pada tanggal 29 Juni&lt;/em&gt; (Kisah Rasul Petrus dan Paulus yang berbahagia oleh Pseudo-Marcello, 79-80.87-88).»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “&lt;strong&gt;Kamu adalah Surat Kristus&lt;/strong&gt;.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus masing menggunakan satu kiasan lagi untuk menggambarkan Gereja – “sepucuk Surat dari Kristus.”&lt;br /&gt;Dalam Surat kedua kepada jemaat di Korintus, dalam pembicaraan tentang pembelaan dirinya melawan tuduhan musuh-musuhnya bahwa ia sombong dan tinggi hati, sebab ia sepertinya memuji dirinya sendiri&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; dan telah bertindak terlalu keras,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; menyatakan bahwa, berbeda dengan yang lain, Paulus tidak memerlukan “surat rekomendasi” bagi orang untuk menerimanya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ia menulis atas nama para diakon Febe kepada umat di Roma,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Timotius&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; dan Titus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; kepada umat di Korintus dan Onesimus kepada Filemon,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; tetapi tidak untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Rasa berbangga diri dan kesombongannya berasal dari pekerjaannya dalam pelayanan kerasulannya: “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Salah satu hasil dari pelayanannya adalah terbentuknya jemaat di Korintus. Karena alasan itu ia menulis: “Kamu adalah kebanggaanku dalam Yesus Kristus, saudara-saudara.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dia bangga karena menjalankan kerasulannya tanpa upah, kerja dengan tangannya sendiri sehingga tidak menjadi beban bagi siapa pun, apalagi bagi mereka yang telah diwartakannya Injil.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Mengenai hal ini ia menulis kepada jemaat di Korintus: “kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain dari kemegahan Paulus adalah kelemahannya: “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; dan penderitaannya: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat dirinya dikenal sebagai rasul, ia cukup menunjukkan pertobatan orang-orang Korintus dan Gereja yang didirikannya. Mereka memberi kesaksian tentang siapa dia: “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika Paulus harus membutuhkan sebuah surat rekomendasi, Paulus memiliki surat yang tertera dalam hati dan yang sungguh hidup dengan Injil. Dia menulis kepada jemaat di Korintus: “Kamu adalah surat pujian kami!” Itu sungguh surat yang istimewa, sebab ditulis “dalam hati kami.” Meskipun surat yang demikian dapat disimpan di dalam hati yang terdalam dan di tempat yang tersembunyi dalam hati, namun ia “dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang,” sebab Jemaat di Korintus “adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Sekali lagi, surat ini tidak ditulis dari dirinya sendiri tetapi ditulis “dengan Roh Allah yang hidup.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Paulus menekankan bahwa ia bertindak hanya sebagai juru tulis; surat itu bukan miliknya tetapi milik Kristus. Sebagai kesimpulan ia mengakui dengan rendah hati bahwa hanya oleh rahmat Allah ia mampu melaksanakan perannya sebagai alat yang sederhana dalam menulis surat yang Hidup, yakni, pemberitaan Injil kepada jemaat Korintus: “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berharap bahwa pesan Paulus – “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt; – dapat membuat para pembaca berhenti sejenak dan merenungkan seruannya.&lt;br /&gt;Paus Pius XII menyerukan kerinduan yang sama, ketika ia menerbitkan Ensiklik Mystici Corporis. Penyelesaian seperti ini berguna juga bagi mereka yang bukan dari kalangan Gereja, sebab “sebelum bangsa-bangsa bangkit melawan bangsa-bangsa, […] dan pertikaian dengan benih-benih dengki dan kebencian ditaburkan dimana-mana, jika menoleh kepada Gereja dan merenungkan kesatuannya yang istimewa – yang menyatukan seluruh manusia dari berbagai bangsa di dalam Kristus dalam ikatan persaudaraan – mereka akan tergerak untuk mengagumi kebersamaan dalam kasih ini, dan dengan bimbingan dan bantuan rahmat mereka akan rindu untuk ambil bagian dalam kesatuan dan kasih yang sama.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen pertama-tama harus ingat bahwa Kristus wafat “untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt; untuk memulihkan kesatuan yang pernah ada ketika umat manusia diciptakan,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; dan membuat semua bangsa “satu kawanan dan satu gembala.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus menyimpan dalam hati mereka seruan Paulus, Rasul bagi semua bangsa: “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu, […]  berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Hanya dengan cara ini orang-orang Kristen dapat “dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan diantara umat Kristen jaman ini “secara jelas bertentangan dengan kehendak Kristus, menjadi skandal bagi dunia, dan merusak alasan suci untuk mewartaan Injil kepada semua makhluk.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensikliknya Ut Unum Sint (25 Mei 1995), yang mengajak semua orang Kristen memperbaiki perpecahan di dalam agama-agama Kristen menyatakan: “Kesatuan dari semua kemanusiaan yang terpecah belah adalah kehendak Allah. Karena itu Ia mengutus Putra-Nya, supaya dengan wafat dan bangkit untuk kita Dia dapat mencurahkan bagi kita Roh Cinta kasih. Pada malam menjelang pengorbanan-Nya di salib, Yesus sendiri berdoa kepada Bapa bagi murid-murid-Nya dan bagi semua yang percaya kepada-Nya, bahwa semoga mereka bersatu, sebuah persekutuan yang hidup. Ini adalah dasar bukan saja merupakan kewajiban, tetapi juga tanggungjawab dihadapan Allah dan rencana-Nya, yang menjadi tanggungan semua yang melalui baptisan menjadi anggota dari Tubuh Kristus,  sebuah Tubuh tempat kepenuhan dari rekonsiliasi dan persekutuan terjadi. Bagaimana mungkin kita tetap terpisah, jika kita telah ‘dikubur’ melalui Baptisan dalam kematian Tuhan, yang dalam tindakan Allah telah menghancurkan tembok –tembok pemisahan melalui kematian Putera-Nya?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika tubuh manusiawi adalah kiasan dari Gereja, maka Gereja pada gilirannya harus menjadi gambaran ideal dari seluruh bangsa manusia. Semua pengikut Kristus, dengan kesaksian mereka tentang persekutuan, harus menumbuhkan kekaguman yang sama untuk jaman ini bagi orang-orang lain, sama seperti pada awal mula jemaat Kristen: “Lihatlah, betapa mereka saling mengasihi, […] bagaimana mereka bersedia bahkan mati satu bagi yang lain!”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh:&lt;br /&gt;Al. Lioe Fut Khin, MSF&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk Suster-suster SPC&lt;br /&gt;Banjarmasin, 4 Mei 2009 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; 1 Kor 3:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; 1 Kor 3:9-13, 16-17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:19; bdk. 2 Kor 6:16; Ef 2:20-22.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; 2 Kor 6:16; bdk 1 Kor 3:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; 1 Ptr 2:4-5. Seneca juga membandingkan masyarakat dengan sebuah bangunan, untuk menekankan perlunya kesatuan diantara para anggotanya: “Hubungan kita satu dengan yang lain adalah seperti sebuah bangunan, yang akan runtuh jika batu-batunya tidak saling menunjang satu sama lain, dan yang berdiri hanya demi alasan ini” (Seneca, Moral Epistle to Lucilius, XCV,53)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ef 2:11-16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lumen Gentium 9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Ef 2:19-22.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; 2 Kor 3:3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 2:6, 16; 7:8, 25, 40; 9:1-23; 11:1; 14:18; 15:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 4:18-21; 2 Kor 10:1-2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Lih. 2 Kor 3:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Lih. Rom 16:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 16:10-11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Lih. 2 Kor 8:23-24.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lih. Flm 17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; 2 Kor 1:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; 1 Kor 15:31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Lih. Kis 20:33-34; 1 Kor 4:12; 2 Kor 12:13-14; 1 Tes 2:9; 2 Tes 3:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; 2 Kor 11:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; 2 Kor 11:30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Gal 6:14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; 1 Kor 9:1-2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; 2 Kor 3:2-3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; 2 Kor 3:5-6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Rom 12:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Yoh 11:52.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Lih. Kej 11:6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Yoh 10:16; bdk. Kej 10:32; 11:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Ef 4:1-6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Rom 15:6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Unitatis Redintegratio, 1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Tertulianus, The Apology, 39.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-4630573713641553228?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/4630573713641553228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=4630573713641553228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4630573713641553228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4630573713641553228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-8-9.html' title='&quot;Kita adalah satu Tubuh&quot; - Bab 8-9'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-5851060966232071905</id><published>2009-05-18T17:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:32:37.040-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 7</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;«"Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka. Ia berkata: "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum. Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!  Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah, rohku diliputi oleh kuasa ilahi. Aku melihat Dia, yang berkata kepadaku: Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku.  Jawabku: Tuhan, mereka tahu, bahwa akulah yang pergi dari rumah ibadat yang satu ke rumah ibadat yang lain dan yang memasukkan mereka yang percaya kepada-Mu ke dalam penjara dan menyesah mereka. Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.  Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.&lt;/em&gt;"(Kis 22:1-21)»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 “&lt;strong&gt;Hai Suami Kasihilah isterimu, sebagimana Kristus Mengasihi Gereja dan telah menyerahkan diri-Nya baginya&lt;/strong&gt;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat Efesus,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; sesudah menyampaikan unsur terpenting bagi persatuan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; dan kesucian&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; dalam hidup umat Kristen Paulus menyampaikan nasehat bagi kehidupan keluarga.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama ia berbicara tentang prinsip-prinsip umum yang mengatur semua relasi dalam keluarga Kristen: “Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Kemudian dia terus menerapkan prinsip ini pada relasi yang ada diantara berbagai anggota sebuah keluarga: suami dengan isteri,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; anak-anak dengan orangtua&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; dan – pada jaman itu – para budak dengan tuan mereka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepada para isteri ia mengajarkan ketundukan kepada para suami mereka: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” Dalam Surat Kolose, Paulus menyatakan dengan ungkapan sederhana alasan dari nasehatnya ini – “sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dalam Surat Efesus, Paulus mengembangkannya lebih lanjut, dengan memperkenalkan pengajarannya tentang kesatuan Kristus dan Gereja-Nya sebagai model kesatuan yang harus ada antara suami Kristiani dengan isteri dalam perkawinan: “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Paulus, “Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh,” dipakai dalam Ensiklik Mystici Corporis demikian: “Sebab dalam kata-kata ini kita memiliki alasan sebenarnya mengapa Tubuh Gereja diberi nama Kristus, yakni, bahwa Kristus adalah Penyelamat Ilahi dari Tubuh ini. Perempuan Samaria benar dengan menyebut Dia “Penyelamat dunia” (Yoh 4:42), sebab Dia sungguh dan sepatutnya dipanggil “Penyelamat seluruh umat manusia,” meskipun kita harus menambahkan seperti Paulus: ‘khususnya para beriman’ (1 Tim 4:10) sebab, dihadapan semua yang lain, Ia telah membayar dengan Darah-Nya anggota-anggota-Nya yang membentuk Gereja (lih. Kis 20:28) […] Untuk itu ketika Tuhan begantung di salib, Dia terus tanpa henti ditengah-tengah sukacita surgawi: ‘Kepala Kita,’ demikian menurut St. Agustinus, ‘menjadi perantara kita: beberapa anggota yang Ia terima, yang lain Ia hukum, yang lain lagi Ia bersihkan, yang lain lagi Ia hibur, yang lain Ia ciptakan, yang lain lagi Ia panggil, yang lain Ia ingatkan, yang lain lagi Ia perbaiki, yang lain pula Ia perbaharui’ (Expositions on the Psalms, 85,5). Tetapi hal ini bagi kita berarti ikut bekerjasama dengan Kristus dalam karya keselamatan, ‘yang datang melalui Dia karena Dialah sang Juru Selamat’ (St. Clement dari Alexandria, Stromateis, 7, 2).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gereja adalah mempelai Kristus; Dia “telah mengasihinya dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan ini Paulus menekankan dua ide: bahwa Kristus (sang Mempelai laki-laki) menyucikan Gereja (Mempelai perempuan) dan membuatnya satu dengan Diri-Nya.&lt;br /&gt;Kristus mengasihi Gereja sebab ia adalah Tubuh Mistik-Nya. Maka sebagai Kepala Tubuh, Dia akan mengasuh dan merawat anggota-anggota-Nya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi Paulus, kasih Kristus bagi Gereja menjadi model ideal bagi kasih para suami isteri Kristen. Seturut dengan kemampuan mereka, para suami harus melakukan semua yang Kristus telah lakukan untuk Mempelai-Nya. Mereka harus mengasihi isteri mereka “sebagaimana mereka mengasihi tubuhnya sendiri,” sebab mereka dengan isteri mereka membentuk satu tubuh: “Mereka menjadi satu daging.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti seseorang tidak mengalami kesulitan untuk mengasihi dirinya sendiri, seorang suami seharusnya juga tidak mengalami kesulitan mengasihi isterinya. Sungguh, “tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya.” Karena itu, “kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Dalam pikiran Paulus, jika ikatan perkawinan yang terjalin antara Kristus dengan Gereja dipakai sebagai model bagi kesatuan suami isteri Kristen, maka perkawinan kristiani dapat dipakai sebagai gambaran mistik dari hubungan Kristus dengan Gereja: “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena seorang isteri menjadi satu daging dengan suaminya, sama seperti Gereja, bukan seperti mempelai duniawi melainkan mempelai rohani menjadi satu dengan Mempelainya dalam roh yang sama.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan gambaran dari sebuah keluarga, Paulus memperlihatkan Gereja, yang diangkat ke dalam Yerusalem surgawi, “Ibu kita,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; – sebuah perbandingan yang kemudian dikembangkan Tradisi menjadi “Bunda Gereja yang Kudus,” – yang melalui rahimnya yang tanpa noda, dengan kuasa Roh Kudus, orang-orang Kristen baru dilahirkan, sebagaimana St. Leo Agung menyatakan: “Putera Allah, lahir dari Bunda Perawan oleh Roh Kudus, membuat Gereja tanpa noda berbuah melalui Roh yang sama, sehingga Pembaptisan dapat melahirkan kumpulan anak-anak Allah yang tak terbilang banyaknya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konsili Vatikan Kedua menyamakan Gereja dengan Maria: “dengan menerima Sabda Allah dengan setia (Gereja) menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal abadi putera-puteri yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu kerjasama mistik antara Kristus, Adam Kedua&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; dan Gereja, Hawa yang Baru, melahirkan orang-orang Kristen baru. Methodius dari Olympia, yang menjadi martir di Eubea pada tahun 311, menulis bahwa “Rasul Paulus menerapkan semua ciri Adam pada Kristus. Dapat dikatakan bahwa Gereja dilahirkan dari tulang dan daging-Nya. Demi kasih-Nya kepada Gereja, sang Sabda meninggalkan Bapa di sorga dan turun ke bumi sehingga Dia dapat bersatu dengan Mempelai-Nya. Dalam penderitaan-Nya, Dia terbaring mati, mati demi pilihan bebas-Nya sendiri karena kasih, sehingga Ia dapat ‘menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. (lih. Ef 5:26-27). Gereja, dari pihaknya, terbuka untuk menerima benih-benih rohani yang Dia sendiri taburkan dalam jiwa yang terdalam. Gereja sebagai Mempelai menerima benih dan memberi bentuk kepadanya sampai kemudian benih itu dilahirkan, dirawat dan dipelihara.” Methodius menekankan kesejajaran antara Adam dan Hawa dengan Kristus dan Gereja: “Setiap pertimbangan mengenai Adam dan Hawa dapat diterapkan pada relasi antara Kristus dan Gereja.” Dan lagi katanya: “Paulus menunjuk secara langsung apa yang berkaitan dengan manusia pertama dan Hawa […] kepada Kristus dan Gereja.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; St. Siprianus mengingatkan bahwa: “tidak mungkin kita memiliki Allah sebagai Bapa tanpa memiliki Gereja sebagai Bunda.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perjanjian Lama Israel sering disebut sebagai Mempelai Yahwe.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt;  Karena itu dapat dimengerti kalau Perjanjian Baru meneruskan pemakaian simbol perkawinan ini.&lt;br /&gt;Dalam jamannya, Yesaya memakai gambaran perkawinan untuk menggambarkan kedatangan Mesias.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Sesungguhnya, kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah untuk merayakan pernikahan-Nya dengan seluruh umat manusia. Gambaran ini harus ada dalam benak kita jika kita membaca perumpamaan tentang sepuluh gadis: “Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam perumpamaan ini Kristus digambarkan sebagai mempelai laki-laki bagi jiwa pribadi-pribadi; Dia datang untuk menikahi jiwa pada waktu kematian dan bersatu dengannya dalam kemuliaan kekal. Tetapi Kristus juga adalah Mempelai laki-laki yang datang ke dalam dunia untuk menikahi keseluruhan umat manusia melalui penebusan dan pengudusan. Karena alasan ini, Yohanes Pembaptis yang menyerukan perutusannya disebut “sahabat Mempelai laki-laki yang berdiri dan mendengarkan-Nya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika diskusi terjadi diantara orang-orang Farisi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt; dan pengikut-pengikut Yohanes Pempabtis&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; mengenai praktek puasa dua kali seminggu, Yesus mengatakan: “Dapatkah sahabat-sahabat Mempelai laki-laki (Yesus) berdukacita selama Mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang Mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan rohani dimulai dengan Inkarnasi, ketika Kristus menikahi kemanusiaan dengan mengambil kodrat manusia. Mempelai perempuan yang sesungguhnya dalam pernikahan ini adalah Maria dari Nazaret, sebagaimana Ensiklik Mystici Corporis menyatakan dengan mengutip kata-kata dari St. Thomas Aquinas:&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; “Atas nama seluruh umat manusia, dia (Maria) memberikan persetujuannya ‘untuk sebuah pernikahan rohani antara Putera Allah dengan kodrat manusiawi.’”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Pernikahan mistik ini berlanjut dalam Penebusan di Kalvari, ketika Kristus menikahi Gereja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Pernikahan ini akan mencapai puncak abadi di sorga nanti. Dalam Kitab Wahyu, salah seorang dari tujuh malaikat berkata kepada Yohanes: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba."&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Dan Yohanes menulis: “aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yehezkiel memberikan gambaran yang ringkas bagaimana Allah (Memperlai laki-laki) mendandani Israel (mempelai-Nya): “Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera. Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu. Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu. Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu."&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Nabi Yesaya menyampaikan hal yang sama ketika ia berbicara tentang pernikahan Allah dengan umat manusia yang dirayakan dalam jaman Mesias.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hal ini jelas bahwa kedua nabi ini memperlihatkan keindahan batiniah dan bukan yang lahiriah; Allah tertarik hanya pada keindahan rohani. Paulus mengambil alih pemikiran Yehezkiel dan Yesaya, dengan menyatakan secara jelas, bahwa Kristus mengasihi Gereja-Nya dan memberikan diri-Nya untuk membuatnya kudus. Kekudusan batiniah yang diterima Gereja dari Mempelai laki-lakinya adalah kekudusan sang Mempelai sendiri.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Lih. Ef 5:25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:1-5:20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lih. 4:1-16&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:16-5:20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lih. Ef 5:21-6:9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ef 5:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lih. Ef 5:22-31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Lih. Ef 6:1-4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Lih. Ef 6:5-9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Kol 3:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ef 5:22-23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 59.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ef 5:25-27.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. Ef 5:29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Kej 2:24.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Ef 5:29, 33.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Ef 5:32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Gal 4:26; lih. Why 12:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Lih. St. Leo Agung, Sermons, LXVIII, 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Lumen Gentium, 64.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Lih. Rom 5:15-21; 1 Kor 15:22, 45.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Methodius of Olympia, On Virginity, 8-10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; St. Cyprian, On the Unity of the Catholic Church, 6-7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Lih. Hos 2:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. Yes 54:5; Yeh 16:8; Zak 8:2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Lih. Mat 25:1-12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Yoh 3:29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Lih. Luk 18:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Lih. Luk 5:33&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Mat 9:15; lih. Mrk 2:19-20; Luk 5:34-35.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; St. Thomas Aquinas, III,q.30,a.1.c.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 110.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Pius XII menyatakan bahwa istilah “Gereja” harus dimengerti dalam arti seluas mungkin: “Karena Gereja, Mempelai Kristus, adalah satu; namun juga begitu luas kasih dari pasangan ilahi terhadap mempelainya sehingga mencakup seluruh umat manusia tanpa kecuali. Penyelamat kita menumpahkan darah-Nya yang berharga supaya Dia dapat mendamaikan manusia dengan Allah melalui salib, dan dapat mendesak mereka untuk bersatu dalam satu Tubuh” (Mystici Corporis, 96)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Why 21:9-10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Why 21:2; lih. 19:7-8; 22:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Yeh 16:10-14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Lih. Yes 62:1-5.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-5851060966232071905?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/5851060966232071905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=5851060966232071905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5851060966232071905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5851060966232071905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-7.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 7'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-6214596039031374591</id><published>2009-05-18T17:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:30:40.646-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 6</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya &lt;/em&gt; (Gal 1:13-23).»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;strong&gt;“Kristus Kepala Tubuh”&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;strong&gt;[&lt;/strong&gt;1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat kepada jemaat di Kolose dan juga di Efesus, Paulus sebagai tambahan untuk membaha lagi masalah yang disampaikan dalam surat kepada jemaat di Roma dan Korintus – secara khusus mengenai komunitas umat beriman yang membentuk “satu tubuh,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; bahwa “Jemaat adalah Tubuh Kristus”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; dan bahwa umat Kristen adalah “anggota-anggota Kristus”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; dan anggota-anggota satu bagi yang lain&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; - mengembangkan unsur lain dari kiasan tubuh manusia: Kristus, Kepala Jemaat.&lt;br /&gt;Epafras, “kawan pelayan yang (Paulus) kasihi, yang bagi (jemaat) adalah pelayan Kristus yang setia”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; dan seorang asli Kolose,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; memulai dengan meyakinkan Paulus bahwa jemaat di Kolose pada dasarnya baik-baik saja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Namun, dia juga menyampaikan bahwa ada beberapa pewarta yang membingungkan jemaat Kolose dengan pengajaran yang keliru, hampir sesat.&lt;br /&gt;Paulus menyebut pengajaran mereka sebagai “filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Orang-orang Kolose suka memikirkan dunia malaikat-malaikat, yang disebut pléroma (“kepenuhan”), yang dilihat sebagai tingkatan perantara antara Allah yang tidak kelihatan dengan benda-benda kelihatan. Mereka juga suka membuat teori tentang hubungan pléroma ini dengan Kristus.&lt;br /&gt;Untuk mengekang kecendrungan ini dalam pemikiran teologis dan, terutama untuk meluruskan beberapa pernyataan yang dapat membawa orang kepada kesesatan, Paulus menggunakan surat ini untuk menyampaikan beberapa dasar pengajarannya tentang Kristus.&lt;br /&gt;Paulus menunjukkan bahwa Kristus adalah prinsip dan tujuan dari segala ciptaan,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; kepala dari tubuh yang adalah Gereja,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; satu-satunya pendamai antara umat manusia dengan Allah,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; sebagai kepala tempat semua anggota dari Tubuh dapat berhubungan secara langsung.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, Paulus menyatakan bahwa Kristus, karena Ia memiliki kepenuhan keilahian, adalah Kepala dari setiap Kerajaan dan Kekuasaan, yaitu, dari para Malaikat yang disebut diatas. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa pengajar-pengajar palsu dari Kolose, yang menyatakan bahwa para malaikat adalah pengantara antara manusia dengan Allah, menyepelekan kepengantaraan Kristus yang satu-satunya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena umat Kristen di Kolose disatukan dengan Kristus, mereka ikut ambil bagian di dalam kepenuhan-Nya; mereka “penuh’ dengan-Nya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Dalam Kristus, mereka memiliki semua berkat rohani dan semua kesempurnaan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Maka seharusnya mereka tidak perlu lagi mencari sumber perwahyuan lain atau pengantara lain selain Kristus.&lt;br /&gt;Mengenai gelar “kepala” (kephalé), kata ini seolah-olah hanya mengungkapkan martabat kekuasaan Kristus. Paulus menyatakan: “Dia dibangkitkan dalam kemuliaan dan kekuasaan diatas semua Kuasa dan Kerajaan.” Dalam hal ini, sebutan kepala tidak menunjuk kepada tubuh manusia dan kepada semua unsur kehidupan yang dibawanya. Istilah itu hanya mau menunjukkan kesamaan kata “diatas.” Gambaran ini mau menunjukkan kekuasaan Kristus yang mengatasi segala Kuasa dan Kerajaan. Hal yang sama juga tampak ketika Paulus menyatakan bahwa laki-laki adalah kepala isteri dan Allah adalah Kepala Kristus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hal ini baik disadari ketika membaca pernyataan ini: “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Dalam konteks ini juga ide yang utama adalah keunggulan Kristus,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; alasan dari keunggulannya adalah karena “kepenuhan” ilahi yang tinggal dalam diri Kristus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keunggulan itu bukan satu-satunya arti dari kata “kepala” dalam Surat Kolose. Dalam penggunaannya arti kepala sebagai unsur kuasa dengan mudah bergeser ke arti kepala sebagai prinsip kehidupan dari seluruh tubuh. Kristus sebagai kepala dan sebagai prinsip kehidupan dari seluruh tubuh digunakan untuk menekankan seruan Paulus untuk berpegang teguh “kepada Kepala dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus melihat kepala sebagai prinsip kesatuan yang melekat dan berkembang untuk keseluruhan tubuh dan untuk tiap-tiap bagiannya. Terpisah dari kepala, badan menjadi mati dan dengan segera membusuk.&lt;br /&gt;Tulang dan sendi-sendi tulang menyatukan kepala dengan tubuh, demikian juga syaraf, otot-otot, urat daging dan tulang rawan. Karena kesatuan diantara mereka dengan Kristus dan Kepala dengan anggota-anggotanya adalah satu dan sama, demikian juga keterpisahan dari Kristus sama dengan menghukum diri sendiri kepada ketidakberdayaan dan kematian.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, orang-orang Kolose yang menjadi korban dari “kesombongan yang sia-sia,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; pergi mencari seorang pengantara dan tuan yang lain, meninggalkan Kristus sang Kepala, yang darinya semua anggota Tubuh menerima kahidupan dan kekuatan untuk mengikat tulang dan sendi-sendi tulang.&lt;br /&gt;Paulus tidak secara jelas menjelaskan simbol “tulang dan sendi-sendi tulang” dalam Surat Kolose. Tetapi dalam Surat Efesus dia mengembangkan lebih lanjut perumpamaan ini, menyamakan mereka dengan saluran-saluran komunikasi ilahi – para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Dalam hal ini, masuk akal juga untuk disimpulkan bahwa ungkapan “tulang dan sendi-sendi tulang” yang digunakan dalam Surat Kolose menunjuk pada berbagai karunia yang diberikan Allah untuk tiap pribadi.&lt;br /&gt;Sejajar dengan pemakaian Paulus atas kiasan Kristus Kepala dalam Surat Kolose, Surat Efesus terpusat pada menampilkan “rahasia agung:” yakni, rencana ilahi, yang terembunyi oleh Allah sejak segala abad dan dinyatakan hanya melalui Injil – yakni tentang penyelamatan seluruh umat manusia, Yahudi dan bukan Yahudi, melalui penggabungan mereka ke dalam Tubuh, yang Kepalanya adalah Kristus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda dari teologi Tubuh Mistik dapat juga ditelusuri dalam bagian tambahan dari Surat Efesus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Banyak ajaran Paulus bermaksud untuk memelihara kesatuan umat beriman dalam Kristus dan membiarkan anggota-anggota Tubuh bertumbuh dalam kepenuhan mereka: “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paulus memohon kepada Allah untuk menerangi pikiran dan hati umat Efesus, sehingga mereka dapat mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi mereka, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi orang Kristen yang percaya untuk mencapai tujuan dari harapan mereka, yakni, kemuliaan sorga.&lt;br /&gt;Kita telah menyaksikan contoh kuasa istimewa Allah yang walaupun tidak dapat diukur membuat kita yakin bahwa itu sungguh tak terbatas. Pengalaman ini ditemukan dalam kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulannya, Paulus menyatakan bahwa Allah “telah meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini terbuka pada dua penafsiran. Pertama, kalimat itu bisa diartikan bahwa Gereja melengkapi Kristus sama seperti bagian-bagian dari tubuh melengkapi kepala. Jika kepala tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tubuh, demikian juga Kristus tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Gereja; karya penyelamatan-Nya menjadi tidak lengkap, tidak efektif karena rahmat yang dimiliki-Nya tidak mungkin dikomunikasikan.&lt;br /&gt;Kedua, kata-kata Paulus itu juga dapat berarti bahwa Kristus melengkapi Gereja dengan mengkomunikasikan kepada Gereja kekudusan-Nya dan semua karunia-Nya.&lt;br /&gt;Kedua tafsiran ini tidak mengembangkan masalah kodrat hubungan penting antara Kepala dan Tubuh atau Kristus dengan Gereja.&lt;br /&gt;Dalam Surat Efesus, Rasul Paulus mengisyaratkan tentang kuasa tertinggi yang Kristus kerjakan terhadap Gereja. Kristus adalah Kepala Gereja karena Dialah Penyelamatnya; kuasa tertinggi terletak pada tugas penyelamatannya.&lt;br /&gt;Kiasan “Kristus Kepala Gereja” menunjukkan pertama-tama suatu kesatuan sempurna kodrati, yang dialami oleh kepala dan bagian-bagiannya. Allah mengunjungi kita melalui Inkarnasi: “Sabda menjadi daging.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Putera Allah menjadi manusia, “lahir dari seorang perempuan;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Dia mengambil kodrat manusia yang lemah dalam segala hal kecuali dosa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; “Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt; karena itu ia menjadi serupa dengan saudara-saudara-Nya, sehingga Dia dapat menjadi jembatan belaskasihan. Sebagai pendosa kita berada dibawah kemalangan. Tetapi Kristus telah mengambil kemalangan kita di atas bahu-Nya sambil melimpahkan berkat-berkat Allah atas kita.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Kepala, Kristus di atas Tubuh; dengan cara ini, Kristus di atas segalanya. Berdasarkan kodrat ilahi-Nya “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena kodrat manusiawi-Nya, Dia menghayati suatu keunggulan prioritas dalam waktu. Demikian juga, Dia adalah “Kepala Tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari keunggulan dan martabat ini mengalirlah suatu kuasa dan pemerintahan yang utama: “yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.  Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kristus juga menjalankan suatu keunggulan dalam mutu dan kebaikan, karena “seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Ungkapan ini kuat dan luas. Konteks dan sebuah bagian yang paralel dari surat Paulus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt; memperjelas rangkap tiga artinya: kepenuhan mutlak Kristus sebagai Allah; kepenuhan rahmat dan karunia yang dicapai kodrat manusiawi-Nya  karena kesatuan-Nya dengan Pribadi Sabda; dan akhirnya, kepenuhan yang dimiliki-Nya sebagai Kepala, sumber segala kebaikan adikodrati untuk semua umat manusia.&lt;br /&gt;Unsur terakhir dalam diskusi ini adalah peran aktif yang dimainkan Kepala dalam relasinya dengan bagian-bagian. “Dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ide dasarnya adalah bahwa Tubuh berhutang pertumbuhannya pada Kristus. Syarat pertumbuhan ada tiga: 1) kesatuan yang dekat diantara para anggota, yang digambarkan dengan tulang dan tulang sendi; 2) saling menolong dan melayani; dan 3) “keberfungsian” yang sempurna dari tiap-tiap anggota.&lt;br /&gt;Ketiga hal ini saling terikat satu sama lain. Kesatuan diantara para anggota dimungkinkan dengan saling membantu, dan saling melayani akan lebih efektif jika tiap anggota berusaha untuk memenuhi dengan sempurna peranan dan fungsinya.&lt;br /&gt;Seluruh keberfungsian tubuh dibawah pengaruh vital dari kepala. Kepala lah yang menjaga kesatuan dari bagian-bagian; mengarahkan mereka dalam fungsi organis mereka yang khas; mengatur pelayanan timbal balik diantara mereka; dan menyampaikan kepada tiap organ kualitas dan jumlah dari kegiatan yang diperlukan untuk itu.&lt;br /&gt;Ada sedikit masalah jika perbandingan Paulus ini melampaui apa yang secara fisiologis dikatakan tentang peran kepala dalam tubuh manusia. Bagi Paulus, semua pertumbuhan dalam Gereja dan dalam kehidupannya, kekuatan, keserasian dan kesempurnaan secara mutlak berasal dari pengaruh yang menghidupkan dari Kepalanya, Kristus.&lt;br /&gt;Paulus menekankan bahwa kasih adalah unsur pokok dalam pertumbuhan Gereja dan ikatan yang menyatukan anggota-anggota dan mengatur keseluruhan, sebab kasih membawa persatuan dengan Kristus dan membuat kita sepenuhnya taat kepada tindakan-Nya.&lt;br /&gt;St. Agustinus berpendapat bahwa fungsi Kristus Kepala Gereja tidak terikat pada waktu dan tempat: “Tuhan kita Yesus Kristus, sebagai keseluruhan, manusia sempurna, memiliki kepala dan tubuh. Kita mengenal Kepala dalam manusia, yang dilahirkan oleh Perawan Maria, menderita dan wafat dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, dimakamkan, bangkit dari mati, naik ke sorga dan sekarang duduk di sisi kanan Bapa, dan dari sana Ia akan datang mengadili yang hidup dan yang mati, yakni sebagai Kepala Gereja. Tubuh dari Kepala ini adalah Gereja, bukan hanya Gereja di tempat ini saja, tetapi di tempat ini dan yang juga tersebar di seluruh dunia; bukan hanya Gereja pada masa tertentu, tetapi disepanjang segala waktu, setiap orang, mulai dari Habel sampai kepada orang terakhir yang pernah dilahirkan dan yang percaya kepada Kristus. Dengan kata lain keseluruhan kumpulan para kudus yang menjadi milik satu-satunya kawanan, Tubuh Kristus, yang kepalnya adalah Kristus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kol 1:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lih. Kol 3:15; Ef 2:16; 4:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:24.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ef 5:30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ef 4:25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Kol 1”7-8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lih. Kol 4:12; Flm 23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:8; 2:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Kol 2:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:15-16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:14, 20-22; 2:13-15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lih. Yoh 1:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 11:3; Ef 5:23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Kol 1:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:15-17,20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Kol 2:19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:11-15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Lih. Ef 1:3-3:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:1-6:20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Ef 4:15-16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Lih. Ef 1:18-21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Ef 1:22-23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Yoh 1:14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Gal 4:4; lih. Rom 1:3; 8:3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Lih. Rom 8:3; 2 Kor 5:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Ibr 2:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Lih. Gal 3:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Kol 1:15-17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Kol 1:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Ef 1:20-23&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Kol 1:19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Kol 2:9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt; Ef 4:15-16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref40" name="_ftn40"&gt;[40]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Expositions on Psalms, XC,2,1.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-6214596039031374591?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/6214596039031374591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=6214596039031374591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6214596039031374591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6214596039031374591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-6.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 6'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-6930149369908757157</id><published>2009-05-18T17:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:29:00.178-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 5</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret. Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing."&lt;br /&gt;"Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan&lt;/em&gt;. (Kis 26:9-18)»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;strong&gt;“Tubuhmu adalah Anggota Kristus&lt;/strong&gt;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korintus dikenal sebagai kota yang negatif dari segi moral.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Orang-orang Kristen di sana tidak saja menunjukkan sikap menerima saja hal-hal yang berkaitan dengan inces,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; tetapi tampaknya juga beberapa diantara mereka menganggap bahwa zinah sebagai tindakan yang biasa-biasa saja secara moral. Dalam menulis surat kepada jemaat di Korintus, Paulus bermaksud menanamkan dalam diri mereka penolakan secara logis terhadap sifat buruk ini.&lt;br /&gt;Paulus mencela anggapan orang-orang Korintus yang mengatakan, “semua halal,” untuk mengesahkan perbuatan zinah. Dia mengatakan: “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dengan demikian, Paulus mencela kebebasan seksual sebab hal ini memasukkan orang ke dalam bahaya dan, jika diijinkan, memperbudak seseorang untuk mengulangi perbuatan-perbuatan dosa.&lt;br /&gt;Jahatnya perbuatan zinah adalah karena dalam pembaptisan orang-orang Kristen telah disatukan dengan Tuhan sebagai milik-Nya. Perbuatan zinah pertama-tama tidak adil sebab “tubuh adalah milik Tuhan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Disamping masalah ketidakadilan, Paulus menambahkan pandangan ide tentang pencemaran: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Sebagai milik Allah kita tidak dirampas tetapi diperoleh “bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Sebab kita menjadi milik Allah melalui Pembaptisan, murid-murid Kristus adalah milik yang tidak terpisahkan.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Paulus menunjukkan fakta kejahatan percabulan juga sebagai sacrilegi (dosa pencemaran terhadap barang kudus): “Tubuhmu adalah anggota-anggota Kristus.” Orang yang membiarkan dirinya jatuh dalam perbuatan dosa ini bertindak tidak lain tetapi “mengambil anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Dengan kata lain, pencemaran tubuh tidak terpisah dari anggota-anggotanya, tapi identik dengannya, para pembuat cabul tidak berbuat lain selain menjadikan Kristus sendiri seorang pelacur! Dosa ini begitu dibenci oleh Paulus sehingga ia dengan tegas mengatakan: “Sekali-kali tidak!”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar kenyataan bahwa “siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; tindakan yang tak tahu malu dari percabulan membuat Tubuh – yang adalah satu dengan Kristus – bersatu dengan perempuan cabul, sebab Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa melalui tindakan persetubuhan “keduanya menjadi satu daging.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata dari Kejadian ini, dikutip oleh Paulus, menunjuk kepada persatuan perkawinan yang ia uraikan dalam Surat kepada jemaat di Efesus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ketika percabulan dikaitkan dengan persatuan tubuh dari orang-orang di luar perkawinan, Paulus tetap berpendapat bahwa unsur-unsur fisiologisnya sama. Persatuan antara seorang laki-laki dan perempuan mengingatkan Paulus akan gambaran tentang kesatuan spiritual: “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Kesatuan yang terjadi dalam tataran fisik secara langsung berkaitan dengan yang terjadi dalam tataran rohani antara semua orang Kristen dengan Kristus.&lt;br /&gt;Dua kesatuan ini, bagaimanapun mereka saling bertentangan: yang satu dilakukan dengan tubuh dalam penyelewengan, yang merendahkan keseluruhan pribadi manusia sampai pada titik yang meniadakan roh; kedua, dilakukan secara rohani dengan Tuhan, mengubah dan mengangkat seluruh kepribadian ke tingkat yang lebih tinggi. Namun kedua peratuan ini ditandai oleh satu ciri kesatuan yang dekat dan akrab: “satu daging,” “satu roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:15; bdk 12:27: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Aristofanes (450-380 SM) menciptakan istilah Korinthiázesthai (= “mengkorintus” atau berlaku seperti penduduk Korontus, yakni “berzinah”) karena reputasi yang buruk dari kota itu; bdk. Eusthachius dari Tesalonika (1115-1194M), Commentary on the Iliad, II,570. Plato (427-347 SM) menggunakan ungkapan “seorang gadis Korintus” untuk menghaluskan kata “pelacur” (The Republic, 404D). Strabo (64SM-24M) menunjukkan, mungkin agak dibesar-besarkan, bahwa dalam kuil Aphrodite terdapat ribuan pelacur dan bahwa praktek tersebut menjadi sumber penghasilan bagi kota (Geography, VIII,6,20).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 5:1-2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 6:19-20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; 1 Ptr 1:18-19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Kej 2:24.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Lih. Ef 5:31.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ungkapan “satu roh” sesunguhnya mengherankan, sebab menurut konteksnya seharusnya “satu tubuh.” Namun Paulus dengan menggunakan kata-kata ini dalam diskusinya mengenai perselingkuhan, menganggap baik untuk menerapkannya kepada persatuan yang lebih luhur antara orang beriman dengan Kristus. Pada saat yang sama, ia ingin memperlihatkan perbedaan yang mendasar antara kedua kesatuan itu: satu milik tataran alamiah dari daging, sedangkan yang lain milik tatanan ilahi dari Roh yang, menurut Paulus, kesatuan dengan Kristus yang membentuk sebuah “tubuh rohani” (lih. 1 Kor 15:44)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-6930149369908757157?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/6930149369908757157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=6930149369908757157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6930149369908757157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6930149369908757157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-5.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 5'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-5161747921160059963</id><published>2009-05-18T17:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:27:21.368-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 4</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku-- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus&lt;/em&gt; (1 Tim 1:12-14).»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;strong&gt; “Tidak Semua Anggota itu Mempunyai Tugas yang Sama&lt;/strong&gt;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian sisipan dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menyerukan kepada jemaat untuk mempersembahkan “pujian rohani” kepada Allah dn tidak seperti orang-orang Yahudi yang hanya memperhatikan hal-hal lahiriah, suatu seruan yang Allah sampaikan juga melalui nabi Hosea: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Pujian rohani” yang diusulkan oleh Paulus adalah persembahan diri, sebuah persembahan “tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Hal ini menuntut perubahan mentalitas, suatu pembaharuan batin; jika tidak mustahil untuk membedakan “manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertobatan dibuktikan dalam kerendahan hati dan kasih.&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kerendahan hati, Paulus mendorong jemaat di Roma supaya menjadi bijaksana dalam menilai diri sendiri: “aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. […] Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dengan menghayati kerendahan hati umat Kristen akan dibantu untuk menghindari bahaya terdampar pada batu karang kesombongan, ambisi dan keangkuhan; dan diatas segalanya, kerendahan hati akan membawa damai bagi jiwa.&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan kasih, Paulus memberikan beberapa nasehat yang berharga: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. […] Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! […] Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! […] Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Kasih mencakup juga bahkan terhadap musuh-musuh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan sosial, orang-orang Kristen harus pertama-tama diilhami oleh kerendahan hati dan kasih. Semua orang Kristen harus ingat bahwa mereka adalah bagian dari keseluruhan, bahwa mereka diikat secara erat dalam kesetiakawanan dengan sesama, baik dalam waktu yang baik maupun tidak.&lt;br /&gt;St. Paulus menjelaskan kesetiakawanan diantara semua orang. Sebagaimana dosa Adam tidak tinggal sendiri terisolir menjadi masalah pribadi semata tetapi memiliki akibat fatal bagi keturunannya, demikian juga, Penebusan yang dibawa oleh Kristus berdampak baik yang membawa keuntungan bagi seluruh umat manusia: “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesetiakawanan mistik ini yang mengikat orang dengan Adam sama seperti dengan Kristus juga, tidaklah terlalu mengherankan kalau kita menyadari bahwa hal yang sama juga terjadi dalam tubuh manusia. Semua bagian tubuh memiliki kesaling-tergantungan dan saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;Maka tubuh manusia adalah kiasan untuk komunitas Kristen: “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman karunia tidak boleh menyebabkan ketakutan besar dan tentu saja tidak juga membuat kita menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki: “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Biarlah tiap orang puas dengan tempat di mana ia berada dalam komunitas dan senang dengan karunia yang telah ia terima, dengan kesadaran bahwa semua harta rohani berguna untuk keuntungan kita bersama; dalam arti tertentu mereka menjadi milik kita juga. Dengan kata lain, segala milik kita menjadi milik yang lain juga.&lt;br /&gt;Itulah yang disebut komunikasi karunia yang timbal-balik. Setiap orang beriman menyumbangkan kebaikan bagi keseluruhan Tubuh dan bagi setiap anggota secara pribadi, dan, pada gilirannya, juga keuntungan-keuntungan karunia rohani dari sesama.&lt;br /&gt;Paulus menegaskan bahwa semua karisma dikaruniakan oleh Allah “untuk pembangunan jemaat”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; melalui pelayanan kerasulan yang berkarya dalam pelayanan Gereja. Dengan cara ini, pemikiran yang tadi disampaikan ditekankan lagi – pribadi-pribadi tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi tergantung satu sama lain. Dia dalam karya pelayanan untuk keseluruhan komunitas dan tiap-tiap anggota secara khusus. Dia harus menghayati sebuah kehidupan yang mengalir dari keseluruhan Tubuh.&lt;br /&gt;Meskipun karisma-karisma diberikan oleh Allah untuk kepentingan semua, seseorang tidak boleh merasa bahwa karunia yang ia terima tanpa keuntungan bagi dirinya sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen harus selalu menyadari bahwa, karena ada berbagai macam karisma, mereka adalah bagian yang unik dari sebuah Tubuh, karena kesatuan mereka dengan Kristus. Kristus menyatukan Tubuh. Pemikiran ini akan dikembangkan lagi oleh Paulus, ketika ia merenungkan kiasan tentang tubuh dengan kiasan Kristus sebagai Kepala Tubuh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Rom 12:4&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hos 6:6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Lih. Rom 12:1-2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lih. Rom 12:3, 16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Rom 12:9-11, 13-17, 12; 13:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lih. Rom 12:19-20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Rom 5:18-19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Rom 12:4-5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Rom 12:6-8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; 1 Kor 14:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 14:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:19; Ef 1:22; 5:23.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-5161747921160059963?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/5161747921160059963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=5161747921160059963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5161747921160059963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5161747921160059963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-4.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 4'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-4567347647916968940</id><published>2009-05-18T17:23:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:25:21.506-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 3</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,  dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum&lt;/em&gt;.(Kis 9:1-9)»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Satu Tubuh dan Satu Roh,&lt;br /&gt;Satu Harapan, Satu Tuhan, Satu Iman,&lt;br /&gt;Satu Baptisan, Satu Allah dan Bapa&lt;/strong&gt;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah mengagungkan misteri penyelamatan yang terlaksana dalam Kristus, Paulus menulis dalam bagian teolgis dari Surat kepada jemaat di Efesus: “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghayati keutamaan yang disarankan oleh St. Paulus diperlukan kesatuan dalam roh, dengan kata lain, jiwa-jiwa yang bersatu diantara mereka sendiri dalam ikatan damai.&lt;br /&gt;Paulus melihat dasar dari kesatuan yang harus ada diantara orang-orang Kristen. Mereka membentuk satu Tubuh, yang dijiwai oleh Roh Kudus yang sama; mereka memiliki satu harapan yang membuat mereka berjuang mengejar satu tujuan – menjadi milik Allah dalam keabadian; mereka digembalakan oleh satu Tuhan; mereka mengakui satu iman; mereka dilahirkan untuk hidup adikodrati melalui satu baptisan; dan mereka memuliakan satu Allah, yang adalah “Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;St. Siprianus mengomentari kutipan dari St. Paulus ini dengan gambaran yang jelas: “Gereja juga adalah satu, tersebar jauh kemana-mana dengan jumlah yang besar yang terus menerus bertumbuh. Ada banyak sinar cahaya, tetapi hanya ada satu matahari; banyak cabang pohon, hanya satu sumber kehidupan dalam akar-akarnya yang kuat; dan dari mata air yang satu mengalir banyak arus. Dengan cara yang sama, meskipun mereka bisa hadir dengan bebas dalam kelimpahan, kesatuan tetap dijaga dalam satu sumber. Memisahkan sinar cahaya dari matahari tidaklah mungkin karena kesatuan mereka; mematahkan cabang dari pohon, jika itu terjadi ia tidak akan dapat lagi hidup; memotong arus dari sumber mata air akan membuatnya kering. Hal yang sama terjadi dengan Gereja; bercahaya bersama terang dari Tuhan, Gereja memancarkan cahayanya keseluruh dunia, namun tetap ada satu cahaya yang dibiaskan kemana-mana, tanpa merugikan kesatuan Tubuh. Ia dengan murah hati memperpanjang cabang-cabangnya ke seluruh dunia. Ia membiarkan sungai-sungai mengalir dengan bebas, namun Kepalanya tetap satu, sumbernya satu. Gereja adalah Bunda yang satu, kaya berlimpah: dari rahimnya kita lahir, oleh susunya kita dikenyangkan dan oleh semangatnya kita hidup.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman karisma - yakni, kenyataan bahwa Gereja terdiri dari para rasul, para nabi, penginjil, gembala dan guru – bukannya mengancam kesatuan, tetapi sebaliknya meneguhkan, sebab semua karunia-karunia datang dari Allah dan dicurahkan “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang dapat dilihat, Paulus memakai dua gambaran yang berbeda dalam kutipan ini: sebuah tubuh dan sebuah bangunan,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; dua konsep yang telah dikembangkan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Tubuh dapat dianggap hanya sebagai badan yang berbeda dengan kepala atau dapat dilihat sebagai satu kesatuan.&lt;br /&gt;Sama seperti tubuh manusia memiliki banyak bagian-bagian, orang-orang Kristen berasal dari berbagai bangsa; ada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, orang-orang dari lapisan masyarakat yang berbeda; budak-budak dan orang merdeka;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; namun di atas semuanya, tiap-tiap orang dikarunia karisma yang khas.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman tidak mengancam kesatuan. Kenyataannya, Paulus menunjuk apa yang menjadi dasar untuk kesatuan ini: Roh Kudus, Baptis  dan Ekaristi.&lt;br /&gt;Dengan jelas Paulus menyatakan bahwa Roh Kudus menyatukan orang-orang Kristen dalam satu Tubuh: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini dengan mudah membantu kita memahami teks-teks lainnya. Paulus mendorong para beriman dari Efesus untuk tetap “bersatu dalam Roh dalam ikatan damai,” dengan kasadaran bahwa: “satu Tubuh dan satu Roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Paulus juga mengingatkan bahwa “(Yahudi dan bukan Yahudi) keduanya telah diperdamaikan dengan Allah dalam satu Tubuh […] oleh Dia kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberagamannya, karisma memiliki sumber yang sama: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; tiap-tiap orang memiliki karunia khusus,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; tetapi “semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Roh Kudus bukan hanya prinsip yang membentuk Tubuh Gereja tetapi juga prinsip yang memberi kehidupan bagi Tubuh. Kepala dan jiwa diperlukan bagi tubuh untuk hidup. Tubuh Gereja memiliki Kristus sebagai Kepala dan Roh Kudus sebagai Jiwanya.&lt;br /&gt;Roh Kudus tinggal di dalam Gereja dan dalam tiap orang beriman sebagaimana Ia tinggal dalam sebuah Bait: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Sebagai tamu bagi jiwa, Roh Kudus selalu berkarya; dibawah inspirasinya buah-buah rohani kehidupan berkembang. Paulus menyebutnya: “Roh Kehidupan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Keseluruhan kumpulan keutamaan adalah “buah Roh Kudus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Roh Kudus menghasilkan karunia-karunia&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; dan mewahyukan kepada Rasul “misteri agung” yang menjadi ide dasar dari Injilnya, sebab Roh menyelidiki kedalaman Allah yang mewahyukan kehendak-Nya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; “Allah adalah Kasih.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; “Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melalui kesatuan yang akrab yang diciptakan oleh Roh Kudus, karya kita menjadi karyanya dan tindakannya menjadi tindakan kita, sebab kita tinggal dan bergerak dalam Dia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Roh Kudus lah yang memunculkan dari hati ke bibir kita sebutan “Bapa” yang sekaligus memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Sebab Roh Kudus adalah Roh Tuhan, melalui Dia kita menjadi “serupa” dengan gambar Putera Allah, sebab “dia yang disatukan dengan Tuhan menjadi satu roh dengan-Nya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Karena itu setiap kali Paulus berbicara tentang “perubahan” adikodrati kita, dia menyatakan bahwa itu adalah campur tangan Roh Allah sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;St. Paulus juga melihat baptisan sebagai suatu ikatan yang lain yang menyatukan umat beriman dengan Tubuh Mistik.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut arti katanya, “membaptis” berarti “menenggelamkan” dan ritus lama Gereja menjelaskan secara konkrit arti ini. Melalui penenggelaman, katekumen “dikuburkan” dalam air baptis, yang melambangkan kematian dan pemakaman Kristus. Baptisan baru yang bangkit dari air baptis melambangkan kebangkitan Penyelamat.&lt;br /&gt;Hal ini bukan hanya sebuah tindakan simbolis. Melalui penerimaan Sakramen Baptis, baptisan baru disatukan dengan Kristus, melalui keikutsertaan nyata dalam kematian dan kebangkitan mulia: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan dengan Kristus ini menjadi dasar untuk kesatuan para beriman. Orang-orang Kristen dijadikan satu Tubuh melalui Pembaptisan: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Dan setiap perbedaan kebangsaan dan status sosial ditiadakan: “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat Galatia, Paulus mengarisbawahi dua akibat dari Pembaptisan: “mengenakan Kristus” dan “menjadi satu dalam Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Simbol ketiga dan sumber kesatuan Gereja adalah Ekaristi: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jalan pikiran Paulus didasarkan pada konsep “komunio,” yang pertama-tama akan kita mengerti dalam arti umum menurut pengertian budaya Semit, yakni “perjamuan yang dirayakan secara umum,” dan kemudian dalam arti khusus, dalam penerapannya pada Perjamuan Suci.&lt;br /&gt;Rumusan: “satu roti, satu tubuh” mengungkapkan dengan jelas rasa persekutuan yang terjalin diantara para peserta dengan satu kenyataan makan bersama.&lt;br /&gt;Perlu disadari bahwa bagi orang-orang jaman dulu, terutama bagi orang Timur dan orang Timur Tengah, memecahkan roti dengan seseorang sama artinya menjadi satu keluarga dalam arti tertentu, mempunyai hubungan darah.&lt;br /&gt;Mentalitas Semit yang mendalam ini terhadap para peserta pada sebuah perjamuan menjadi kenyataan yang hidup, ketika halnya menyangkut Roti Ekaristi: Tubuh dan Darah Kristus sungguh-sungguh menjadi bagian dari tubuh dan darah kita. Karena itu Darah yang sama mengalir dalam nadi mereka yang makan Roti Ekaristi.&lt;br /&gt;Paulus, sesudah mengakhiri pembicaraan tentang perkawinan dalam Surat Pertama Korintus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt; kembali ke masalah  “komunio” dengan Tubuh Kristus dan sebuah diskusi tentang masalah daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Dari konteksnya tampaknya orang-orang Korintus mempertanyakan bagaimana mereka harus bersikap dan apakah diperbolehkan ikut serta dalam perjamuan korban dengan orang-orang yang tidak beriman. Paulus menjawab jelas bahwa hal ini tidak dibenarkan, sebab memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala sama dengan berkorban untuk hantu-hantu dan ikut dalam persekutuan dengan mereka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Karena orang-orang Kristen telah memiliki persekutuan dengan Tubuh Kristus melalui Ekaristi,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt; maka ini harus meniadakan yang lainnya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Paulus memberikan refleksi dalam tanda kurung untuk mengingatkan arti mistik dari Sakramen Ekaristi: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Karena itu, ciri khas dari roti Ekaristi adalah sumber kesatuan diantara pengikut-pengikut Kristus.&lt;br /&gt;Roti yang satu ini sungguh-sungguh Tubuh Kristus, keseluruhan Kristus. Roti itu satu, karena Kristus yang satu yang diterimakan setiap kali Ekaristi dirayakan mengatasi segala ruang dan waktu. Kesatuan Ekaristi dan Kristus menjadi hal mendasar bagi kesatuan diantara umat Kristen.&lt;br /&gt;St. Yohanes Damasenus (675-749) berkomentar: “Ekaristi dikatakan komunio dan memang demikian, sebab melaluinya kita disatukan. Karena kita ambil bagian dalam satu roti, semua menjadi satu Tubuh Kristus dan satu Darah, dan menjadi anggota satu sama lain, satu Tubuh dalam Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ekaristi adalah “sakramen belas kasih, tanda kesatuan, ikatan amal kasih.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt; Buku Didache (“Pengajaran dari Dua Belas rasul”), yang ditulis sekitar tahun 70 dan 80 M., memuat sebuah doa yang menggunkan kiasan yang indah tentang kesatuan umat Kristen dalam Ekaristi: “Bapa kami, sebagaimana roti yang dipecah-pecahkan ini, tadinya tersebar dilereng-lereng bukit, dan yang telah dikumpulkan menjadi satu, semoga Gereja-Mu dikumpulkan bersatu dari segala ujung bumi ke dalam kerajaan-Mu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn41" name="_ftnref41"&gt;[41]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyadari hal ini, Paulus sangat terpukul melihat perpecahan di antara umat Kristen di Korintus, ketika mereka ikut ambil bagian dan Perjamuan Ekaristi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn42" name="_ftnref42"&gt;[42]&lt;/a&gt; Mereka bukannya bersatu satu sama lain dalam merayakan misteri persatuan dan persaudaraan yang paling penting, tetapi membentuk kelompok-kelompok: yang kaya memisahkan diri dari yang miskin sehingga: “yang seorang lapar, dan yang lain mabuk;” masing-masing memakan dahulu makanannya sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn43" name="_ftnref43"&gt;[43]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Betapa bertentangan apa yang menjadi prinsip dengan kenyataan! Bagaimana mungkin orang melecehkan kasih, persaudaraan dan kesatuan itu sendiri sementara orang ambil bagian dalam Roti Ekaristi yang menyatukan semua umat Kristen? Sakramen Kesatuan menjadi kesempatan perpecahan; itu “bukan lagi berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn44" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn44" name="_ftnref44"&gt;[44]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan seruan yang penuh semangat, Paulus memohon supaya Perjamuan Ekaristi kembali menjadi perjamuann persekutuan dan bahwa tidak ada sebuah kelompok atau pribadi karena keistimewaannya dapat menyalahgunakan Sakramen kesatuan: “Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn45" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn45" name="_ftnref45"&gt;[45]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan yang demikian akan menjadi tanda yang membedakan umat Kristen yang sejati dengan yang hanya namanya saja kristen: “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn46" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn46" name="_ftnref46"&gt;[46]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mystici Corporis juga menekankan bahwa melalui Ekaristi kesatuan Tubuh Mistik Kristus dengan Kepala mencapai tinggkatan yang paling tinggi yang mungkin dalam kehidupan di dunia ini: “Melalui Korban Ekaristi, Kristus Tuhan kita dengan rela memberikan kepada para beriman ungkapan yang mencolok tentang kesatuan diantara kita sendiri dan dengan Kepala ilahi, yang mengagumkan dan mengatasi segala pujian. Sebab dalam Korban ini pelayan suci bertindak sebagai wakil, bukan hanya dari Penyelamat kita tetapi juga dari keseluruhan Tubuh Mistik dan dari tiap-tiap umat beriman. Dalam tindakan pengorbanan ini, melalui tangan-tangan imam, yang melalui kata-katanya Anak Domba yang Tak Bercela hadir di atas altar, sementara para beriman sendiri, disatukan dalam doa dan kerinduannya, mempersembahkan kepada Bapa Kekal korban yang paling berkenan dengan pujian dan permohonan bagi kebutuhan keseluruhan Gereja.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn47" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn47" name="_ftnref47"&gt;[47]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Ef 4:4-6&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ef 4:1-3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ef 4:6; lih. 4:4-6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; St. Siprianus, On the Unity of the Catholic Church, 5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:11-13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lih. Ef 4:12, 16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lih. Ef 2:19-22.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:8-10; Rom 12:6-8; Ef 4:7-11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ef 4:3-4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ef 2:16, 18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; 1 Kor 6:19; lih. 1 Kor 3:16-17; 2 Kor 6:16; Rom 8:11; Ef 2:22; 3:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Rom 8:2; lih. Yoh 6:63.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Gal 5:22-23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 2:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; 1 Yoh 4:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Rom 5:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Lih. Rom 8:5, 9; Gal 5:16, 18, 25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Lih. Rom 8:14-17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 6:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Lih. 2 Kor 3:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Rom 6:3-5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Gal 3:27-28.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Lih. Gal 3:27-28.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:16-17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 7:1-40.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 8:1-13; 10:14-30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt; St. John Damascene, An Exact Exposition of the Orthodox Faith, IV, 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref40" name="_ftn40"&gt;[40]&lt;/a&gt; St. Agustine, Tractates on the Gospel of John, 26, 13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref41" name="_ftn41"&gt;[41]&lt;/a&gt; Didache, 9, 4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref42" name="_ftn42"&gt;[42]&lt;/a&gt; 1 Kor 11:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref43" name="_ftn43"&gt;[43]&lt;/a&gt; 1 Kor 11:21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn44" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref44" name="_ftn44"&gt;[44]&lt;/a&gt; 1 Kor 11:20.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn45" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref45" name="_ftn45"&gt;[45]&lt;/a&gt; 1 Kor 11:33.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn46" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref46" name="_ftn46"&gt;[46]&lt;/a&gt; 1 Kor 11:19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn47" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref47" name="_ftn47"&gt;[47]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 82.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-4567347647916968940?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/4567347647916968940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=4567347647916968940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4567347647916968940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4567347647916968940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-3.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 3'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-996113562520716680</id><published>2009-05-18T17:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:22:22.330-07:00</updated><title type='text'>"Kita adalah Satu Tubuh" - Bab 2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;«&lt;em&gt;Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.  Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.  Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.&lt;/em&gt;(1 Kor 9:16-23)»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh&lt;/strong&gt;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus menggunakan banyak kiasan untuk menggambarkan kodrat dan fungsi Gereja dan hubungan antara Kristus dengan Gereja,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; tetapi tidak satu pun diantara kiasan-kiasan itu yang sungguh-sungguh dapat membawa ide ini. Mungkin, yang paling sering dipakai, kiasan “Tubuh Kristus,” secara teologis, tidak dapat diragukan lagi sebagai yang paling penting, yang paling tepat, yang paling indah dan yang paling berkembang. Yang lebih penting lagi, kiasan ini mengungkapkan secara paling jelas kesatuan mesra antara Kristus dengan umat beriman dan relasi khusus antara kegiatan Kristus yang tidak kelihatan dan kegiatan Gereja yang kelihatan.&lt;br /&gt;Pius XII dalam Mystici Corporis, sebuah dokumen yang mengembangkan banyak kiasan-kiasan Paulus, menggunakan ungkapan “Tubuh Mistik” untuk menggambarkan Gereja: “Jika kita harus mendefinisikan dan menggambarkan Gereja Yesus Kristus yang benar – yang adalah satu, kudus, katolik, apostolik dan Gereja Roma – kita tidak akan menemukan yang lain yang lebih agung, lebih luhur dan ilahi daripada ungkapan “Tubuh Mistik Kristus” – suatu ungkapan yang memancar keluar, sebagaimana sejak dulu suatu ajaran yang selalu berulang dari Kitab Suci dan Bapa-bapa Paus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Gereja, sebagai Tubuh Kristus, secara khas milik Paulus, tetapi ungkapan persis “Tubuh Mistik Kristus” tidak ditemukan di dalam surat-suratnya. Hal ini muncul dalam tradisi Bapa-bapa Gereja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Umat di Korintus menanyakan kepada Paulus banyak hal,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; satu diantaranya berkaitan dengan karunia-karunia rohani. Umat Kristen di Korintus belum sepenuhnya melepaskan mentalitas mereka yang dulu sebelum mereka menjadi percaya baik dalam hal menggunaan karisma maupun dalam menilainya. Daripada mengingini “karunia-karunia yang utama”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; yang sangat menyumbang bagi kemajuan rohani Gereja, mereka lebih bersemangat memperoleh karunia bahasa lidah, yang lebih nyata dan lebih berkesan, sebab mereka dapat berbicara dalam berbagai bahasa dalam keadaan ekstasi. Karunia seperti ini mirip dengan suasana hingar-bingar dari rasa sukacita yang biasanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan para pengikut Dionisius.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Para dukun mereka biasa masuk dalam keadaan kerasukan sambil berteriak-teriak yang kata-katanya tidak dapat dipahami; mereka seperti kehilangan daya nalar dan kadang sampai tidak sadarkan diri, dibawah kekuatan roh jahat atau sebagai akibat dari histeris mereka.&lt;br /&gt;Keadaan ekstasi yang disebabkan oleh Roh Kudus secara mendalam berbeda. Pada kenyataannya tidaklah mungkin bahwa Allah dapat menyebabkan kekacauan dan tingkahlaku yang aneh-aneh atau yang memperkosa kebebasan manusia.&lt;br /&gt;Paulus mengingatkan bahwa kejadian-kejadian yang terjadi di Korintus diragukan keasliannya: “Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Karunia bahasa lidah memberikan ilusi dan kualitas mistik yang dicari oleh mereka yang menderita sifat sombong. Karena itu Paulus harus memperbaiki pikiran-pikiran yang keliru dari umat di Korintus.&lt;br /&gt;Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengajar mereka dengan tepat tentang karunia-karunia Roh, Paulus mengajukan prinsip bagaimana membedakan apakah inspirasi datang dari Allah atau bukan – pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Dalam kaitan dengan hal ini, ia menunjukkan bahwa mereka yang tidak percaya menganggap ekstasi mereka berasal dari keberagaman dewa-dewa, orang-orang Kristen sebaliknya harus memahami bahwa banyak karisma dari Gereja tidak berasal dari hal demikian; mereka adalah karya dari “Roh yang satu dan sama,” dan dari “Tuhan yang satu dan sama,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; yang membagi-bagikan karunia-Nya sesuai kehendak-Nya demi kebaikan umum.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komunitas pengikut Kristus adalah seperti tubuh manusia, tempat keberagaman anggota-anggotanya secara istimewa dibangun dalam satu kesatuan dari Pribadi Kristus.&lt;br /&gt;Yang berikut ini adalah refleksi Paulus – salah satu yang paling indah dalam semua surat-suratnya – atas kiasan tubuh yang diterapkan pada Gereja. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.&lt;br /&gt;Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, Paulus mendorong umat Korintus dengan bersungguh-sungguh merindukan karunia-karunia yang utama, yang terbesar diantaranya adalah kasih.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan tadi, Paulus melihat keberagaman karunia adalah hal yang lumrah. Setiap karunia menunjuk pada kenyataan bahwa setiap anggota Gereja memiliki peran khusus yang dipercayakan Allah. Beberapa sebagai rasul, yang lain sebagai nabi, dan yang lain lagi sebagai pengajar; ada pembuat mujizat, penolong, pemimpin atau berkata-kata dalam bahasa Roh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika kesatuan diantara umat beriman belum nyata, hal ini hanya dapat dicari penyebabnya dalam perwujudannya yang lebih besar bahwa “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena semua karunia berasal dari “Roh yang sama” dan semua dimaksudkan untuk kesejahteraan Gereja, maka mereka yang menerima karunia yang paling rendah tidak boleh merasa tidak puas apalagi iri terhadap mereka yang menerima karunia yang lebih tinggi. Demikian juga mereka yang menerima karunia yang lebih besar tidak boleh memandang rendah mereka yang menerima yang lebih rendah.&lt;br /&gt;Tubuh tidak bisa disamakan dengan salah satu anggota manapun secara khusus tidak juga dengan anggota yang tampaknya paling penting seperti tangan atau mata. Menurut kebutuhan, tidak ada satu bagian dari tubuh manusia yang dapat menuntut sebagai bagian yang paling penting sendiri, sebab hidup tidak terletak dalam organ tertentu, tetapi di dalam semua anggota sebagai satu kesatuan secara menyeluruh. Maka tiap anggota harus ambil bagian secara aktif dalam suatu tindakan yang paling sederhana sekalipun yang memberi kehidupan kepada tubuh, meskipun tindakan itu tidak dilakukan dengan cara yang sama, tetapi tetap berdasarkan pada peran dan tatanan tiap-tiap anggota.&lt;br /&gt;Maka, mata tidak dapat menganggap berbuat lebih jika dibandingkan tangan hanya karena ia mengerjakan sebuah fungsi yang lebih mulia; sama halnya dengan kepala tidak dapat dikatakan lebih penting jika dibandingkan dengan kaki. Semua anggota adalah perlu untuk kehidupan seluruh tubuh, “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” Hal yang sama berlaku juga terhadap anggota-anggota yang kita kira kurang terhormat atau kurang elok; mengenai hal ini kita yakin, kita memberikan kepada mereka penghormatan khusus, memperlakukan mereka dengan kasih dan dengan perhatian khusus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Misalnya, perut selalu mendapat kehormatan didandani dengan pakaian dan anggota-anggota yang paling tidak elok dilindungi dengan kesopanan sebagai imbalan dari tata sopan santun yang pantas, yang menurut St. Agustinus: “Kesopanan memulihkan apa yang dilecehkan oleh keinginan daging.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengetahuan-Nya yang tidak terbatas, Allah sendiri membuat tubuh manusia sedemikian rupa untuk memberi perhormatan yang lebih besar kepada bagian-bagian yang lebih rendah. Dia juga menetapkan bahwa tidak hanya ada keselarasan diantara berbagai anggota tetapi juga kesalingtergantungan satu sama lain. Dengan bekerjasama dengan cara ini, seluruh tubuh terpelihara dan berkembang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap anggota diperlukan demi hidup tubuh, maka setiap keputusan anggota untuk memberi atau menarik sumbangannya adalah sangat penting. Kenyataannya, penolakan tanggungjawab satu anggota menyebabkan suatu beban yang semakin besar bagi anggota-anggota lain, sementara kerjasama dari tiap anggota demi hidup tubuh, walau sekecil apapun, membawa keuntungan bagi seluruh anggota: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;St. Agustinus yang mengomentari pikiran Paulus ini menulis: “Saudara-saudara, perhatikanlah bagian-bagian tubuh dan lihat bagaimana masing-masing memiliki fungsinya. Mata melihat, tapi tidak mendengar; telinga mendengar tetapi tidak melihat; kaki melangkah tapi tidak mendengar, atau melihat atau bekerja keras sebagaimana tangan. Jadi tubuh membentuk kesatuan dan bagian-bagian sehat dan harmonis di antara mereka, telinga melihat dengan pertolongan mata dan mata mendengar dengan pertolongan telinga. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa telinga karena tidak dapat melihat lalu mengatakan: ‘kamu tidak berarti, kamu lebih rendah, kamu tidak seperti mata yang bisa membedakan warna? Demi kedamaian pada tubuh, telinga akan menjawab: saya berada di mana mata juga berada, kami berbagi tubuh yang satu dan sama, dalam diri saya sendiri saya tidak memiliki kemampuan melihat, saya melihat karena saya disatukan dengan yang memiliki fungsi itu.’ Dengan cara yang sama, telinga akan berkata: ‘Mata melihat untuk saya,’ mata akan berkata: ‘Telinga mendengar untuk saya.’ Keduanya juga akan berkata: ‘Tangan bekerja untuk kami;’ dan tangan berkata: ‘Mata dan telinga melihat dan mendengar untuk saya.’ Lalu mata, telinga dan tangan berkata: ‘Kaki melangkah untuk kita.’&lt;br /&gt;Ketika berbagai anggota melaksanakan kegiatan mereka dalam tubuh yang sama, jika tubuh sehat dan semua anggota selaras, semua menikmati dan setiap anggota bergembira atas yang lain. Jika satu anggota menderita, anggota yang lain tidak tanpa terpengaruh; semua menanggung sakit yang sama.&lt;br /&gt;Misalnya kaki. Mereka ada di tubuh, katakanlah, jauh dari mata. Kenyataannya memang mata menjadi bagian yang paling tinggi dari tubuh dan kaki yang paling rendah. Tetapi jika kebetulan kaki menginjak duri, bukankah mata akan memberi perhatian atas apa yang terjadi? Bukankah seluruh tubuh akan bereaksi berhenti seketika, duduk dan membungkuk untuk menemukan duri tadi yang hanya menusuk kaki saja? Seluruh bagian akan melakukan yang terbaik untuk menarik duri yang menusuk bagian tubuh yang paling rendah dan yang paling tidak berarti dari tubuh.&lt;br /&gt;St. Agustinus melanjutkan mengomentari 1 Kor 12:12-27: “Demikian juga, saudara-saudara, jika satu anggota dari Tubuh Kristus tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang dari mati, anggota tersebut tidak harus bersikeras untuk itu. Dia hanya perlu menjaga agar tidak terpisah dari Tubuh, sebagaimana telinga yang dituntut untuk melihat. Sebenarnya ia tidak akan pernah mampu berfungsi sebagaimana yang tidak dimaksudkan untuk dia.  Saya harap ada yang berkeberatan: ‘Jika kamu orang yang logis, kamu akan membangkitkan orang mati seperti yang diperbuat Petrus.’ Kenyataannya, semua tahu bahwa Para Rasul melakukan pekerjaan-pekerjaan lebih besar dari Tuhan sendiri, karena Kristus. Tetapi bagaimana dapat terjadi cabang-cabang dapat menyelesaikan hal-hal yang lebih besar dari pokoknya sendiri? Dan apa ukurannya bahwa satu perbuatan lebih besar dari yang lainnya? Inilah jawabannya. Orang mati bangkit begitu dipanggil Tuhan; ketika Petrus lewat, bayang-bayangnya jatuh pada orang yang tadinya mati lalu hidup. Kejadian ini dilihat sebagai lebih besar dari pada yang pertama, tetapi Kristus melakukan mukjizat tanpa campur tangan Petrus. Petrus sendiri tidak memiliki kemampuan itu jika tidak karena Kristus.&lt;br /&gt;Tuhan mengatakan: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.’ Benar. Jika seorang yang tidak percaya atau orang yang sedikit tahu tentang sabdaNya mengajukan pertanyaan, mengapa orang-orang Kristen tidak dapat membangkitkan orang mati sebagaimana yang dilakukan Petrus? Seorang Kristen yang matang, jika ia berusaha menjadi satu dengan Kristus, akan menjawab ‘Kalian mengecam saya seakan saya tidak logis karena saya tidak melakukan mukjizat. Dapatkah kamu mengatakan kepada mata bahwa ia tidak termasuk bagian dari tubuh kalau ia tidak memiliki kemampuan untuk melihat?’ Jika mereka mendesak, katakanlah: ‘Haruskah kamu melakukan hal yang sama seperti Petrus lakukan?’ Kebalikannya benar! Petrus melakukan itu dalam nama Kristus. Sejak semula saya menjadi bagian dari Tubuh sebagaimana Petrus, dalam kesatuan dengan Tubuh yang sama, saya mampu melakukan apa yang ia lakukan, jika saya tetap bersatu dengan Tubuh. Tetapi jika saya berarti sedikit saja dari diri saya, Kristus turun kepada saya dalam kerendahan saya, dan saya bersukacita dalam keagunganNya.”&lt;br /&gt;Dalam kesimpulannya, St. Agustinus melihat pertanyaan yang diajukan Yesus kepada Saulus dalam perjalanan ke Damsyik&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; sebagai bukti bahwa Kristus dan Gereja adalah satu: “Tuhan kita berseru dari sorga atas nama Tubuh-Nya: ‘Saulus, Saulus, mengapa kamu menganiaya Aku?’ Tak seorang pun menyentuh diri-Nya secara pribadi, tetapi sang Kepala berteriak dari sorga atas nama Tubuh-Nya yang menderita di bumi.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya Saulus tidak menganiaya Pribadi Kristus yang tidak pernah dikenalnya “dalam daging,” karena pada waktu itu Yesus sudah bangkit dari mati, karena itu sudah tidak tampak lagi. Paulus mencari untuk memenjarakan orang-orang Kristen yang dapat dilihatnya.&lt;br /&gt;Dua konsep yang saling melengkapi menjadi inti dari pemikiran Paulus: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. […] Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari kutipan ini St. Yohanes Krisostomus menulis: “’demikian pula Kristus.’ Ia seharusnya mengatakan, ‘demikian pula Gereja,’ […] Menggantikan  nama ‘Kristus’ menjadi nama ‘Gereja’ […] Dengan mengganti kata untuk ‘Gereja’ dengan nama Kristus, ia memaksudkan: ‘Demikian pula Tubuh Kristus, yang adalah Gereja.’”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Secara sederhana St. Yohanes Krisostomus mau menggarisbawahi bahwa, dalam arti tertentu, Kristus dan Gereja adalah dua istilah yang dapat saling menggantikan.&lt;br /&gt;Paulus tidak pernah menyebut pribadi tertentu sebagai “tubuh” atau “Tubuh Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Obyek dari kiasan tentang Tubuh selalu dimaksud komunitas Kristen, baik dalam arti Gereja lokal,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; atau Gereja universal, baik secara implisit&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt; atau secara eksplisit.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kiasan ini diterapkan pada komunitas Kristen yang sudah memiliki struktur yang jelas dengan para pemimpin dan pengikut, dengan berbagai tugas,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt; singkatnya, sesuatu yang jelas dan dapat dilihat, sebagaimana yang diungkapkan dengan kata “tubuh”.&lt;br /&gt;Ciri dinamis dari penerapan kiasan tubuh ini pantas mendapat tekanan. Kenyataannya, Paulus memikirkan sebuah keberfungsian tubuh dengan anggota-angotanya, sebuah tubuh yang bertumbuh dan berkembang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Tradisi selalu menggunakan bahasa kiasan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat kepada jemaat di Korintus perbandingan dibuat antara tubuh fisik kita dengan Kristus,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; sementara dalam surat kepada jemaat di Roma perbandingannya adalah antara tubuh fisik kita, suatu kesatuan dengan bagian-bagian yang berfungsi, dan komunitas Kristen, suatu kesatuan dalam keberagamannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kiasan tentang “Gereja, Tubuh Kristus,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt; secara implisit memuat gagasan bahwa misi Gereja adalah sama seperti tubuh fisik Kristus.&lt;br /&gt;Tubuh fisik Kristus adalah sarana Penebusan. Sang Sabda membutuhkan tubuh, lahir dari Perawan Maria, untuk mewujudkan kegiatan ilahinya di bumi, artinya, tubuhnya memungkinkan Dia berkarya dengan cara kelihatan dan secara terbuka menggunakan indra-indra manusiawi.&lt;br /&gt;Secara yang sama dapat dikatakan juga tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam relasi dengan Penyelamat. Gereja, dari dirinya sendiri secara intim bersatu dengan-Nya dan menjadi milik-Nya, persis sama seperti tubuh fisik-Nya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Gereja juga menampilkan alat yang kelihatan yang dipakai Kristus, yang sekarang mulia dan tidak kelihatan, terus berkomunikasi dengan umat manusia di dunia, sebagaimana yang telah Ia lakukan dulu ketika Ia berkeliling dengan tubuh fisik-Nya di kota-kota dan desa di Palestina. Inilah misi agung Gereja: menghadirkan karya Kristus yang sama dan tetap hadir, “satu-satunya Penyelamat,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt; kepada semua orang di segala jaman. Arti dari kiasan “Tubuh Kristus” mencakup kesatuan Gereja dengan Kristus secara ontologis dan sekaligus secara organis.&lt;br /&gt;Kegiatan Komunitas, bukan secara individu, menjadikan Gereja “Tubuh Kristus.” Tindakan seorang Kristen secara pribadi hanya dapat menambah kegiatan komunitas Gereja, seperti Paulus, dengan menunjuk pada dirinya sendiri, dengan jelas menyatakan: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tindakan yang paling agung yang dapat dikerjakan oleh Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah Liturgi, yang adalah tindakan pengantara satu dan sama dari Kristus. “Maka memang sewajarnya juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu setiap perayaan liturgis, sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Maka, Gereja bukanlah pengantara yang lain; Gereja selalu berarti Kristus, pengantara satu-satunya. Dalam hakekat liturgi, karya yang tidak dapat dilihat dari Kristus sang Imam diwujudnyatakan dalam cara yang kelihatan bagi seluruh dunia untuk melihatnya.&lt;br /&gt;Mystici Corporis menyatakan bahwa Gereja memiliki setiap cara yang perlu untuk penyucian: “Sekarang kita melihat bahwa tubuh manusia dilengkapi dengan sarana-sarana yang pas untuk mencukupi hidupnya sendiri, untuk kesehatan dan pertumbuhannya, dan untuk semua anggota-anggotanya. Demikian juga, Sang Penyelamat umat manusia, mengalir dari kebaikan-Nya yang tak terbatas, telah menyediakan dengan cara yang luar biasa untuk Tubuh Mistik-Nya, memberkatinya dengan Sakramen-sakramen, sehingga seakan-akan oleh berkat-berkat yang tanpa putus, anggota-anggotanya dapat ditopang selama hidupnya, dan bahwa suatu persediaan yang murah hati dapat dilakukan untuk kebutuhan-kebutuhan sosial Gereja.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila imam-imam merayakan Sakramen-sakramen dan melaksanakan tugas suci mereka dalam ibadat secara umum, mereka bertindak “atas nama Kristus.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt; Dalam kaitannya dengan hal ini, St. Agustinus dengan tepat mengamati: “Petrus memang membaptis, tetapi sesungghnya Dialah (Kristus) yang membaptis; Paulus memang membaptis tetapi tetap Kristuslah yang membaptis; Yudas memang membaptis, tetap Kristus jugalah yang membaptis.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Gereja sebagai Tubuh Kristus disadari juga melalui penggembalaan dan ajaran resmi para uskup, yang menjadi alat yang kelihatan dari Kristus yang mengajar dan menuntun umat. “Para Uskup secara mulia dan kelihatan mengemban peran Kristus sebagai Guru, Gembala dan Imam Agung, dan bertindak atas nama-Nya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn41" name="_ftnref41"&gt;[41]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;St. Agustinus mencatat perbedaan antara mereka yang melihat dan menyentuh dengan tangan mereka “Sabda Kehidupan”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn42" name="_ftnref42"&gt;[42]&lt;/a&gt; dengan pengikut-pengikut Kristus sepanjang sejarah, yang merupakan Gereja: “Para murid tidak juga melihat Gereja yang tersebar diantara semua bangsa, mulai dari Yerusalem; hal ini masih belum mereka lihat. Mereka melihat sang Kepala dan mereka percaya akan apa yang Kepala katakana tentang Tubuh-Nya (Gereja). Melalui apa yang mereka lihat, mereka percaya akan apa yang belum mereka lihat. Kita sama seperti mereka; kita melihat apa yang belum mereka lihat, kita tidak melihat apa yang mereka lihat. Apa yang kita lihat yang mereka tidak lihat? Gereja yang tersebar di seluruh dunia. Apa yang kita tidak lihat apa yang mereka lihat? Kristus dalam daging. Sama seperti mereka melihat-Nya dan percaya akan Tubuh-Nya, demikian juga kita melihat Tubuh-Nya dan percaya akan sang Kepala. Apa yang mereka lihat dan apa yang sekarang kita lihat saling mendukung. Itu adalah sebuah pertolongan bagi mereka yang telah melihat Kristus, dan lalu mereka mampu percaya kepada Gereja di masa depan. Hal ini juga membantu kita untuk melihat Gereja, sehingga kita percaya bahwa Kristus telah bangkit. Iman mereka terpenuhi berkenaan dengan Kepala; iman kita terpenuhi berkenaan dengan Tubuh. Dengan cara ini keseluruhan Kristus dinyatakan. Akan tetapi mereka tidak melihat-Nya secara utuh, kita juga tidak. Mereka melihat Kepala dan mereka percaya akan Tubuh; kita melihat Tubuh dan percaya akan Kepala. Namun, Kristus tidak kurang untuk siapapun; Dia sepenuhnya hadir dalam semua, sementara Ia masih memiliki sebuah Tubuh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn43" name="_ftnref43"&gt;[43]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; 1 Kor 2:20; lih. 110:17; 2:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Paulus juga memakai kiasan atau perbandingan lainnya, yang beberapa diantaranya cukup dikembangkan dan yang lain hanya disebut sekilas saja. Diantara yang dikembangkan antara lain: sebuah bangunan (lih. Ef 2:19-22), mempelai (lih. Ef 5:22-32), surat Kristus (lih. 2 Kor 3:2-3) dan yang hanya disebut sekilas antara lain: sebuah “keluarga” (lih. Ef 2:9-19); Gal 6:10; Ibr 3:6); sebuah “ladang” yang dikerjakan (lih. 1 Kor 3:6-9); sebuah “pohoh zaitun” dengan akarnya yang kudus dan batang yang terberkati, yang padanya orang-orang yang belum percaya telah dicangkokkan sebagai cabang yang muda (lih. Rom 11:16-24); sebuah “persemakmuran” (lih. Ef 2:12-9); “Kerajaan Allah” (lih. Kis 20:28; 1 Kor 15:24; Kol 1:13; 4:1; 1 Tes 2:12). Paulus juga melihat Gereja sebagai “manusia baru” (lih. Ef 2:15); ide ini didasarkan pada gambaran dasariah dari manusia yang adalah sebuah “ciptaan baru dalam Kristus” (2 Kor 5:17; lih. Kol 3:9; Gal 6:15).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 13. Pius XII menggunakan ungkapan yang kuat untuk menggambarkan ikatan antara Kristus dan Gereja, misalnya: “Penyelamat kita sendiri menopang secara ilahi masyarakat yang didirikan-Nya” (52); “Penyelamat Ilahi dan masyarakat yang adalah Tubuh-Nya membentuk hanya satu pribadi mistik, yakni seperti yang dikutip Agustinus, “keseluruhan Kristus” (Expositions on the Psalms,XVII, 51 dan XC, II.1)” (67). Mengomentari ungkapan dari St. Agustinus, Bapa Suci menyatakan: “Kristus dan Gereja, yang di sini dibawah sebagai Kristus yang lain memperlihatkan terus menerus diriNya, yang merupakan satu manusia baru” (77).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dalam milenium pertama, ungkapan “Tubuh Mistik Kristus” diterapkan hanya untuk Ekaristi sebagaimana yang saksikan oleh Hesychius dari Yerusalem (+450): “Kita menjadi Tubuh Kristus, ketika kita menerima Tubuh Mistik-Nya.” (Glos on the Psalms, Psalm CII.15).&lt;br /&gt;Ketika sebuah diskusi muncul mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi, ungkapan yang sama diterapkan untuk Gereja, sebagaimana dinyatakan oleh Master Simon: “Dalam Sakramen Altar ada dua kenyataan: Tubuh sesungguhnya dari Kristus dan apa yang disimbolkannya, yakni Tubuh Mistik-Nya, Gereja” (Tractatus de Sacramentis Corporis et Sanguinis Domini, dalam H. Weisweiler, Maître Simon et son groupe. De sacramentis, Louvain 1937, p 27; ide yang sama diungkapkan juga pada hal 34).&lt;br /&gt;Ungkapan “Tubuh Mistik” juga dimaksudkan untuk membedakan Gereja dari tubuh badaniah Kristus, yang dilahirkan oleh Perawan Maria, dan kesatuan dari para beriman dengan Kristus di dalam Tubuh yang unik ini dari semua bentuk kesatuan yang lain, baik secara fisik maupun secara moral.&lt;br /&gt;Yohanes XXIII dalam Konstitusi Apostolik Humanae salutis (25 Desember 1961), dengan mana ia memanggil Konsili Vatikan 2, menggunakan ungkapan “Tubuh Mistik,” ketika ia menunjuk pada program kerja pertemuan Konsili. Paulus VI membuat banyak referensi di dalam pidato-pidatonya selama Konsili (29 September dan 4 Desember 11963; 4 September dan 21 November 1964; 14 September, 29 Oktober dan 18 November 1965); Dalam Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964, ia berbicara tentang “segi ilmiah dari Tubuh Mistik” (33).&lt;br /&gt;Lumen Gentium sepenuhnya menggunakan ajaran dari Mystici Corporis (lih. No. 7; no. 8 beberapa kali mengutip ungkapan “Tubuh Mistik” pada catatan kaki); lih. Sacrosanctum Concilium, 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 7:1, 25; 8:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:31&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lih. Plato, Phaedra dan Timaeus.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:1, 3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:4-6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:7-11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:12-30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:31; 13:1-8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:28-30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:22-23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Against Julian, 4,1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:24-25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:26.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Lih. Kis 9:6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Expositions on Psalms, CXXX, 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:12, 27.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; St. Yohanes Krisostomus, Homily XXX; lih. St. Agustinus, Expositions on Psalms, XXX.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Umat beriman biasa disebut “bagian Tubuh (Ef 4:16), atau hanya sebagai “anggota-anggota” (1 Kor 12:24; Rom 12:5; Ef 4:24) atau “anggota-anggota Kristus” (dua kali dalam 1 Kor 6:15), atau “anggota-anggota Tubuh-Nya” (Ef 5:30).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:27.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 10:17; Rom 12:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Lih. Kol 1:18; 2:19; Ef 4:16; 5:23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:4-12; Rom 12:5; Ef 4:1-11, 16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Lih. Kol 2:19; Ef 4:15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Lih. Pius XII, Mystici Corporis, 85.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Lih. Rom 12:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Kita dapat mengelompokkan dalam dua kelompok tulisan-tulisan Paulus yang menyebut “tubuh” dalam arti Gereja: yang biasanya hanya disebutnya “Tubuh” (lih. Kol 1:18; 2:19; Ef 4:16; 5:23) atau”satu Tubuh” (lih. 1 Kor 10:17; 12:13; Rom 12:5; Kol 3:15; Ef 2:16; 3:6; 4:4) dan yang lain ketika ia menyebut “Tubuh Kristus” (lih. 1 Kor 12:27; mungkin juga Kol 2:17; Ef 4:12 – dalam bentuk genetivus “milik Kristus”; Kol 1: 24; Ef 1:3; 5:30 – dengan kata ganti “nya”). Kedua kelompok ini muncul pertama kali dalam surat kepada jemaat di Korintus, yang ditulis sekitar tahun 55 M; karena itu, munculnya mereka dalam tulisan-tulisan Paulus pada jaman yang sama.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 3:23; Gal 3:29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; 1 Tim2:5; lih. Ibr 9:15; 12:24; Yoh 14:5-7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Kol 1:24.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Sacrosanctum Concilium, 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Pius XII, Mystici Corporis, 18&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt; Lumen Gentium, 28. St. Siprianus menulis: “Seorang imam mengambil tempat Kristus” (Letters, 63, 14).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref40" name="_ftn40"&gt;[40]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Tractate on the Gospel of John, 6, 7.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref41" name="_ftn41"&gt;[41]&lt;/a&gt; Lumen Gentium, 21&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref42" name="_ftn42"&gt;[42]&lt;/a&gt; 1 Yoh 1:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref43" name="_ftn43"&gt;[43]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Discourses, CXVI, 6, 6.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-996113562520716680?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/996113562520716680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=996113562520716680' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/996113562520716680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/996113562520716680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-2.html' title='&quot;Kita adalah Satu Tubuh&quot; - Bab 2'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-8410439751313877165</id><published>2009-05-18T17:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:17:52.601-07:00</updated><title type='text'>“Kita adalah Satu Tubuh”  - Bab I</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Sejak dulu dan selalu dimana-mana manusia selalu hidup dalam dunia yang terpecah-belah. Dorongan kekuatan yang membuat sesorang melawan yang lain, sebagaimana yang Kain lakukan terhadap saudaranya Habel,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; tinggal tetap di dalam hati manusia, sumber dari “segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Inilah misteri kejahatan yang tidak mudah dipahami!&lt;br /&gt;Paulus mengenal dengan baik kecenderungan misterius ke arah kejahatan dalam diri pribadi sesorang: “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat [...] Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” sebab “aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Jauh sebelumnya, Ovid membuat penilaian yang sama tentang jiwa manusia: “Saya menemukan hal-hal yang lebih baik dan saya setuju dengannya, namun saya mengikuti hal-hal yang lebih buruk.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Kecendrungan ini, yang dapat dilihat dalam banyak contoh sepanjang sejarah, adalah apa yang membuat pribadi-pribadi menjadi “serigala bagi sesama.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermacam-macam cara,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; semua agama mewartakan damai sebagai kebaikan tertinggi bagi pribadi-pribadi dan seluruh masyarakat yang didasarkan pada kebersamaan dan kesetaraan.&lt;br /&gt;Dalam agama Yahudi, “Tuhan hendak berbicara tentang damai”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; “kepada yang jauh dan yang dekat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Nabi Yesaya menyerukan: “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Mesias yang datang disebut “Raja Damai;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; apabila Ia datang, “serigala akan tinggal bersama domba”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; dan “mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Namun damai hanya datang jika setiap orang dapat menghayati ajaran berikut ini: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Kristen, ketika Yesus dilahirkan, para malaikat berseru: “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Sebab “Kristus adalah damai kita.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Sama seperti ia memaklumkan “berbahagialah orang yang membawa damai”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; pada malam perjamuan terakhir Yesus menyampaikan sabda perpisahan dengan mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Dalam Perjanjian Baru, Paulus adalah yang paling setia meneruskan seruan damai ini.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Bagi orang Kristen, damai adalah buah dari kasih abadi: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Islam, satu dari “nama-nama yang paling indah” untuk Allah adalah Damai.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Quran melanjutkan: “Jika dua kelompok orang beriman berselisih satu terhadap yang lain, usahakanlah damai diantara mereka dengan keadilan; dan bertindaklah dengan adil, sebab Allah mengasihi orang benar. Semua yang percaya adalah saudara. Maka usahakanlah damai diantara kamu sesama saudara dan takutlah akan Allah, jika kamu menghendaki Allah menunjukkan belas kasih-Nya bagimu.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, seruan ini seperti terabaian. Berabad-abad kita menyaksikan banyak peperangan yang memecah-belah dunia dan tindakan-tindakan sederhana yang telah memecah-belah umat manusia, kerapkali atas nama salah satu dari tiga agama besar yang sebenarnya mengakui Abraham sebagai bapa bersama. Dalam agama-agama itu sendiri terdapat keretakan-keretakan yang tidak dipulihkan di antara penganut iman yang sama, berikut dengan perpecahan dan pertengkaran.&lt;br /&gt;Dalam agama Kristen, perpecahan diantara pengikut Kristus terjadi sejak awal mula, meskipun Lukas menggambarkan dengan bagus suatu komunitas ideal, dimana suatu “persekutuan”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; yang akrab, yang membuat mereka “sehati dan sejiwa.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Namun jelas ada perpecahan dalam jemaat di Yerusalem dan di Korintus.&lt;br /&gt;Jemaat di Yerusalem pada mulanya terdiri dari kelompok Yahudi Palestina yang disatukan oleh bahasa Aram dan kebiasaan yang sama. Jumlah murid-murid Yesus bertambah terus dari hari ke hari.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Meskipun pendatang-pendatang baru kemudian terutama dari Yahudi, ada juga beberapa dari kalangan Yunani di antara mereka, yakni mereka yang lahir dan tinggal di Diaspora. Penulis Kisah Para Rasul membuat daftar panjang orang-orang ini diantara para pendengar kotabah Petrus pada hari Pentakosta&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; dan mereka yang menyerang Stafanus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Ibrani memandang mereka yang dari kebudayaan Yunani sebagai warga kelas dua. Tidak diragukan bahwa pandangan ini dibawa juga ke dalam Gereja ketika mereka menjadi Kristen. Diantara orang-orang Kristen-Yunani, para janda mereka terutama diabaikan. Mereka bukan hanya telah kehilangan suami-suami mereka, tetapi juga sarana-sarana untuk menunjang keluarga mereka, sebab mereka tidak dapat kembali ke daerah asal mereka yang jauh, dan tidak juga bisa masuk ke sinagoga untuk mendapat bantuan.&lt;br /&gt;Situasi yang sebenarnya bisa jadi lebih rumit daripada yang digambarkan dalam Kisah. Ini salah satu petunjuk awal bahwa sebuah komunitas Kristen sangat beraneka ragam. Kedua kelompok itu, yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, merasa tidak senang dibawah pengaturan satu kelompok. Mereka, “orang-orang pinggiran” yakni kaum Yunani menuntut otonomi yang lebih besar dalam komunitas, untuk menjaga identitas dan kebebasan mereka mengungkapkan diri dalam bahasa dan budaya mereka.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu “timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Meskipun “pembagian makanan” juga penting, namun pastilah itu bukan satu-satunya masalah atau yang paling penting. Keluhan mereka “diabaikan” begitu serius sehingga sungut-sungut mereka mengancam kesatuan komunitas. Dalam menggambarkan kejadiannya, Lukas menggunakan kata sungut-sungut gonghysmós yang dulu digunakan bangsa Ibrani bersungut-sungut memberontak melawan Musa di padang gurun.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemilihan tujuh diakon,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani menjadi sebuah kelompok yang terpisah dari kelompok Yahudi, bahkan jika hanya soal “pembagian jatah makanan.” “Dewan Tujuh Diakon” ini dibentuk disamping “Kelompok Dua Belas” walaupun posisinya agak dibawah. Jadi meskipun semua tergantung pada Sabda yang sama, setiap kelompok memiliki fungsi khas dan “dilayani” sesuai dengan “jabatan”nya masing-masing.&lt;br /&gt;Selanjutnya disamping perpecahan yang disebabkan oleh pengabaian pada para janda dari mereka yang berbahasa Yunani dalam jemaat di Yerusalem, ada masalah lain yang menimbulkan perdebatan serius, seperti masalah yang menjengkelkan apakah laki-laki yang bertobat menjadi Kristen perlu disunat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Masalah ini diselesaikan, sekurang-kurangnya “secara resmi” dalam Konsili Yerusalem,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; bersama dengan masalah aturan Yahudi tentang makanan yang dilarang, yang menyebabkan perpecahan lebih lanjut dalam komunitas Kristen awal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan lain yang terjadi dikalangan pengikut-pengikut awal Kristus terekam dalam surat pertama kepada jemaat di Korintus.&lt;br /&gt;Dalam masanya Paulus, Korintus adalah sebuah kota kosmopolitan tempat orang-orang Yunani, Romawi,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt; sejumlah kelompok Yahudi dari Diaspora&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt; dan banyak suku bangsa minoritas lainnya tinggal, karena alasan perdagangan yang maju. Keberagaman orang menimbulkan beragam bahasa, kebiasaan dan terutama agama.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama satu setengah tahun ia tinggal di Korintus (51-52 Masehi), Paulus mendirikan sebuah komunitas Kristen yang jelas menggambarkan sifat sebuah kota kosmopolitan. Sesungguhnya, sebagaimana dinyatakan Paulus dalam suratnya, mereka terdiri dari orang-orang Kristen Yunani yang aslinya kafir dan dari kelas bawah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt; dan orang-orang Kristen Yahudi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Maka tidaklah mengherankan perpecahan dapat muncul dalam lingkungan seperti ini. Paulus sungguh menyadari adanya ketegangan antara kelompok Yahudi dan Yunani ini,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt; antara budak dan orang-orang merdeka,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt; antara laki-laki dan kaum perempuan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt; dan antara kaya dan miskin.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn41" name="_ftnref41"&gt;[41]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan-perpecahan di atas bukanlah satu-satunya ancaman terhadap komunitas di Korintus. Beberapa kelompok perlahan-lahan mulai terbentuk di sekitar tiga pemimpin Kristen yang berpengaruh: Petrus, Paulus dan Apolos, “seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci,” yang telah mengunjungi Korintus&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn42" name="_ftnref42"&gt;[42]&lt;/a&gt; dan yang diundang lagi kemudian oleh Paulus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn43" name="_ftnref43"&gt;[43]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paulus menulis: “Aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas,” Jawaban Paulus terhadap kelompok-kelompok yang berselisih adalah: “Aku dari golongan Kristus!”&lt;br /&gt;Paulus menunjukkan seriusnya perpecahan dengan mengajukan empat pertanyaan refleksif: “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn44" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn44" name="_ftnref44"&gt;[44]&lt;/a&gt; Untuk menyimpulkannya ia bertanya kepada mereka: “Karena jika yang seorang berkata: ‘Aku dari golongan Paulus,’ dan yang lain berkata: ‘Aku dari golongan Apolos,’ bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn45" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn45" name="_ftnref45"&gt;[45]&lt;/a&gt; Dengan membuat pernyataan-pernyataan ini, jemaat di Korintus meniadakan keselamatan yang diperoleh hanya oleh Kristus.&lt;br /&gt;Paulus sungguh tidak dapat menerima bahwa “Kristus” terbagi-bagi, yakni, “Tubuh Kristus, Gereja.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn46" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn46" name="_ftnref46"&gt;[46]&lt;/a&gt; Sehingga ia dengan sepenuh hati mendesak jemaat di Korintus: “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn47" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn47" name="_ftnref47"&gt;[47]&lt;/a&gt; Sebab Kristus telah meruntuhkan “tembok pemisahan” yang memisahkan Yahudi dan bangsa lain, dan membuat mereka menjadi satu,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn48" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn48" name="_ftnref48"&gt;[48]&lt;/a&gt; “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus;”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn49" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn49" name="_ftnref49"&gt;[49]&lt;/a&gt; “baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn50" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn50" name="_ftnref50"&gt;[50]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang-orang Korintus bertanya kepada Paulus tentang karisma untuk bernubuat atau berbicara dalam bahasa Roh dalam keadaan sukacita yang mendalam adalah karisma yang paling penting, Paulus mengungkapkan pendapat pribadinya tentang karisma-karisma tersebut, sebab itu lebih berguna untuk pembangunan jemaat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn51" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn51" name="_ftnref51"&gt;[51]&lt;/a&gt; Namun dengan cepat ia menambahkan: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn52" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn52" name="_ftnref52"&gt;[52]&lt;/a&gt; Kiranya lima kata yang dimaksudkan Paulus “lebih suka berbicara ditengah jemaat” adalah mengenai masalah kasih.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal ini, ketika Paulus menulis kepada jemaat yang terpecah di Korintus, ia menyusun sebuah madah dan sekaligus teologi yang paling mengesankan bukan hanya dalam seluruh suratnya melainkan juga dalam semua tulisan-tulisan rohani yang pernah ada – yang terkenal dengan Madah Kasih: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.  Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn53" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn53" name="_ftnref53"&gt;[53]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kasih manusia tidak berarti apa-apa walau apa yang ia katahui, atau ia miliki, atau ia percaya maupun apa yang ia lakukan: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn54" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn54" name="_ftnref54"&gt;[54]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Inilah pesan Paulus bagi dunia yang terpecah-belah saat ini: “Kejarlah kasih itu,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn55" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn55" name="_ftnref55"&gt;[55]&lt;/a&gt; sebab kasih adalah karunia paling tinggi diantara semua karisma dan penopang untuk setiap orang. Hanya melalui kasih perpecahan dapat diatasi; hanya melalui kasih damai dapat lahir di hati; hanya melalui kasih umat manusia dapat menjadi satu keluarga yang besar.&lt;br /&gt;Sama seperti yang dilakukan oleh Menenius Agrippa di masa Roma Kuno dengan dongeng yang terkenal ia menunjukkan perlunya solidaritas diantara kelas-kelas sosial, Paulus mengetengahkan kasih secara teologis melalui penerapan kiasan tubuh kepada Gereja: “maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn56" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn56" name="_ftnref56"&gt;[56]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paulus menemukan “keseluruhan Kristus,”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn57" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn57" name="_ftnref57"&gt;[57]&lt;/a&gt; yakni Tubuh Kristus dan Kristus, Kepala Jemaat, pada saat pertobatannya. Ketika ia bertanya kepada suara misterius dari sorga “Siapakah engkau?” Dia mendengar jawaban: “Akulah Yesus yang engkau aniaya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn58" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn58" name="_ftnref58"&gt;[58]&lt;/a&gt; Kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus menyamakan diri-Nya dengan para pengikut-Nya, sebagaimana St. Agustinus mencatat: “Tuhan sendiri berseru dari sorga atas nama Tubuh-Nya: ‘Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?’ Tidak ada seorang pun yang pernah menyentuhNya secara pribadi, tetapi sang Kepala berseru dari sorga mewakili Tubuh-Nya yang menderita di bumi.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn59" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn59" name="_ftnref59"&gt;[59]&lt;/a&gt; Saulus bukan menganiaya Pribadi Kristus, yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya, Kristus sudah bangkit dan karena itu tidak dapat dijamah lagi. Tetapi ia mencari untuk memenjarakan orang Kristen yang dapat dilihatnya.&lt;br /&gt;Yesus sekali lagi menjelaskan pernyataan langsung identifikasi diri-Nya dengan para murid-Nya: “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn60" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn60" name="_ftnref60"&gt;[60]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Origenes yang mengomentari kiasan Paulus tentang tubuh manusiawi, memperhatikan bahwa “keseluruhan Kristus” tidak dapat diwujudnyatakan tanpa kesatuan antara Dia dan anggota-anggota Gereja: “Jika kamu sebagai anggota Gereja merasa tidak bahagia atas hilangnya anggota yang lain, betapa lagi Tuhan dan Penyelamat, yang adalah Kepala dan dan Penguasa dari seluruh Tubuh akan merasa tidak bahagia.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn61" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn61" name="_ftnref61"&gt;[61]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperingati saat ketika Paulus menemukan “keseluruhan Kristus,” kami mempersembahkan dalam buku kecil ini berbagai gambaran yang berkaitan dengan pertobatan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn62" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn62" name="_ftnref62"&gt;[62]&lt;/a&gt; dan pewartaan pesannya yang terus menerus masih relevan untuk dunia jaman sekarang ini, yang tercabik oleh peperangan di berbagai negara&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn63" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn63" name="_ftnref63"&gt;[63]&lt;/a&gt; dan yang terpecah-pecah oleh karena suku, agama, budaya, politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roma, 4 Oktober 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Francesco Gioia, Archbishop&lt;br /&gt;Pontifical Administrator&lt;br /&gt;Of the Patriarchal Basilica of St. Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« &lt;em&gt;Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.  Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati."&lt;/em&gt; (Kis 17:22-31)»&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Ketika Anggota-anggota Tubuh Belum Bertindak sebagai Satu …”&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn64" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn64" name="_ftnref64"&gt;[64]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia menarik perhatian sebab anggota-anggotanya yang banyak dan harmonis. Kedua ciri ini telah menginspirasi banyak pengarang membuat perbandingan antara tubuh dan masyarakat manusia, sebab keduanya memakai kesatuan organis di dalam struktur, walaupun banyak bagian-bagian dan beragam fungsi yang mengerjakan tiap bagiannya. Menenius Agrippa dan Seneca menerapkan tubuh pada masyarakat negara pada masanya dan Paulus melakukan hal yang sama, ketika ia berbicara tentang komunitas Kristen yang membentuk Gereja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn65" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn65" name="_ftnref65"&gt;[65]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 509 SM, kondisi yang sudah kritis dari kehidupan rakyat jelata di Roma diperparah dengan adanya perang melawan Porsenna yang legendaris, Raja Etruscan dari Chiusi dan sekutu-sekutunya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn66" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn66" name="_ftnref66"&gt;[66]&lt;/a&gt; Untuk bertahan hidup, kepala-kepala keluarga-keluarga harus berhutang dalam jumlah yang besar. Ketika mereka tidak mampu untuk membayar, seluruh keluarga dijadikan budak. Dipaksa oleh keadaan putus asa, mereka memutuskan untuk berhenti bekerja dan melarikan diri ke Mons Sanctus (Gunung Suci), dekat Anio.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, bangsa Volcius sedang bersiap-siap untuk meduduki Roma. Titus Livius (59 SM – 17 Sesudah Masehi) mengatakan bahwa para bangsawan, yang tidak mampu melawan perang ini seorang diri, mencoba meyakinkan rakyat jelata untuk kembali ke kota dan memutuskan untuk mengirim  kepada mereka seorang utusan, Menenius Agrippa, seorang konsul Roma pada tahun 503 SM, yang menaklukkan Sabines pada tahun 494 SM, dan yang dianggap “seorang yang fasih berbicara dan diterima oleh orang-orang desa, karena ia sendiri berasal dari desa.”&lt;br /&gt;Menenius, “dalam gaya yang sederhana yang umum untuk orang-orang jaman itu,” menceritakan dongeng yang terkenal tentang bagian-bagian dari tubuh, yakni para penduduk desa memberontak melawan perut, yang mewakili para bangsawan, yang akibatnya menyakiti seluruh tubuh, yang melambangkan negara.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn67" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn67" name="_ftnref67"&gt;[67]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ketika semua bagian dari tubuh manusia tidak bertindak sebagai satu kesatuan, setiap anggota mencari dirinya sendiri dan memiliki pikirannya sendiri. Anggota-anggota ini, dengan marah melihat bahwa semua yang dicapai melalui usaha, pekerjaan dan pelayanan mereka lari ke perut, sementara itu perut tenang-tenang di tengah dan tidak berbuat apa-apa selain menikmati kenikmatan yang telah disediakan. Lalu para anggota bersekongkol. Tangan tidak mau membawa makanan ke mulut; mulut pun tidak mau menerima jika disuapi; dan gigi tidak mau mengunyah. Akan tetapi dalam kebencian dan keinginan mereka untuk membuat lapar perut supaya takluk, para anggota sendiri menderita, dan seluruh tubuh menjadi tidak berdaya sama sekali. Hal ini menjadi jelas bahwa perut bukannya tidak menyumbangkan pelayanan dengan bermalas-malasan, dengan diberi makan sebagai gantinya ia menyediakan sari makanan bagi seluruh bagian-bagian dari tubuh dengan mencernakan makanan dan menyalurkannya daya hidup dan kekuatan melalui urat nadi bagi setiap bagian.”&lt;br /&gt;Titus Livius menyimpulkan: “Dengan menggunakan kiasan ini, dia menunjukkan bagaimana penyelewengan di dalam dari berbagai bagian dari tubuh menyerupai darah jelek seperti orang-orang desa yang melawan para bangsawan, dan, pada akhirnya, berhasil memenangi para penontonnya.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn68" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn68" name="_ftnref68"&gt;[68]&lt;/a&gt; Pada kenyataannya, para penduduk desa begitu terkejut dengan dongeng ini sehingga mereka menyadari bahwa korban pertama dari protes mereka adalah diri mereka sendiri. Perut bukanlah satu-satunya yang terhukum, tetapi seluruh tubuh. Mereka berjanji untuk kembali ke Roma dengan syarat hutang-hutang mereka dibatalkan dan sebuah tubuh yang demokratis dibentuk untuk menjaga hak-hak mereka (pengadilan rakyat).&lt;br /&gt;Seneca (50 SM – 40 Ses. M), orang yang sebaya dengan Paulus, bersandar pada gambaran tubuh yang sama, ketika ia menegaskan perlunya solidaritas diantara manusia demi hidup yang tenang. Tetapi ia menambahkan sebuah sisi yang menggelitik.&lt;br /&gt;Ia mengajukan pertanyaan: “bagaimana kita memperlakukan sesama. Apa tujuan kita? Aturan apa yang kita tawarkan? Haruskah kita tawar-menawar supaya jangan terjadi pertumpahan darah? Mudah untuk tidak melukai seseorang yang seharusnya engkau tolong! Adalah berguna memperlakukan sesama dengan baik! Haruskah kita memberi nasehat supaya orang mengulurkan tangan bagi pelaut yang kapalnya karam, atau memberi tahu arah jalan bagi orang yang sedang tersesat atau berbagi sekeping roti bagi seorang yang kelaparan? Ya, semoga saya dapat mengatakan pertama-tama kepadamu, apa yang seharusnya dibagikan dan apa yang harus disimpan. Sementara itu saya dapat menetapkan sebuah aturan untuk seluruh umat manusia, sebuah hukum, menyangkut kewajiban-kewajiban kita dalam relasi-relasi kita: semua yang harus kamu lihat, yang terdiri dari baik Allah maupun manusia, adalah satu – kita adalah bagian dari sebuah tubuh yang besar. Alam melahirkan kita, maka kita berhubungan satu dengan yang lain; dia menciptakan dari sumber yang sama dan untuk tujuan yang sama. Dia melahirkan afeksi yang saling timbal balik di dalam diri kita, dan membuat kita siap untuk membentuk persahabatan. Dia mengadakan kejujuran dan keadilan; menurut aturannya,  adalah lebih celaka menyebabkan penderitaan daripada sendiri menderita luka-luka. Sebagai jawabannya, biarlah tangan kita siap untuk menolong semua yang membutuhkan [...] Marilah kita menempatkan semua milik kita tersedia bagi sesama, sebab dalam kelahiran, kita berbagi kehidupan yang sama.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn69" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn69" name="_ftnref69"&gt;[69]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, harus ditunjukkan bahwa kesatuan yang dibela oleh Menenius Agrippa dan Seneca secara mendalam berbeda dengan kesatuan yang Paulus minta pada para pengikut Kristus, ketika ia menggunakan kiasan yang sama dari tubuh manusia, sebagaimana yang akan kita lihat kemudian.&lt;br /&gt;Kenyataannya, kesatuan dari berbagai bagian dari masyarakat, sebagaimana yang digambarkan dalam dongeng Agrippa dan tulisan-tulisan Seneca, adalah kesatuan eksternal, yang pada dirinya sendiri perlu untuk mencapai suatu tujuan tertentu, seperti, berfungsinya secara mulus suatu struktur organisasi, untuk menjamin kehidupan yang pantas dan damai. Menenius juga sadar hal ini, dalam pernyataannya dengan jelas ia mengatakan bahwa pemberontakan melawan perut terjadi “ketika anggota-anggota tubuh tidak lagi bertindak sebagai satu kesatuan, tetapi masing-masing mencari untuk dirinya sendiri dan memiliki pendapatnya sendiri.”&lt;br /&gt;Kesatuan yang Paulus bicarakan adalah kesatuan hakiki untuk Gereja, yang menjadi kodratnya. Tanpa kesatuan ini komunitas Kristen tidak dapat ada.&lt;br /&gt;Yesus berdoa kepada Bapa-Nya bagi para murid-Nya dan “juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu.” Dalam doa ini Ia mengungkapkan ciri asli yang mutlak dari kesatuan yang harus ada diantara para anggota Gereja. “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita […] supaya mereka sempurna menjadi satu.” Dan Ia menunjukkan juga maksud sesungguhnya dari kesatuan ini: “agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn70" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn70" name="_ftnref70"&gt;[70]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paus Yohanes paulus II mengamati: “Kesatuan ini, yang telah dianugerahkan Tuhan bagi Gereja-Nya dan yang diharapkannya menyebar ke semua orang, bukanlah sesuatu yang ditempelkan, tetapi sesuatu yang berdiri pada jantung misi Kristus. Sifat itu bukan pula tambahan pada sifat komunitas para murid.  Ia terutama unsur hakiki dari komunitas ini. Allah menghendaki Gereja, sebab Dia menghendaki kesatuan. […] Mempercayai Kristus berarti menginginan kesatuan; mengingini Gereja berarti mengingini kesatuan dari rahmat yang berkaitan dengan rencana Bapa sejak segala abad. Itulah makna dari doa Kristus: ‘Ut unum sint.’”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn71" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn71" name="_ftnref71"&gt;[71]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan yang dimohonkan kepada Bapa-Nya adalah bahwa yang ada diantara ketiga Pribadi dari Trinitas. Sayangnya, kesatuan yang seperti ini tidak dapat sepenuhnya dicapai oleh umat manusia dalam kehidupan ini. Namun demikian, Yesus memberitahukan kepada para pengikut-Nya bahwa jalan menuju kesatuan berkelanjutan; mereka hanya perlu ambil bagian di dalam komunio yang menjadi ciri dari Trinitas: “Komunio orang-orang Kristen tidak lain daripada pengejawantahan dalam diri mereka rahmat yang dengannya Allah membuat mereka berbagi satu sama lain di dalam komunio ...”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn72" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn72" name="_ftnref72"&gt;[72]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan yang akrab dari orang-orang Kristen dengan Kristus juga mendapat ungkapannya dalam gambaran pokok anggur dan cabang-cabangnya. Yesus membuat sebuah seruan nyata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn73" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn73" name="_ftnref73"&gt;[73]&lt;/a&gt; Tanpa komunio dengan pokok ini, yakni Kristus, cabang tidak berbuah; ia menjadi layu dan diperuntukan bagi api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Lih. Kej 4:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Mat 15:19; bdk. Mrk 7:21-22.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Rom 7:15, 19, 21.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ovid, Metamorphoses, VII, 20 (Video meliora proboque, deteriora sequor).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Plato, Asinaria, II, 8 (Homo homini lupus). Filsuf Thomas Hobbes (1588-1679) memakai ungkapan ini sebagai topik utama dalam teori moralnya: manusia bertindak hanya keluar dari kepentingan dirinya dan menciptakan masyarakat hanya melarikan diri dari kekejaman yang terus menerus membuat semua orang saling bermusuhan (Bellum omnium contra omnes) dan kemudian menyelamatkan dirinya sendiri&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; St. Agustinus merumuskan dengan tajam beberapa aspek dari damai dengan cara berikut ini: “Kedamaian tubuh terdiri dari pengaturan yang semestinya dan sewajarnya dari bagian-bagiannya. Kedamaian dari jiwa yang irrasional adalah penempatan yang harmonis dari nafsu-nafsu, dan dari jiwa yang rasional adalah keseimbangan antara pengetahuan dan tindakan. Kedamaian tubuh dan jiwa adalah hidup dan kesehatan yang teratur dan harmonis dari makhluk hidup. Damai antara manusia dan Allah adalah ketaatan iman yang tertib terhadap hukum abadi. Damai antara manusia dengan sesama adalah kerukunan yang tertata. Kedamaian dalam rumah tangga adalah kerukunan yang tertata antara semua dalam keluarga, antara mereka yang memimpin dan mereka yang mentaati. Kedamaian dalam masyarakat adalah kerukunan diantara warganya. Kedamaian dalam kota surgawi adalah sukacita yang teratur dan harmonis secara sempurna bersama Allah, dan satu dengan yang lain di dalam Allah. Kedamaian dari segala sesuatu adalah keheningan dari keteraturan. Keteraturan adalah pembagian dari bermacam-macam hal, yang sama dan tidak sama, masing-masing pada tempatnya sendiri.” (The City of God, XIX, 13).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Mzm 85:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Yes 57:19; Lih. Dan 3,98; 6:26.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Yes 52:7; . bdk. Nah 2:1. Salam damai adalah tema yang terus berulang dalam Perjanjian Lama (lih. Est 4:18; Hak 6:23; 1 Sam 25:6; 1 Taw 12:19; Tob 12:17; 1 Mak 7:33; 2 Mak 1:1; Mzm 125:5; 128:6; Sir 50:23).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Yes 9:5&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Yes 11:6; bdk. 65:25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Mik 4:3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Im 19:18.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Luk 2:14; lih. Ef 2:17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Ef 2:14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Mat 5:9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Yoh 14:27; bdk. 16:33.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Beberapa seruan termasuk: “Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.”  (1 Kor 7:15); “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.” (Kol 3:15; bd. Flm 4:7, 9; Rom 1:7; 15:13, 32); “Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu.” (2 Tes 3: 16); “Hiduplah dalam damai.” (2 Kor 13:11; bd. Rom 12:18; 1 Tes 4:11; 5:13); “Berusahalah hidup damai dengan semua orang.” (Ibr 12: 14; bdk 2 Tim 2:22); “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya.” (1 Tes 5:23; bdk. Ibr 13:20); “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera.” (Rom 14: 19; bdk. 2:10; 2 Tes 3:12); “Buah Roh ialah: damai.” (Gal 5:22; lih. Rom 8:8; 4:17; Ef 4:3).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Yoh 13:34-35.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Quran, Sura 59,23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Quran, Sura 49,9-10. Bdk Sura 3,103: “Ingatlah akan manfaat yang Allah telah curahkan atas kamu: dahulu kamu bermusuhan dan dia telah menyatukan hati-hatimu dan melalui rahmatnya kamu telah menjadi saudara.”&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Lih. Kis 2:42.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Kis 4:32&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Lih. Kis 6:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Lih. Kis 2:7-11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Lih. Kis 6:9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Kis 6:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Lih. Kel 14:11-12; Bil 11:1-6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt;Angka “7” itu dapat diperdebatkan. Para diakon jelas semuanya orang-orang Kristen dari kalangan Yunani, dengan memperhatikan nama-nama mereka, dengan kekecualian untuk Nikolaus, yang adalah “seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia” (Lih. Kis 6:5).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Lih. Kis 11:12; 15:1-2; 21:21; Gal 2:11-15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Lih. Kis 15:8-29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor8-10; Kis 15:20,29; 21:25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Lih. Cicero, Tusculan Disputations, 3, 5, 3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Lih. Philo dari Alexandria, The Legatio ad Gaium, 281-282; Kis 18, 4.7-8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa Paulus orang sangat berpengaruh di kalangan bangsa Yahudi (18:6), sehingga Krispus pemimpin sinagoga di sana ditobatkan menjadi Kristen (18:4, 7-8) dan bahwa seorang yang belum percaya, Titius Yustus menerima dia di dalam rumahnya dekat sinagoga. Pemujaan terhadap Dewi Aphrodite Pandemos (= dari semua bangsa) menjadi sangat penting pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 1:26; 8:7; 10:114-20; 12:2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 1:22-24; 10:32; Kis 18:8.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 12:3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 7:21-23; 2:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref40" name="_ftn40"&gt;[40]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 7:-40; 11:3-15; 14:34-35.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref41" name="_ftn41"&gt;[41]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 1:21-22.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref42" name="_ftn42"&gt;[42]&lt;/a&gt; Lih. Kis 18:24-19:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref43" name="_ftn43"&gt;[43]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 6:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn44" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref44" name="_ftn44"&gt;[44]&lt;/a&gt; 1 Kor 1:11-13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn45" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref45" name="_ftn45"&gt;[45]&lt;/a&gt; 1 Kor 3:4.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn46" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref46" name="_ftn46"&gt;[46]&lt;/a&gt; Kol 1:24; 1 Kor 12:12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn47" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref47" name="_ftn47"&gt;[47]&lt;/a&gt; 1 Kor 1:10.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn48" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref48" name="_ftn48"&gt;[48]&lt;/a&gt; Lih. Ef 2:14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn49" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref49" name="_ftn49"&gt;[49]&lt;/a&gt; Gal 3:28.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn50" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref50" name="_ftn50"&gt;[50]&lt;/a&gt; 1 Kor 12:13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn51" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref51" name="_ftn51"&gt;[51]&lt;/a&gt; Lih. 1 Kor 14:5, 12.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn52" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref52" name="_ftn52"&gt;[52]&lt;/a&gt; 1 Kor 14:18-19.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn53" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref53" name="_ftn53"&gt;[53]&lt;/a&gt; 1 Kor 13:4-8. Dicatat di sini bagaimana Kasih adalah pokok dari sejumlah 15 kata kerja, yang digambarkan Paulus sebagai hakekat kasih terhadap sesama, dan bagaimana istilah “segala sesuatu” yang diulang empat kali memberi belas kasih sebuah dimensi yang meliputi semuanya. Tambahan pula, bahkan jika kasih dihayati di sini sekarang di bumi, ia tidak terikat waktu dan tempat tetapi juga mengarah kepada keabadian: “kasih tidak berkesudahan.” Sebaliknya melalui pertentangan-pertentangan yang logis Madah ini juga mengungkapkan perasaan-perasaan yang berlawanan dari kasih, yang siap menjadi benih yang meracuni kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn54" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref54" name="_ftn54"&gt;[54]&lt;/a&gt; 1 Kor 13:1-3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn55" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref55" name="_ftn55"&gt;[55]&lt;/a&gt; 1 Kor 14:1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn56" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref56" name="_ftn56"&gt;[56]&lt;/a&gt; 1 Kor 10:17. Karya ini yang menerapkan metafora tubuh manusia kepada Gereja menurut pemikiran St. Paulus mencakup 249 bagian dari surat-suratnya (dalam bentuk kutipan atau hanya referensi), dan, dalam keseluruhan konteks, 94 bagian diambil dari berbagai buku dari Kitab Suci (35 dari Perjanjian Lama dan 59 dari Perjanjian Baru), sebagaimana terlihat dalam Indeks Keselurhan Kitab Suci ada 343 kutipan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn57" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref57" name="_ftn57"&gt;[57]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Expositions on tha Psalms, XVII, 51; XC II,1. Bagi Origenes, “Keseluruhan Kristus”  dibentuk bukan hanya oleh Pribadi Kristus dan mat manusia, tetapi juga oleh “keseluruhan ciptaan” (Commentary on the Psalm 36,1)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn58" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref58" name="_ftn58"&gt;[58]&lt;/a&gt; Kis 9:5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn59" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref59" name="_ftn59"&gt;[59]&lt;/a&gt; St. Agustinus, Expositions on Psalms, CXXX, 6&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn60" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref60" name="_ftn60"&gt;[60]&lt;/a&gt; Mat 25:40. Dalam hal ini, Origenes mengamati bahwa penderitaan umat adalah juga penderitaan Kristus. “Dalam diri para murid-Nya yang sejati, Yesus selalu ada di atas salib, terhubungkan dengan para pelaku kejahatan, dan menanggung hukuman yang sama seperti yang Ia alami ketika masih hidup di dunia.” (Against Celsus, II, 44).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn61" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref61" name="_ftn61"&gt;[61]&lt;/a&gt; Origenes, Homily VII on Leviticus, 2.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn62" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref62" name="_ftn62"&gt;[62]&lt;/a&gt; Kerap kali Paulus menunjuk pengalaman pertobatannya di dalam surat-surat dan pewartaannya (lih. 1 Kor 15:9-10; Gal 1:13-23; Flp 3:6; 1 Tim 1:12-14; Kis 9:1-9; 22:1-21; 26:9-18).&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn63" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref63" name="_ftn63"&gt;[63]&lt;/a&gt; Tidaklah mengherankan bahwa Pius VII mengundang dunia Kristen untuk merefleksikan Gereja sebagai “Tubuh Mistik” Kristus, yang diterbitkan dalam Ensiklik Mystici Corporis, 29 Juni 1943, “ketika konflik yang luar biasa besar telah menyalut api hampir di seluruh dunia dan menyebabkan begitu banyak kematian, penderitaan dan kesulitan, … Dalam masa yang paling sulit ini, saudara-saudara yang terkasih, ketika tubuh-tubuh disiksa dengan kesakitan dan jiwa-jiwa ditekan dengan kepedihan, setiap individu harus bangkit menuju amal kasih yang mengatasi kodrat sehingga dengan segala usaha yang bersatu dari semua orang yang berkehendak baik berusaha keras mengalahkan satu sama lain dalam kasih dan belas kasihan – Kita tahu khususnya, mereka yang terlibat dalam karya pertolongan manapun – kebutuhan umat manusia yang luar biasa, baik  yang rohani maupun yang jasmani, dapat diringankan, dan kemurahan hati yang tulus, berkat yang tidak habis-habisnya dari Tubuh Mistik Kristus, dapat bersinar dengan cemerlang di seluruh dunia.” (Mystici Corporis, 106 dan 96; lih. 5-6)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn64" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref64" name="_ftn64"&gt;[64]&lt;/a&gt; Titus Livius, The History of Rome, Vol. I, Book 2,32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn65" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref65" name="_ftn65"&gt;[65]&lt;/a&gt; Tidak diketahui apakah Paulus sebagai warga Roma (lih. Kis 16:37; 22:25-27; 23:27), mengenal dongeng Menenius Agrippa.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn66" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref66" name="_ftn66"&gt;[66]&lt;/a&gt; Menurut tradisi Etruscan, Raja Roma Tarquinius yang sombong, yang terbuang dari kota, berbalik kepada Porsenna dan beberapa kota di Etruria untuk meminta bantuan mengambil alih tahtanya. Porsenna menyerang Roma dan menaklukkannya, tetapi sebagai imbalan nya, ia menetapkan syarat-syarat yang berat untuk perdamaian. Menurut tradisi Roma, kepahlawanan Horatius Coacles (disebut demikian karena ia bermata satu), Mucius Scaevola dan Clelia memaksa Porsenna untuk meninggalkan pengepungan terhadap kota dan kembali ke Chiusi. Tetapi, apa yang dicatat tentang pahlawan-pahlawan ini kemungkinannya hanyalah penulisan kembali dari sejarah untuk menyembunyikan fakta bahwa kota sudah ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn67" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref67" name="_ftn67"&gt;[67]&lt;/a&gt; Pribadi Menenius Agrippa mungkin berasal dari cerita rakyat. Karena itu sulit untuk memberikan kebenaran historis pada dongeng ini atau sebuah dasar yang masuk akal ntuk menempatkannya pada permulaan abad ke 5 SM dalam sejarah Roma&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn68" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref68" name="_ftn68"&gt;[68]&lt;/a&gt; Titus Levius, The History of Rome, Volume I, Book II, 32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn69" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref69" name="_ftn69"&gt;[69]&lt;/a&gt; Seneca, Moral Epistle to Lucilius,XCV, 51-53.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn70" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref70" name="_ftn70"&gt;[70]&lt;/a&gt; Yoh 17:20-23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn71" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref71" name="_ftn71"&gt;[71]&lt;/a&gt; Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 9.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn72" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref72" name="_ftn72"&gt;[72]&lt;/a&gt; Ibid, 9&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn73" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref73" name="_ftn73"&gt;[73]&lt;/a&gt; Yoh 15:4-6.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-8410439751313877165?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/8410439751313877165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=8410439751313877165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/8410439751313877165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/8410439751313877165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/kita-adalah-satu-tubuh-bab-i.html' title='“Kita adalah Satu Tubuh”  - Bab I'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-4640139661598087350</id><published>2009-05-18T17:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T17:11:33.731-07:00</updated><title type='text'>Yesus sebagai Guru</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mateus Pengarang Injil melihat Yesus terutama sebagai seorang Guru. Ia mengelompokkan sabda Yesus dalam lima pengajaran yang panjang dan menyusunnya secara indah. Kelima pengajaran ini mau menunjuk kepada Lima Kitab Musa, dengan demikian Yesus dilihat sebagai Musa baru yang memberi pengajaran baru.&lt;br /&gt;PengajaranNya yang terbesar dan juga yang paling terkenal adalah apa yang disebut sebagai Kotbah di Bukit (Mat 5.1-7.29), seperti Musa, Yesus naik ke atas bukit. ”dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya kepadaNya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka” (Mat 5.1-2). Rabi-rabi Yahudi biasa duduk sementara mereka mengajar. Duduk adalah suatu sikap beristirahat. Orang Yahudi berbicara tentang kursi pengajaran, kursi Musa, tempat para rabbi duduk mengajar. Tetapi Yesus mengecam mereka karena mereka mengajar dan tidak melaksanakannya dan mereka menutup Kerajaan Sorga bagi orang lain dengan mengedepankan hukum (Mat 23.13). Ketika Yesus duduk mengajar, Yesus memperlihatkan bahwa Ia duduk pada Kursi Allah, bahwa Ia mendasarkan pengajaranNya pada Allah dan mengajar dengan kuasa ilahi. Itulah sebabnya sesudah para pendengarNya mendengar pengajaranNya, dikisahkan dalam Injil “… takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka” (Mat 7.28-29).&lt;br /&gt;Yesus memulai ajaranNya dengan Sabda Bahagia “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah mereka yang berduka cita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5.3f). Awal pengajaran ini sendiri sudah menunjukkan bahwa Yesus sangat berbeda dengan guru-guru lain. Dia tidak mulai dengan menyerukan perintah-perintah dan larangan-larangan. Dia tidak membeberkan suatu ajaran teologi yang baru, suatu system ajaran tentang Allah dan manusia, melainkan Ia menjanjikan keselamatan Allah bagi manusia. Dia mengangkat mereka dengan ajaranNya. Dia membesarkan hati mereka. Dia berbicara langsung ke hati. Mereka disentuh dan digerakkan. Ketika mereka mendengar Yesus, mereka merasa seperti diangkat, dibebaskan, diterima. Mereka disadarkan bahwa diri mereka berharga.  Dan dalam pengajaran Yesus mereka mengalami Allah sebagai Allah yang menghendaki keselamatan mereka, Allah yang menjanjikan hiburan dan harapan. Allah bukanlah pertama-tama Allah yang menuntut, tapi Allah yang memberi. Dia memberi manusia suatu cara atau jalan baru untuk hidup, suatu jalan yang akan menyembuhkan keretakan yang terjadi dalam masyarakat manusia. Syarat yang mendasar dari semua pengajaran adalah bahwa kita harus tahu siapa diri kita. Dalam Kotbah di Bukit Yesus mengajarkan bahwa kita adalah putra-putri Allah.&lt;br /&gt;Kotbah di Bukit adalah perincian dari doa Bapa Kami. Doa itu terletak persis di tengah-tengah dari Kotbah di Bukit. Pengajaran-pengajaran Yesus dalam Kotbah di Bukit menjelaskan apa yang kita doakan. Yesus menunjukkan bagaimana hidup kita yang berdoa mengalami Allah sebagai Bapa kita.&lt;br /&gt;Permohonan pertama: “Dikuduskanlah namaMu” dijelaskan dalam Sabda Bahagia. Nama Allah dimuliakan, Allah dibuat nyata dalam kekudusanNya ketika umat manusia menjadi sehat dan utuh, ketika mereka mengalami kebahagiaan. Permohonan “Datanglah kerajaanMu” dijelaskan dalam ajaran tentang garam dan terang dunia (Mat 5.13-16). Kerajaan Allah menjadi kelihatan di atas bumi melalui hidup dan tingkah laku para murid. Selanjutnya dalam enam antitesis (Mat 5.21-48) Yesus menjelaskan kehendak Allah seperti yang sejak awal mula dikehendakiNya, yakni bila para murid menunjukkan cara hidup yang baru ini, kehendak Allah sungguh terlaksana bukan hanya di sorga tetapi juga di atas bumi. Permohonan tentang makanan yang secukupnya kemudian dijelaskan dengan menunjukkan soal berpuasa, memberi sedekah dan berdoa, dan seruan untuk tidak kuatir tetapi mempercayakan diri sepenuhnya dalam tangan rahmat Allah (Mat 6.1-34). Permohonan untuk pengampunan dosa memiliki kesejajaran dengan nasehat Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat 7.1). Dan permohonan supaya Allah jangan memasukkan kita ke dalam pencobaan tetapi membebaskan kita dari yang jahat, diuraikan dalam keterangan tentang nabi-nabi palsu yang menyesatkan kita (Mat 7.15-23). Sesungguhnya godaan bukanlah soal bahawa kita dikuasai oleh kekeliruan-kekeliruan dan kelemahan kita tetapi lebih merupakan kebingungan yang membuat kita tidak lagi tahu apa yang kita lakukan, dimana pikiran-pikiran dan perasaan kita semua tercampur aduk dan kita menjadi jauh dari Allah.&lt;br /&gt;Jika kita memahami pengajaran agung dari Kotbah di Bukit ini sebagai penjabaran dari doa Bapa Kami, kita akan sadar bagaimana Yesus memahami ajaranNya ini sebagai yang pokok. Dia tidak menyampaikan ajaranNya yang terdiri dari perintah-perintah yang harus kita turuti. Namun ajaranNya juga bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh tanpa ada konsekuensi bagi hidup kita. Tetapi ia mengandaikan suatu pengalaman baru, pengalaman bahwa kita adalah anak-anak Allah. Berdoa Bapa Kami dimaksudkan untuk menuntun kita kepada pengalaman baru ini.&lt;br /&gt;Doa membawa kita masuk ke kedalaman diri kita. Doa menjadi kesempatan kita mengalami Kristus sebagai Guru kita yang sejati. Bagi St. Agustinus, kesadaran ini membawa dia ke pemahaman tentang Yesus sebagai Guru batiniah. Ketika suatu kesadaran muncul dalam diri kita, kesadaran ini tidak disampaikan oleh guru dari luar tetapi oleh Kristus, Guru batiniah kita: ‘Kita mencari Guru itu, yang telah ditunjukkan dalam sabda Kitab Suci, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta mendasar di dalam kasih (Ef 3.18) sebagaimana kuasa Allah yang tak berubah dan kebijaksanaanNya yang abadi’ (St. Agustinus, De magistro 11.38). Menanggapi latar belakang dari kata-kata St. Agustinus ini, seorang teolog, Eugen Biser menulis sebuah buku yang berjudul The Inner Teacher. Yesus ada di dalam kita. AjaranNya bukanlah suatu system doctrinal, suatu rumusan kata-kata yang dapat diperdebatkan. Guru batiniah tidak memerlukan pembetulan dan bukan pula ajaran yang kaku tetapi suatu kesediaan untuk mendengar dorongan-dorongan dari dalam diri kita. Di situlah, di dalam hati kita, Yesus tinggal sebagai seorang Guru. Yesus sebagai Guru batiniah membuat kita ambil bagian dalam pengalamanNya sendiri, dalam apa yang Ia rasakan dan dalam apa yang Ia ketahui. Dia membuka mata kita untuk melihat apa yang Ia lihat.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah Anda mempunyai hubungan dengan Guru batiniah Anda? Apakah Anda mendengar “suara di dalam” yang menunjukkan jalan bagi Anda? Apa yang Yesus, guru batiniah Anda ingin ajarkan kepada Anda?Kesadaran baru apa yang muncul bagi hidup dan diri Anda, tentang Allah dan sesama, ketika Anda memandang Yesus sebagai Guru?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Bacalah Kotbah di Bukit sekali lagi dan meditasikan sabda Yesus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin, 30 Mei 2008.&lt;br /&gt; Dikutip dari Anselm Grün, Images of Jesus, p 127-129&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-4640139661598087350?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/4640139661598087350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=4640139661598087350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4640139661598087350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/4640139661598087350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2009/05/yesus-sebagai-guru.html' title='Yesus sebagai Guru'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-6198132622416203085</id><published>2008-07-15T22:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T22:56:45.281-07:00</updated><title type='text'>Apa yang bisa kita buat untuk Indonesia?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;(San Antonio, Agustus 2003)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Patriotisme dan semangat nasionalis menjadi istilah yang jarang terdengar sekarang di Indonesia. Sedangkan semangat kesukuan, otonomi daerah dan istilah “Putra Daerah” menjadi semakin didengung-dengungkan. Bermacam gerakan yang mendasarkan diri pada kelompok suku, agama dan kedaerahan muncul bagaikan jamur di musim hujan di mana-mana. Presiden Magawati mengingatkan bahaya perpecahan jika perbedaan yang ada semakin diperuncing. Akan berjalan ke manakah Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta?&lt;br /&gt;Mungkin kita bisa belajar dari Negara Amerika Serikat. Di samping banyak hal-hal negatif di negera ini, ada juga hal positif yang bisa kita hargai. Negara ini juga kurang lebih sama seperti kita, bangsa Indonesia, yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, mulai dari yang datang beberapa abad yang lalu sampai yang datang bulan lalu. Dengan cepat mereka menyebut dirinya African-american, Chinese-american, Mexican-american dan sebagainya … semua menjadi American dan memang dengan cepat pula mereka merasa diri sebagai bagian dari bangsa Amerika.&lt;br /&gt;Jika kita berjalan-jalan di lingkungan, setiap hari kita akan melihat bendera-bendera dipasang di rumah-rumah pribadi dan juga di mobil-mobil atau paling tidak ada stiker bendera atau pita dengan tiga warna merah-putih-biru, warna bendera Stars and Stripes. Demikian juga di jalan-jalan utama kita akan menemukan poster atau tulisan “God bless America”. Mulanya saya mendapat kesan ada semacam kesombongan dari tulisan itu, tapi semakin saya mengenal Amerika, saya menyadari bahwa tulisan tersebut merupakan doa dan harapan. Setiap orang yang membacanya seakan-akan berdoa: semoga Tuhan memberkati Amerika. Di setiap gereja yang saya kunjungi, selalu terdapat bendera di salah satu sudut di dalam Gereja, sendirian atau bersama bendera Vatican. Singkat kata, kita bisa melihat bagaimana bangsa ini mencintai Negara dan bangsanya.&lt;br /&gt;Pada tanggal 14 Juni setiap tahun merupakan Day Flag, yang bagi mereka menjadi kesempatan khusus untuk menghormati bendera dan menanamkan semangat kebangsaan. Tahun ini pada hari itu, sebuah perusahaan Catholic Life Insurance memasang sebuah bendara raksasa dengan ukuran 33.5 x 16.7 meter di gedung perusahaan mereka di San Antonio, Texas. Ukuran ini merupakan rekor nasional, menurut koran lokal.&lt;br /&gt;Bendera merupakan simbol kemerdekaan dan kebebasan individu bagi mereka. Bahkan jika kebebasan itu digunakan untuk membakar bendera itu sendiri sebagai unjuk rasa ketidakpuasan terhadap pemerintah hal ini masih bisa diterima. Sebaliknya suatu usaha untuk membuat undang-undang Flag Protection sudah empat kali dibatalkan oleh Senat. Dikatakan, cara yang pantas untuk menghormati bendera adalah dengan menolak rancangan undang-undang yang melarang pengunjuk rasa membakar bendera.&lt;br /&gt;Mengalami situasi seperti ini di Amerika Serikat, saya berhayal dan berandai-andai. Mencermati apa yang berkembang sekarang ini di Tanah Air, ketika rasa kesatuan sebagai satu Bangsa semakin memudar, ketika bahaya perpecahan mengancam, maka alangkah baiknya jika kita memulai suatu gerakan cinta Bangsa dan Tanah Air. Hayalan saya adalah bahwa gerakan ini merupakan suatu kebiasaan baru untuk menumbuhkan kembali rasa kebangsaan kita. Saya berhayal seandainya hal ini bisa dimulai dari Gereja kita, dari paroki-paroki dan kemudian menularkannya ke mana-mana; suatu gerakan seperti yang dicanangkan di Keuskupan Banjarmasin oleh Mgr. FX. Prajasuta MSF dengan gerakan Budaya Kasih. Tapi saya rasa hal ini tidak cukup jika hanya dicanangkan di Gereja, didoakan dan dinyanyikan dalam setiap kesempatan di lingkungan kita sendiri. Kita perlu sesuatu yang memasyarakat secara luas.&lt;br /&gt;Saya membayangkan gerakan itu sebagai suatu kebiasaan sederhana, seperti yang saya amati di sini, yaitu kebiasaan memasang bendera di kendaraan, seperti yang kita lakukan umumnya kalau kita merayakan HUT Proklamasi, tapi kali ini dilakukan sepanjang tahun. Di Palangkaraya saya mengenal Bapak Goris yang melakukan ini di vespanya. Kalau hal ini menjadi kebiasaan kita, paling tidak pada awalnya kita akan saling mengenal sebagai umat katolik, jika kita berpapasan di jalan dengan bendera di kendaraan kita. Saya berharap seandainya kebiasaan ini kemudian menular ke siapa saja yang melihatnya dan mengikutinya, apalagi jika didukung oleh pasar yang menjual bendera dan tongkat mini yang bisa di pasang pada jendela di bagian luar mobil atau di sepeda motor. Lalu khayalan saya hal ini akan menjadi budaya …semakin banyak orang menghargai bendera merah putih yang dengan sendirinya menjadi tanda cinta Bangsa dan Negara. Bendera merah putih dapat sungguh menjadi identitas kita.&lt;br /&gt;Ada ungkapan: semakin saya mengenal manusia, semakin saya mencintai anjing saya. Ungkapan ini memang bernada sinis terhadap sikap dan tingkah laku manusia. Tapi dengan hayalan saya di atas saya mau mengungkapkan: semakin saya mengenal bangsa-bangsa, semakin saya mencintai Indonesia. Dengan ungkapan ini saya mau menunjukkan rasa bangga saya sebagai bangsa Indonesia sekaligus rasa optimis dan harapan saya bahwa bangsa dan negara kita dapat semakin baik dan berkembang.&lt;br /&gt;Ketika saya masih bertugas di Madagascar pada tahun 1996, saya menempuh tiga hari perjalanan ke Tananarivo untuk mengikuti perayaan 17 Agustus di KBRI. Itulah ungkapan cinta saya terhadap Bangsa dan Negara Indonesia. Tetapi sesudah bermacam-macam gejolak terjadi di Tanah Air pada tahun 1999 saya berkesempatan berziarah ke Tanah Suci dan waktu itu kami bertemu dengan satu kelompok dari Negara lain, salah seorang dari mereka menanyakan: Kalian dari mana? Dengan rasa malu dan rendah diri saya menjawab: dari Indonesia. Tapi ini fakta. Baik buruknya Indonesia, itu adalah kita! Kita yang menentukannya. Kita bisa menghancurkannya tapi kita juga bisa membuatnya menjadi Negara yang dapat dibanggakan. Mari kita mulai, entah dengan cara bagaimana. Hayalan saya adalah suatu gerakan yang menjadi kebiasaan, suatu budaya yang memasyarakat luas.&lt;br /&gt;Menurut ajaran Gereja, iman yang hidup harus membudaya, artinya iman terwujud dalam bentuk suatu gaya hidup dan kebiasaan yang diwarnai oleh nilai-nilai agama (injili). Suatu gerakan cinta Tanah Air juga merupakan bagian dari perwujudan iman kita. Karena tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan rasa kesatuan, yang akhirnya akan menciptakan kedamaian yang menjadi syarat mutlak untuk perkembangan menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama. Kalau kita tidak memulai, siapa lagi yang kita harapkan? Kita tidak akan membiarkan keadaan menjadi semakin buruk. Kita ikut bertanggungjawab terhadap Bangsa dan Negara, juga jika kita tidak berbuat apa-apa. Maka sebelum terlambat mari kita melakukan sesuatu … sesuatu yang sederhana. Berhasil atau tidak, biarkan Roh yang berkarya. Kita melakukan apa yang dapat kita lakukan, selanjutnya Tuhan akan menyelesaikannya. Seandainya ada lagi bentuk lain yang dapat disumbangkan untuk memperkaya gerakan ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-6198132622416203085?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/6198132622416203085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=6198132622416203085' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6198132622416203085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/6198132622416203085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2008/07/apa-yang-bisa-kita-buat-untuk-indonesia.html' title='Apa yang bisa kita buat untuk Indonesia?'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-5434672038909845666</id><published>2008-07-15T22:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T22:03:19.533-07:00</updated><title type='text'>Iman dan Budaya (Masalah Inkulturasi)</title><content type='html'>Sudah semenjak jamannya Mgr. Soegijapranata dan bapak I.J. Kasimo disadari perlunya menjadi 100% katolik dan 100% Indonesia, suatu ungkapan untuk menghayati iman katolik di dalam dan sesuai dengan budaya kita Indonesia. Tetapi karena Indonesia itu begitu kaya dan luas, demikian juga budayanya, maka kalau kita berbicara tentang budaya dalam arti konkrit adalah budaya kita, entah itu di Jawa atau di Kalimantan atau di mana saja di Indonesia.&lt;br /&gt;Budaya adalah kenyataan hidup, sesuatu yang dinamis sebab budaya merupakan cara hidup kita (ways of life of living human persons). Budaya diwariskan, bukan secara genetic, melainkan melalui proses belajar dan meniru. Budaya tidak pernah “jadi” tetapi selalu “menjadi”, berproses dan sambil menyerap unsur-unsur baru dari kehidupan. Demikian juga inkulturasi iman selalu berproses dalam kenyataan hidup kita dan tidak pernah sampai pada akhirnya. Inkulturasi adalah suatu relasi dinamis antara pesan injili dengan budaya tertentu; suatu proses masuknya hidup Kristen ke dalam budaya; suatu proses berlanjut dengan saling menerima dan memberi, dengan penyesuaian dan saling terlibat secara kritis.&lt;br /&gt;Perlunya kesadaran berinkulturasi.&lt;br /&gt;Beberapa kali terjadi dalam hidup kita sebagai umat katolik, misalnya yang terjadi di Palangkaraya dan juga di tempat lain, ketika kita menghadapi situasi genting, situasi konflik, lalu tampaklah aslinya kita. Iman katolik bagaikan hanya di kulit, seperti pakaian yang bisa ditanggalkan sementara dan kembali ke “pakaian lama” yang dianggap dan dipercaya lebih efektif, lebih sakti, untuk menghadapi situasi genting tersebut. Jika semuanya sudah berlalu, kita kembali mengenakan pakaian katolik kita. Bukankah iman kita hanya sebatas kulit dan belum sungguh-sungguh masuk sampai ke tulang sum-sum? Karena itu saya ingin mengajak semua untuk menyadari betapa pentingnya proses inkulturasi ini, agar kita bisa menghayati iman kita dengan benar dan penuh suka cita. Proses inkulturasi bukan tugas Uskup dan para pastor, bukan juga tugas para ahli, melainkan tugas semua umat katolik. Karena proses inkulturas harus dimulai dari bawah, bukan didiktekan dari atas, maka peran para katekis di stasi-stasi menjadi sangat penting. Para katekis dianggap sebagai orang yang lebih dalam pengetahuannya mengenai iman katolik di kalangan umat dan sekaligus mereka adalah bagian dari umat itu sendiri yang menghayati dan hidup dalam budaya setempat.&lt;br /&gt;Beberapa penjelasan tentang proses inculturasi.&lt;br /&gt;Proses inkulturasi mengalami beberapa tahap. Pertama, tahap translation, yaitu tahap belajar Bahasa dan nilai-nilai budaya setempat sementara juga injil diterjemahkan ke dalam Bahasa setempat. Tahap ini adalah tahap saling mengenal dan memahami. Tahap kedua adalah tahap transformation. Sesudah mencapai taraf tertentu untuk memahami berbagai unsur dalam budaya lokal dan juga dalam menyampaikan pesan-pesan injil, maka dimulailah suatu proses yang panjang yang ditandai dengan discernment, purifikasi dan penemuan bentuk baru untuk mengungkapkan unsur-unsur dari tradisi Gereja. Tahap ketiga adalah tahap terbentuknya suatu komunio yang baru, yaitu kesatuan gereja local dengan budaya dan umat, dan pada saat yang sama, kesatuan ini terbuka untuk semua atau dengan kata lain: ia bersifat universal juga. Paus Johanes Paulus 2 memberi dua kriteria dasar untuk proses inkulturasi ini, yakni: selaras dengan Injil dan kesatuan dengan gereja universal.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi dalam proses inkulturasi.&lt;br /&gt;Proses inkulturasi dapat disamakan dengan proses masuknya seorang anak ke dalam budaya orang-tuanya. Pertama, Anak bertumbuh di dalam budaya. Ia menjalani proses belajar sampai seorang anak mampu hidup di dalam budayanya. Bagi gereja, tahap ini adalah waktu untuk menjalin ikatan dengan umat dan pada saat yang sama menghayati nilai-nilai kekatolikannya. Kedua, proses berlanjut ketika anak semakin mampu memahami setiap situasi dalam kehidupannya kemudian dan semakin mampu juga menyesuaikan cara hidup dan cara berfikirnya. Proses ini berlangsung seumur hidupnya dengan penyesuaian dan penemuan baru yang tidak pernah bisa dikatakan selesai. Suatu budaya adalah kenyataan hidup dan selalu dalam proses berubah. Katiga, ketika seorang anak sudah menjadi matang, ia sudah menguasi pola dasar dan nilai-nilai budayanya. Sekarang ia mampu untuk menghadapi bentuk dan aturan baru yang muncul dalam dirinya sebagai hasil dari kesadarannya yang berkembang dan kebebasanya yang makin besar. Ia sudah mempelajari bagaimana berfungsi di dalam budayanya dan sekarang ia dapat menghadapi situasi baru dengan hati dan pikiran yang lebih mandiri.&lt;br /&gt;Richard G. Cote OMI, membandingkan proses inkulturasi seperti apa yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Pertama, masa romantis, ketika laki-laki dan perempuan baru bertemu dan saling menerima. Mereka dikuasi oleh cinta yang membara dan sukacita. Pada tahap ini dalam proses inkulturasi, gereja mengesampingkan semua ketakutan akan ambiguitas dan sinkretisme, namun tetap menjaga ketat nilai-nilai moral dan ajaran dogma. Selanjutnya kedua pribadi masuk dalam perkawinan, keduanya saling memberi dan menerima dan secara publik mereka menyatakan harapan akan masa depan mereka bersama. Dalam proses inkulturasi, hal ini tiba saat iman dan budaya menyadari bahwa mereka sudah ada ikatan relasi yang dialami di dalam kebersamaan, saling memberi dan menerima; ditandai dengan tanggungjawab dan pengorbanan. Dan semuanya itu dijalani demi satu harapan akan masa depan yang lebih baik. Mereka akan menemukan satu terhadap yang lain itu sebagai pribadi yang unik dan sederajat. Hakekat dari misi tidak lagi disamakan dengan penyebaran agama melainkan kemampuan utk melihat tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah di dalam budaya dengan tuntunan Roh Kudus. Gereja akan lebih kreatif menghargai “hubungan sacramental” antara liturginya dengan kehidupan budaya. Ketiga adalah tahap ketika perkawinan sungguh-sungguh menjadi sakramen bagi gereja dan Gereja sendiri menjadi sakramen begi dunia. Perkawinan menampakan hubungan Kristus dengan Gerejanya dan Gereja memperlihatkan rahmat Allah yang berkarya di dunia.&lt;br /&gt;Apa yang dapat kita lakukan?&lt;br /&gt;Iman yang hidup adalah iman yang membudaya. Karena hidup kita adalah budaya kita. Tantangan bagi kita umat katolik adalah bagaimana membuat hidup ini sungguh-sungguh berciri katolik, bukan hanya segi lahiriah tetapi sesuatu yang lahiriah sebagai ungkapan yang batiniah, iman dan kepercayaan kita.&lt;br /&gt;Salah satu contoh, kita bisa belajar dari saudara-saudara kita kaum Muslim dalam hal menggunakan kata: Bissmillah. Hal ini sudah menjadi budaya mereka, setiap kali mereka mau memulai sesuatu, seperti naik ke bus, menstater mobil dan lain sebagainya. Kita juga mempunyai bissmillah yaitu dengan tanda salib. Tapi masih banyak orang katolik yang malu atau segan atau malah takut membuat tanda salib di tempat umum. Kalau mereka makan di restoran, mereka membuat tanda salib di bawah meja, atau tanda salib sekecil 2 cm di dada.&lt;br /&gt;Tantangan bagi para katekis di stasi-stasi atau di pedalaman, seperti di Keuskupan Palangkaraya, adalah bagaimana mereka bisa mencari bentuk penghayatan iman katolik dalam dituasi dan budaya mereka sehingga “kegiatan katolik” bukan hanya waktu misa atau waktu kumpul rosario saja. Misalnya, hiasan di rumah, selain salib dan gambar santo-santa: di beberapa tempat lain, orang katolik menempatkan patung Bunda Maria di halaman rumah; kebiasan doa bersama dalam keluarga. Bagaimana mengungkapkan iman kita dalam situasi atau kesempatan-kesempatan tertentu: membuka ladang, panen, mendirikan rumah dll. Di salah satu keuskupan di Madagaskar, mereka mempunyai suatu pesta panen yang sudah menjadi katolik. Dalam perayaan itu mereka membawa hasil panen mereka untuk dipersembahakan dalam perayaan ekaristi. Sesudah Ekaristi mereka berpesta dengan nyanyian dan tari-tarian. Hasil panen tersebut kemudian diberikan kepada katekis dan sebagian dibawa pulang pastor untuk kegiatan pertemuan/pembinaan rutin bagi para katekis. Mereka mengenal full-timer katekis, yang disebut visiteur, yang tidak bekerja di ladang tetapi berkeliling mengajar, mempersiapkan penerimaan sakramen perkawinan dan komuni pertama dan membina katekis lokal; dan mereka digaji oleh keuskupan dengan sangat terbatas, sehingga umat mendukung hidup katekis dengan membawa hasil panen setahun sekali.&lt;br /&gt;Sekali lagi saya menekankan pentingnya peran para katekis dalam usaha inkulturasi ini. Mereka harus jeli mengamati (melihat dan mendengar) budaya setempat, menghargai nilai-nilai yang mau diungkapkannya dan menyelaraskannya dengan penghayatan iman katolik. Dengan bekerja sama dengan pastor paroki, kemudian mereka dapat membicarakannya bersama sesama katekis di satu dekenat yang sewarna, lalu dalam pertemuan keuskupan apa yang mereka temukan sebagai pengalaman dapat dibagikan, untuk dicermati, dievaluasi dan diteguhkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-5434672038909845666?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/5434672038909845666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=5434672038909845666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5434672038909845666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/5434672038909845666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2008/07/iman-dan-budaya-masalah-inkulturasi.html' title='Iman dan Budaya (Masalah Inkulturasi)'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9074666791207010711.post-3307534268438993414</id><published>2008-07-15T21:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T22:00:42.458-07:00</updated><title type='text'>The Method and Process of Inculturation</title><content type='html'>Cultures are living realities because they are the ways of life of living human persons. They are inherited but never fixed, ever in motion and experiencing new infusions of life. So, too, is the process of inculturation of faith within a given way of life. That is why it is so necessary that appropriate care be given to nourishing the life of faith within one’s culture.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The relation between the Church and Cultures has developed in many ways in many countries along the history of the Church. Gerald A. Arbuckle, SM divided the Church’s interaction with the Culture in two periods:&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;-         Evangelization and Cultures to Vatican II: from flexibility to in flexibility&lt;br /&gt;-         Evangelization and Cultures since Vatican II: ‘inculturation’ re-emerges&lt;br /&gt;In the late nineteenth century, there were efforts to replace the European-centred cultural and individual/soul-oriented model of missionary action. People were now encouraged to reflect  on human nature and society as a way of discovering key insights about life and culture, even about the divine nature itself. During this period, the terms ‘adaptation’, ‘accommodation’ and ‘indigenization’ became familiar in missionary writings, together with vigorous written support for the rights of people to maintain their own cultures.&lt;br /&gt;Vatican II gave the foundation for inculturation, even though the term itself emerged in 1970s. Vatican II said that the object of evangelization is the whole person, soul and body.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Salvation is not a matter of individual but of community. ‘Evangelizers must raise up congregations of the faithful’ who ‘everyday must become increasingly aware and alive as communities of faith, liturgy and love’,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; and the oneness of the Catholic Church is understood not as a uniformity but as a fraternity of local churches ‘each of which seeks to give life to universal Church, in accordance with the native genius and traditions of its members’&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;; because God has been active in every culture and there must be ‘a living exchange between the Church and the diverse cultures of people’.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  So what is inculturation? It is the dynamic relation between the Christian message and culture or cultures; an insertion of Christian life into a culture; an ongoing process of reciprocal and critical interaction and assimilation between them.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;How is the process happening? There are three moments that Arij Roest Crollius mentioned in his 1991 working paper: What is new about Inculturation that can be characterized: as translation, assimilation and transformation. “The entire process of inculturation is one of integration, both in the sense of an integration of the Christian faith and life in a given culture and of the integration of a new expression of the Christian experience in the life of the universal Church.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; In another paper of “Inculturation,” Following Christ in Mission (1996) Arij Roest gave a little difference of the three stages of inculturation process. The first stage is the translation, a period of learning the values of the new culture; the second stage is the stage of transformation, after having gained sufficient ability in understanding the various elements of the local culture and also a degree of competence in expressing the Christian message on various levels of this culture. This second stage is signified by a long process of discernment, purification and creation of new forms to adequately explain and express elements of the Church’s tradition. The third stage begins with the establishment of a new communion, the communion of the local church with the culture of its people and at the same time this communion opens itself to all humanity.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Pope John Paul II gives two basic criteria for inculturation. Inculturation must be “compatible with the Gospel and communion with the universal church.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;            What happened in a process of inculturation? Arij Roest makes an analogy between Inculturation and Enculturation. They are different but they have also some similitude. Enculturation is a process of an individual becomes inserted into his own culture. The difference is the individual does not yet have a culture. In inculturation, the Church has already linked with elements of another culture(s). But several points of resemblance in both concepts can help us to see the process of inculturation.&lt;br /&gt;The growth into one’s culture. This is the learning process which a person achieves competence in his culture. For the Church, it is a time for seeking to establish with the people and at the same time to live in virtue of their catholicity.&lt;br /&gt;An ongoing process. A more comprehension of every situation in later life and makes adjustments in ways of thinking and acting. The process continues throughout life with exploration and assimilation that never be said to have reached its fulfillment. A culture is a living reality, in a continuous process of change. The changes that take place in the local culture, in its customs and values, represent new choices for the Church.&lt;br /&gt;Cultural stability and change. In this stage, a man has become accustomed to the basic patterns and values of his own culture. He grows to maturity and now he can confront the new norms and forms of culture that present themselves to him with an increased degree of reflection and a greater freedom of choice. Because he has learned how to function within his culture, he can meet these new situations with a more independent mind.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Richard G. Cote, O.M.I.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; compares metaphorically the process of Inculturation with what happened in a marriage. Quoting St. Thomas Aquinas, he writes “theology ought to be expressed in a manner that is metaphorical, that is, symbolic or parabolic.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Along with a journey of a marriage He gives the three-phase structure of inculturation that happened in the Catholic Church of America:&lt;br /&gt;The phase of courtship and acceptability. This is the romantic phase when the two individuals accept one another with passionate love and joy. In this phase of the inculturation process, the Church must put aside the fear of ambiguity and syncretism, as well as its insistence on excessive purity in both moral and doctrinal matters.&lt;br /&gt;The phase of Ratification. When two individuals publicly make a public statement about their hope in a future together. In the process of inculturation, this coming together of faith and culture in wedded hope in companionship, helpfulness and obligingness. They will come to discover one another as unique subjects, equal in dignity and equally transcendent. The missionary essence of the church is not to liken faith with religious expediency but to be able to read the signs of God’s Kingdom in its local cultural environment, by the guidance of the Holy Spirit. The Church can be more creative in appreciating the “sacramental connection” between its own liturgy and the cultural life of a given society, between its own symbol system and the mobilizing symbols that gave rise to Culture.&lt;br /&gt;The Phase of Establishment.  In this phase the nuptial metaphor suggests marriage as the “sacrament of the church” and the church can be called the “sacrament of the world”. The Church shows the world that God’s grace already operative within it.&lt;br /&gt;In his speech in Hong Kong, Cardinal Ratzinger said, “we should no longer speak of inculturation but of the meeting of cultures or ‘interculturality,’ to coin to a new phase.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; If cultures are opened to each other in dialogue, they can be mutually enriched. This “can be only the shared truth about man, which necessarily brings into play the truth about God and reality as a whole.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; In and through the dialogue, the diversity of cultures reveals itself as a synthesis of inalienable originality and communicable universality.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; The activity of dialogue is expressed in many ways. The document Dialogue and Proclamation sums up the principal forms of dialogue.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bibliography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arbuckle, Gerald A., Earthing the Gospel, An Inculturation Handbook for Pastoral Worker. Maryknoll, Orbis Books, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azevedo, Marcello de Carvalho S.J., Inculturation and the Challenges of Modernity. Rome, Pontifical Gregoriana University, 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Costa, Ruy O. (Ed), One Faith, Many Culture. Inculturation, Indigenization, and Contextualization. Maryknoll, Orbis Books, 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cote, Richard G. O.M.I., Re-Visioning Mission, The Catholic Church and Culture in Postmodern America. New York, Paulist Press, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flannery, Austin O.P. (Ed), “Liturgy” in Vatican Council II. Collegeville, The Liturgical Press, 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flannery, Austin O.P. (Ed), “Missionary Activity” in Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flannery, Austin O.P. (Ed), “The Church in the Modern World” in Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Paul II, Redemptoris Missio, Desember 7, 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karotemprel, S. (Chief Ed.), Following Christ in Mission. Boston, Daughters of St. Paul, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratzinger, Cardinal, “Christ, Faith and the Challenge of Cultures” in Origin, March 30, 1995. p. 679-686.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roest Crollius, Arij A., (Ed), Building the Church in Pluricultural Asia. Rome, Pontifical Gregoriana University, 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roest Crollius, Arij A. S.J. and Nkeramihigo, T. S.J., What is so new about Inculturation. Rome, Pontifical Gregoriana University, 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuhaus, Cassian, O.P. (Ed), The Catholic Church and American Culture. Mahwah, Paulist Press, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Donald S. Nesti, C.S.Sp., “Preface” in Cassian Yuhaus, C.P. (Ed), The Catholic Church and American Culture (New York, Paulist Press, 1990) p.viii-ix.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Gerald A. Arbuckle, S.M., Earthing The Gospel (New York, Orbis Books, 1990), p. 9-22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; See “The Church in the Modern World” in Autin Flannery, O.P. (Ed), Vatican Council II (Collegeville, The Liturgical Press, 1992) p. 914.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; See “Missionary Activity” ibid, p. 829.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; See “Sacred Liturgy” ibid, p. 13-15.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; See “The Church in the Modern World” ibid, p. 962-963.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Marcello de Carvalho Azevedo, S.J., Inculturation and the Challenges of Modernity (Roma, Centre “Cultures and  Religions” – Pontifical Gregorian University, 1982), p. 11.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Arij Roest Crollius, S.J. “What is so new about Inculturation” (Roma, Centre “Cultures and Religion” – Pontifical Gregorian University, 1991), p. 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Arij Roest Crollius, S.J. “Inculturation” in  Following Christ in Mission (Boston, Daughters of St. Paul, 1996) p. 152-153.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Redemptoris Missio, 54&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Arij Roest Crollius, S.J., “What is so new about Inculturation” – p. 7-13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Richard G. Cote, Re-Visioning Mission, The Catholic Church and Culture in Postmodern America (New York, Paulist Press, 1996) p. 53-67.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Idem, p. 53. In I Sent. Prol., q.I, a.v.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Cardinal Ratzinger, “Christ, Faith and the Challenge of Cultures” (in Origins, March 30, 1995) p. 681 col. 1.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Idem, p. 681 col. 3.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Arij Roest Crollius, S.J., “Inculturation and the Meaning of Culture” (in What is so new about Inculturation) p. 50.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=9074666791207010711#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Marcello Zago, O.M.I., “Interreligious Dialogue” (in Following Christ in Mission), p. 142.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9074666791207010711-3307534268438993414?l=romofut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romofut.blogspot.com/feeds/3307534268438993414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9074666791207010711&amp;postID=3307534268438993414' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/3307534268438993414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9074666791207010711/posts/default/3307534268438993414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romofut.blogspot.com/2008/07/method-and-process-of-inculturation.html' title='The Method and Process of Inculturation'/><author><name>romofut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15311504446255462727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-AZO91X1JQvw/Twb_n-lNtUI/AAAAAAAAAHQ/hR3aP2USDdU/s220/Matras%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
